Dua Nelayan Semalam Mengapung di Atas Fiber Ikan , Ekses Boat Ditabrak Kapal Barang
KM ‘Dek Rita’ rusak berat ditabrak kapal pengangkut barang di perairan Aceh Barat yang jaraknya sekitar 10 mil dari bibir pantai Meulaboh
MEULABOH - KM ‘Dek Rita’ rusak berat ditabrak kapal pengangkut barang di perairan Aceh Barat yang jaraknya sekitar 10 mil dari bibir pantai Meulaboh. Dua nelayan dalam kapal 8 GT itu berhasil selamat dari maut setelah mengapung di atas fiber ikan sejak kejadian pada Senin (9/8/2021) sekitar pukul 21.00 WIB hingga Selasa (10/8/2021) sekitar pukul 11.00 WIB.
Kedua nelayan yang saat itu secara mencari ikan adalah Nurullah (47), warga Pasi Mesjid, Kecamatan Meureubo, yang bertindak sebagai kapten kapal, dan Nazaruddin (48), warga Desa Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, yang bertindak sebagai anak buah kapal (ABK). Sementara kapal yang menabrak kapal nelayan itu yang melarikan diri dari lokasi kejadian diduga milik salah satu perusahaan di daerah tersebut.
“Kita minta penegak hukum menangkap kapal yang menabrak kapal nelayan kami untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” kata Koordinator Panglima Laot Aceh Barat, Irfandiyanto alias Berong, kepada Serambi, Rabu (11/8/2021). Ia juga meminta pihak perusahaan atau pemilik kapal yang menabrak kapal nelayan untuk bertanggung jawab, mengatasi dua nelayan yang luka, serta mengganti rugi kapal nelayan yang rusak berat dan alat tangkap yang hilang/hancur dalam insiden tersebut.
Kapal nelayan yang rusak berat itu diperkirakan bernilai Rp 700 juta lebih. Selain bodi kapal yang hancur, semua peralatan tangkap hilang di lokasi kejadian. Kapten kapal dan ABK-nya juga terluka
Selama satu malam mereka terkatung-katung di laut dan untuk menyelamatkan diri mereka mengapung di atas fiber ikan.
Kedua nelayan yang terapung di laut tersebut awalnya ditemukan oleh salah satu nelayan di kawasan perairan tersebut saat mencari ikan dengan kondisi sedang mengapung di atas fiber ikan. Lalu, mereka diselamatkan pada Selasa (10/8/2021) sekitar pukul 11.00 WIB.
Nazaruddin (48), yang ditemui Serambi, kemarin, menceritakan, pada Senin (9/8/2021) malam sekitar pukul 21.00 WIB saat mereka berada di lokasi kejadian terjadi angin kencang, sehingga mengembangkan layar dan mematikan mesin kapal. Tiba-tiba, sebut Nazaruddin, kapal yang ditumpanginya bersama Nurullah ditabrak oleh kapal pengangkut barang atau material. Sehingga kapal tersebut rusak berat dan tenggelam.
“Kami sempat memegang fiber ikan agar tidak tenggelam untuk bisa mengapung, dan pada siangnya ada nelayan yang lewat sehingga kami meminta bantuan,” ungkap Nazaruddin. Menurunya, kapal pengangkut barang yang menabrak kapal mereka setelah kejadian langsung menghilang.
Sementara pada Rabu (11/8/2021), bakai KM Dek Rita ditarik ke darat oleh kapal nelayan lainnya.
Bangkai kapal tersebut diselamatkan sebagai barang bukti dalam insiden penabrakan tersebut. “KM Dek Rita yang hancur tersebut sekarang sudah berada di darat sebagai barang bukti, dan kapal itu sama sekali tak bisa pakai lagi,” ungkap Berong.
Dikatakan, pihaknya sudah mengetahui ciri-ciri kapal yang menabrak kapal nelayan tersebut. Menurut Berong, pihaknya sudah mendatangi pihak berwenang yang menangani soal kapal tersebut. Namun, mereka pura-pura tidak tahu tentang aktivitas keluar masuk kapal di daerah tersebut. “Kami juga sudah melaporkan kejadian ini ke beberapa pihak terkait seperti kepolisian,” pungkas Irfandiyanto.
Sempat distop
Sementara itu, badai yang berkecamuk di laut Aceh Singkil pada Rabu (11/8/2021), sempat menyebabkan pelayaran ke Kepulauan Banyak, distop sementara. Warga dari daratan Singkil yang hendak pulang dari Pulau Banyak, harus menunda pelayaran akibat gelombang tinggi serta hujan.
Awan gelap yang menutup pandangan juga membahayakan pelayaran. Serambi yang ikut menumpang boat menuju Pulau Banyak, merasakan dampak dari amukan ombak.
Dalam perjalanan, boat berulang kali terhempas ombak. Boat kayu itu juga berkali-kali miring ke kiri dan ke kanan, sehingga mengocok perut. Setelah berjuang sekitar empat jam, boat berhasil merapat ke Pulau Balai, ibu kota Pulau Banyak. Ketika hendak kembali ke Singkil, cuaca semakin memburuk, sehingga harus bertahan di Pulau Banyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kapal-nelayan-ditabrak-di-laut-aceh-barat.jpg)