Breaking News:

16 Tahun Damai Aceh

Eks Panglima GAM Wilayah Linge: 16 Tahun Damai, Aceh Ibarat Batu Pecah Seribu, Hilang Kasih Sayang

Kalau kita bandingkan zaman konflik dengan Aceh hari ini, ibarat batu sudah pecah seribu. Hubungan antara sesama orang Aceh semakin renggang. Rasa kas

Penulis: Asnawi Luwi | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Abu Doto (Zaini Abdullah), Wali Hasan Muhammad Ditiro, Mike Griffiths warga Negara New Zealand dan, mantan Panglima GAM Wilayah Linge, Fauzan Azima (kanan), berfoto bersama. 

Laporan Asnawi Luwi |Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Mantan Panglima GAM Wilayah Linge, Fauzan Azima atau Teuku Gajah Putih, menyatakan, dalam refleksi 16 tahun damai Aceh, tidak ada kalimat yang paling pantas diucapkan, kecuali rasa syukur kepada Allah.

"Dalam sumpah kami, nyawa, harta dan keluarga telah kami hibahkan untuk Aceh. Penyerahan diri kepada Allah dengan penuh rasa ikhlas kalau sewaktu-waktu tertembak oleh senjata musuh pun telah kami lalui. Alhamdulilah, sampai saat ini kami masih bisa menyaksikan sejarah perjalanan bangsa dengan segala problematikanya," ujar Fauzan Azima dalam rilisnya kepada Serambinews.com, Minggu (15/8/2021).

Perjanjian damai RI-GAM yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinky, Finlandia bagi kami setidaknya sebagai perpanjangan usia harapan hidup yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

Refleksi 16 Tahun MoU Helsinki, Begini Tanggapan Ketua Forum Pemuda Aceh 

Keselamatan hidup adalah hal yang utama dan terutama meskipun sudah siap dan rela mati demi Aceh tanah mulia.

Kata Fauzan, pasca damai Aceh, dalam perjalanan hidup, tentu ada harapan dan keinginan. Tidak saja untuk pribadi yang mulai dari nol dalam menata hidup dan kehidupan yang lebih baik, tetapi juga harus ada cita-cita untuk masa depan Aceh.

Menurutnya lahirnya implementasi MoU Helsinki, yakni UUPA adalah “setengah” dari merdeka. Sayangnya, tidak dimanfaatkan dengan maksimal.

"Kita terlalu lama larut dalam euforia, sehingga lupa tugas utama mensejahterakan masyarakat yang sudah terlalu lama hidup dalam konflik," tukasnya.

Mantan Kombatan GAM dan Eks Tapol di Aceh Timur Dapat Lahan 2 Hektare, Implementasi MoU Helsinki

Semangat dari MoU dan UUPA adalah kepemilikan dan pengelolaan SDA agar kelak tidak ada lagi bahasa: “Kita dapat perang, minyak dan gas alam kita diambil orang.”

"Kalau kita bandingkan zaman konflik dengan Aceh hari ini, ibarat batu sudah pecah seribu. Hubungan antara sesama orang Aceh semakin renggang. Rasa kasih sayang telah hilang. Bata-bata kebencian disusun untuk semakin berpuak-puaknya Aceh," ujarnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved