Opini
Ketika Almamater Memanggil
ALMAMATER secara harfiah bermakna ibu susuan yaitu diambil dari kebiasaan para orang tua di Yunani dalam mengisi waktu luang
Oleh Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si., Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala dan Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Aceh
ALMAMATER secara harfiah bermakna ibu susuan yaitu diambil dari kebiasaan para orang tua di Yunani dalam mengisi waktu luang untuk mengajak anaknya mengunjungi tempat yang mempunyai nilai pendidikan. Waktu yang digunakan secara khusus untuk belajar bagi anak-anak mereka diserahkan atau dititipkan kepada seseorang yang dianggap bijaksana pada suatu tempat tertentu.
Di tempat itulah, dengan bimbingan orang yang bijaksana (pintar) anak-anak dapat belajar, bermain maupun berlatih melakukan sesuatu sebagai bekal untuk menjalankan kehidupan orang dewasa nantinya. Tempat ini menjadi ‘scola in loco parentis’ yaitu lembaga pengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti ayah dan ibu mereka. (wikipedia)
Almamater sering juga disebutkan sebagai orang tua kedua yang membentuk karakter agar dapat beradaptasi dalam mengarungi kehidupan nyata dengan berbagai tantangan. Berbekal ilmu dan kepribadian yang telah ditempa itulah menjadi modal utama dalam mengarungi kehidupan untuk menggapai kesuksesan pada setiap tahapan yang akan dilalui.
Peran yang begitu besar yang dicurahkan oleh almamater, membuat keterikatan moral yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan para alumninya. Sering sekali ingatan tertuju pada masa-masa indah dalam proses pembentukan watak dan kepribadian. Walau umur sudah sepuh, rasa rindu untuk mengenang masa indah di kampus sering tergoreskan dan sukar untuk dihapus. Bahkan tindakan konyol yang pernah dilakukan menjadi pelajaran yang berharga dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Itulah romantika dalam proses pendewasaan yang dibentuk oleh almamater.
Ketika almamater memerlukan tenaga dan pikiran alumninya, maka tidak ada alasan yang dapat dikemukakan untuk tidak memenuhi panggilan mulia tersebut. Dimana panggilan yang dilayangkan merupakan salah satu tindakan agar proses pembentukan karakter dan ketrampilan untuk membangun peradaban tidak terhenti. Apalagi pengabdian yang ditugaskan untuk membangun jiwa raga pada suatu tempat sudah selesai dijalani, maka sangat pantas untuk mewakafkan potensi yang pernah dibekali almamater untuk dapat dimanfaatkan lebih optimal pada tempat yang membutuhkan.
Tindakan yang bijak apabila almamater mampu memantau alumninya untuk rotasi profesi atau pengabdian apabila dimungkinkan pada tempat baru sebagai refresing atau menciptakan nuansa kerja baru agar lebih optimal pemanfaatan potensi diri dan mengeplor untuk kebajikan serta kemajuan bangsa dan negara.
Sepertihalnya yang kami rasakan, saat selesai menguji promosi doktor salah seorang mahasiswa terbaik Universitas Syiah Kuala (USK), Dekan Fakulktas Ekonomi dan Bisnis (FEB) almarhum Profesor Nasir Azis di depan Rektor USK Profesor Samsul Rizal meminta kepada kami untuk bergabung memperkuat jajaran tenaga pengajar di FEB-USK. Permintaan yang amat mulia tersebut membuat hati tergetar di relung yang dalam disertai keharuan.
Jangankan berfikir untuk menolak, mengenang panggilan mulia almamater tersebut sudah menjadi kebahagiaan yang amat luar biasa. Ajakan tersebut, bila kita resapi lebih mendalam memiliki nilai yang tinggi serta memiliki kesempatan untuk berbuat lebih optimal terhadap pembelajaran serta pengabdian kepada masyarakat. Dengan harapan Allah mudahkan menjalankan tugas mulia yang tentu akan memiliki pengalaman baru sebagai profesi pendidik anak bangsa.
Kami sadar, keputusan untuk bergabung dengan sivitas akademika Universitas Syiah Kuala merupakan ujian dalam rangka peningkatan adrinalin akademik serta pengembangan wawasan ke depan.
Untuk bisa meningkatkan kualitas akademik, pilihanya memang harus berani keluar dan mengembangkan diripada lembaga atau ladang yang lebih luas.
Dengan semakin jauh melangkah, maka semakin luas pandangan yang dapat kita lakukan dalam rangka pengembangan diri kepada yang lebih baik. Walau tantangan baru juga semakin besar, namun itulah langkah yang mesti dilakukan untuk berhijrah kepada yang lebih baik.
Pilihan sulit yang kami hadapi, bukan pada mana yang lebih nyaman untuk meneruskan profesi pendidik. Namun kadang kita lebih banyak memberikan pertimbangan perasaan terhadap berbagai pihak. Sehingga sering keputusan yang diambil atas dasar ketidakenakan. Bukan kepada mana yang memberikan nilai manfaat lebih besar bagi agama, bangsa, dan negara. Atau bisa jadi keputusan yang kita sikapi lebih pada pertimbangan politis yang sering bertentangan logika serta kenyataan.
Setelah kami renungkan dengan istiqarah, maka kami berketetapan hati untuk berhijrah dengan mengambil kesempatan yang luar biasa tersebut. Di akhir masa puncak pengabdian yang mesti kami lakon dan praktekkan harus lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan mengharap kelancaran serta keberkahan setiap langkah menjadikan ladang amal sebagai bekal untuk kembali ke akhirat.
Hidup yang penuh tantangan ini bukan menjadi alasan untuk karya pengabdian, agar kita mampu mengakhiri hidup ini dengan lebih baik ‘husnul khatimah’ di bawah kendalinya yang maha kuasa. Dengan torehan prestasi yang lebih baik dalam mengakhiri karya bakti tentu akan dapat menggapai kesuksesan dunia dan akhirat. Sehingga tidak berlebihan apabila Allah SWT selalu memberikan nilai poin optimal apabila hambanya di akhir hayat mampu menyelesaikan berbagai amal kebajikan dengan lebih baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)