Luar Negeri
Peternak Babi China Menangis, Alami Kerugian Besar setelah Mata Pencahariannya Hanyut oleh Banjir
Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama sepekan, telah membuat para peternak babi mengalami kerugian besar.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Safriadi Syahbuddin
SERAMBINEWS.COM, HENAN – Banjir besar yang melanda provinsi Henan, China telah melumpuhkan aktivitas wilayah tersebut.
Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut selama berhari-hari, telah membuat para peternak babi mengalami kerugian besar.
Peternak babi, Cheng hanya bisa meratapi hewan-hewanya mati karena banjir.
Tak ada yang bisa dia katakan selain hanya pasrah setelah mata pencahariannya itu mati dan hanyut dibawa banjir.
Chen mengarungi banjir setinggi lutut, menarik babi mati satu per satu dengan tali dan menumpukkan bangkai babi yang membengkak untuk dibuang.
Baca juga: Seusai Banjir Bandang, Topan Hajar China, Olimpiade Tokyo Juga Terancam
Baca juga: Reporter Jerman Lumuri Tubuh Dengan Lumpur Sebelum Laporan Berita Banjir, Ini Akibat Begitu Ketahuan
Lebih dari 100 babi milik Cheng hanyut dan mati dalam banjir yang melumpuhkan provinsi Henan.
Mereka kini dibayang-baying oleh kehidupan yang suram saat mata pencahariannya tak tersisa satupun.
"Saya menunggu sampai ketinggian air turun untuk melihat apa yang harus dilakukan dengan babi yang tersisa," kata Chen, dikutip dari Reuters, Selasa (27/7/2021).
Ia merupakan seorang peternak berusia 47 tahun dari desa Wangfan, Kota Xinxiang, Henan.
"Mereka (babi) sudah tenggelam selama beberapa hari dan tidak bisa makan sama sekali. Saya berpikir tidak satu babi pun akan tersisa," ujarnya.
Cheng adalah satu dari ribuan peternak babi di Henan, daerah yang terkenal dengan peternakan dan produksi daging babi.
Provinsi ini dilanda hujan lebat pekan lalu yang memicu banjir bandang terburuk dalam berabad-abad, mengejutkan banyak orang.
Baca juga: Banjir Bandang Terjang Uni Eropa, Jerman Barat Alami Dampak Paling Parah
Baca juga: Korban Tewas Banjir Bandang di Jerman-Belgia Bertambah 93 Orang, Ribuan Orang Hilang
"Dalam sekejap (itu semua hilang), kami sekarang tidak memiliki cara untuk bertahan hidup. Kami tidak memiliki keterampilan lain. Kami tidak memiliki uang lagi untuk memelihara babi lagi," kata Cheng.
"Ini seolah-olah langit telah runtuh," sambungnya.
Di seluruh desa, di mana sebagian besar dari 3.000 penduduk lainnya juga memelihara babi atau ayam atau menanam gandum.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/banjir-parah-dan-tanah-longsor-melanda-henan-china.jpg)