Kamis, 23 April 2026

Kaki Putus Kena Pisau Babat

Begini Kondisi Kaki Petani Subulussalam yang Putus Tersambar Mesin Potong Rumput

Perawatan itu setelah pergelangan kaki kanannya putus akibat tersambar mesin pemotong rumput saat lakukan aktivitas potong di jalan dekat kebunnya

Penulis: Khalidin | Editor: Mursal Ismail
FOR SERAMBINEWS.COM
Jaman Lingga (48) salah warga Desa Dusun Aman, Desa Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam dirawat di Rumah Sakit setelah kaminya putus akibat terkena mata pisau babat, Jumat (30/7/2021). 

Atas musibah itu, AB terancam lima tahun lima tahun penjara atau dijerat Pasal 359 KUHPidana.

Saat itu, AB sedang membersihkan kebunnya menggunakan mesin pemotong rumput.

Salah satu bagian pisau pemotong rumput terlepas dan terbang mengenai lengan Anna Mutia, mengakibatkan lengan sang perawat yang sedang mengendarai sepeda motor itu, putus total.

Kepergian Anna Mutia untuk selamanya ini meninggalkan seorang anak dan seorang suami bernama Fajri.

Dua Insiden Sebelumnya

Setelah kasus Anna Mutia terungkap, mulai lah terungkap satu persatu kasus kecelakaan karena lepasnya pisau potong rumput dari ujung tongkat mesin pemotong rumput.

Sembilan bulan lalu, kejadian serupa menimpa Fakhrurrazi (29), warga Desa Meunjee Peut, Kecamatan Meurah Mulia Aceh Utara.

Akibat kejadian ini, Fakhurrazi kehilangan kaki sebelah kiri, karena harus diamputasi setelah hampir putus terkena potongan masa pisau mesin pemotong rumput.

“Kejadian pada hari Sabtu 18 April 2020, di Baree Blang Kecamatan Meurah Mulia,” ungkap Muhammad Daud, Staf Khusus Anggota DPR RI asal Aceh, H Sudirman alias Haji Uma, kepada Serambinews.com Rabu (6/1/2021).

Daud mengatakan, saat kejadian Fakrurrazi membabat belukar di kebun miliknya dengan mesin.

Tiba-tiba sebuah benda keras dan tajam menghantam kaki sebelah kiri.

Fakhurrazi pun tersungkur dengan kaki sebelah kiri mengucurkan darah.

Ia melihat pergelangan kaki kirinya hampir putus tersambar mata pisau potong rumput yang patah yang berkelebat secepat kilat menebas kaki kirinya.

Warga yang mendengar teriakan minta tolong, segera mengevakuasi Fakhrurrazi ke RS Cut Mutia Lhokseumawe.

Beberapa jam kemudian, Fakhrurrazi dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh.

“Kakinya harus diamputasi, karena tidak mungkin disambung lagi,” ujar Muhammad Daud.

Di Aceh Tamiang

Insiden patahnya pisau potong rumput juga diceritakan oleh Anggota DPR Aceh, Asrizal H Asnawi.

“Kejadian ini sekitar tahun 2013 di kampung saya di Paya Ketenggar, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang. Korbannya adalah Usman (50). B

eliau meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit,” kata Asrizal kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Rabu (6/1/2020).

Asrizal bercerita, kejadian yang merenggut nyawa Usman ini hampir sama seperti kejadian yang merenggut nyawa Anna Mutia, perawat di Aceh Barat Daya.

Kala itu, Usman sedang menggarap sawahnya.

Ia tak pernah menyangka, deru mesin potong rumput yang tak jauh dari tempatnya berada akan menjadi maut baginya.

Sebilah pisau yang sedang berputar tajam di ujung mesin potong rumput milik petani yang bekerja tak tauh dari Usman, terlepas dan berkelebat di udara.

Tak sempat tahu, potongan pisau itu menancap di wajah Usman yang kemudian tersungkur ke tanah.

Warga yang mendengar teriakan minta tolong, langsung mengevakuasi Usman ke rumah sakit Langsa dengan menggunakan mobil milik ayah Asrizal.

Namun, ajal menjemput Usman dalam perjalanan ke RS.

Harus Dilarang

Asrizal H Asnawi mengatakan, kasus yang menimpa Anna, Fakrurrazi, dan Usman, adalah hanya segelentir kasus kecelakaan akibat mata pisau potong rumput yang terungkap ke publik.

Ia meyakini, kasus serupa juga terjadi di beberapa daerah.

Tapi tak menjadi konsumsi publik karena biasanya diselesaikan secara kekeluargaan.

“Insiden terakhir yang menimpa Anna Mutia hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tidak lagi memakai alat kerja yang membahayakan diri sendiri dan orang lain,” kata Asrizal H Asnawi.

Ia berharap, pihak berwenang mengeluarkan aturan yang melarang penggunaan mata pisau pada mesin pemotong rumput.

Apalagi, kata dia, mata pisau yang digunakan sekarang kualitasnya tidak bagus dan mudah patah.

“Atau seharusnya ada standar keamanan yang tinggi bagi produsen mata pisau potong rumput ini. Bukan dijual dengan bebas di pasar online dengan tanpa memperhatikan kualitas logam dan ikatan pada gagangnya,” ujar Asrizal.

“Sebaiknya mata pisau ini tidak digunakan lagi dalam membabat rumput. Tapi bisa menggunakan senar atau tali pancing yang ukuran besar. Kalau untuk memotong semak yang lebih keras, maka bisa dilakukan secara manual atau mesin yang benar-benar aman,” pungkas Asrizal.

Asrizal juga menuliskan kisah kecelakaan akibat penggunaan mata pisau di kampungnya.

Ia memberikan tulisannya itu dengan judul "Pisau Mesin Babat Maut”. (*)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved