Minggu, 3 Mei 2026

Internasional

Qatar Siap Bekerjasama dengan Taliban, Isolasi Dapat Menjadi Malapetaka Bagi Afghanistan

Qatar siap bekerjasama dengan Taliban untuk membuka kembali bandara Kabul, Afghanistan. Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP
Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani 

SERAMBINEWS.COM, DOHA - Qatar siap bekerjasama dengan Taliban untuk membuka kembali bandara Kabul, Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, Kamis (2/9/2021) mendesak kelompok garis keras Islam itu untuk mengizinkan warga Afghanistan pergi.

Bandara, tempat kejutan hiruk pikuk yang berakhir dengan penarikan pasukan AS pada Selasa (31/8/2021), tidak beroperasi dengan banyak infrastruktur yang rusak atau hancur.

“Kami bekerja sangat keras dan kami berharap akan dapat mengoperasikannya semaksimal mungkin,” kata Menteri Luar Negeri Qatar

“Mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan kita akan mendengar kabar baik,” katanya dalam konferensi pers di Doha.

Sebuah tim teknis Qatar terbang ke Kabul pada Rabu (1/9/2021) untuk membahas pembukaan kembali bandara, seperti dilansir AFP, Kamis (2/9/2021).

Bahkan, menjadi pesawat pertama yang mendarat di sana sejak ditutup akhir bulan lalu.

Baca juga: Sebagian Warga Kabul Lebih Takut Ekonomi Hancur, Daripada Tinju Taliban

Sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan tujuannya untuk melanjutkan penerbangan.

Baik untuk bantuan kemanusiaan dan untuk memberikan kebebasan bergerak, termasuk memulainya kembali upaya pemindahan.

Lebih dari 123.000 warga negara asing dan warga Afghanistan melarikan diri dari negara itu dalam operasi udara.

Tetapi lebih banyak lagi yang putus asa untuk pergi, karena belum ada pesawat komersial yang beroperasi.

"Sangat penting, Taliban menunjukkan komitmen untuk memberikan jalan yang aman dan kebebasan bergerak bagi rakyat Afghanistan," kata Sheikh Mohammed.

Dikatakan, Qatar terlibat dengan Taliban dan juga dengan Turki jika dapat memberikan bantuan teknis apapun.

Sheikh Mohammed berpidato pada konferensi pers bersama dengan timpalannya dari Inggris Dominic Raab, yang mengatakan perlu menyesuaikan diri dengan realitas baru pemerintahan Taliban.

"Prioritas langsung kami untuk melakukan perjalanan yang aman bagi warga negara Inggris yang tersisa," kata Raab.

"Tetapi juga warga Afghanistan yang bekerja untuk Inggris, dan memang orang lain yang mungkin paling berisiko, tambahnya.

Qatar menjadi tuan rumah negosiasi antara Taliban dan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Bahkan, menjadi titik transit bagi sekitar 43.000 pengungsi dari Afghanistan.

AS menginvasi Afghanistan dan menggulingkan pemerintah Taliban pada tahun 2001 setelah serangan 9/11 oleh Al-Qaeda, yang mencari perlindungan di negara itu.

Sebelumnya pada Selasa (31/8/2021), Sheikh Mohammed memperingatkan mengisolasi Taliban dapat menyebabkan malapetaka bagi negeri itu.

Dia menyatakan ketidakstabilan lebih lanjut akan membuat perekonomian Afghanistan hancur.

Dia mendesak negara-negara untuk terlibat dengan gerakan Islam garis keras itu untuk mengatasi masalah keamanan dan sosial ekonomi di Afghanistan.

Negara Teluk Arab yang bersekutu dengan AS telah muncul sebagai lawan bicara utama bagi Taliban, setelah menjadi tuan rumah kantor politik kelompok itu sejak 2013.

“Jika kita mulai memberikan syarat dan menghentikan ini, kita akan meninggalkan kekosongan," ujarnya.

"Pertanyaannya,m siapa yang akan mengisi kekosongan ini?,” tanya Sheikh Mohammed di Doha, bersama rekannya dari Jerman, Heiko Maas.

Baca juga: Inggris Bersiap Gempur ISIS di Afghanistan, Balas Serangan Roket ke Bandara Kabul

Tidak ada negara yang mengakui Taliban sebagai pemerintah Afghanistan setelah merebut Kabul.

Banyak negara bagian barat telah mendesak kelompok itu untuk membentuk pemerintahan yang inklusif dan menghormati hak asasi manusia.

"Kami percaya tanpa keterlibatan kami tidak dapat mencapai kemajuan nyata di bidang keamanan atau di bidang sosial ekonomi," kata Sheikh Mohammed.

Dia menambahkan mengakui Taliban sebagai pemerintah bukanlah prioritas.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Jerman Maas mengatakan Berlin bersedia membantu Afghanistan tetapi bantuan internasional datang dengan prasyarat tertentu.

Taliban, yang telah mengadakan pembicaraan dengan anggota pemerintah Afghanistan sebelumnya dan masyarakat sipil lainnya, mengatakan akan segera mengumumkan kabinet penuh.

Sheikh Mohammed dari Qatar mengatakan kelompok itu telah menunjukkan keterbukaan terhadap gagasan pemerintah yang inklusif.

Taliban dikenal dengan aturan yang keras dari tahun 1996 hingga 2001.

Saat ini, Taliban berusaha meredakan kekhawatiran dengan berkomitmen menghormati hak-hak individu.

Bahkan, menegaskan perempuan akan dapat belajar dan bekerja di bawah kekuasaan mereka.

Sheikh Mohammed mengatakan mengisolasi Taliban selama pemerintahan terakhir mereka 20 tahun lalu menyebabkan situasi saat ini.

Sejak Taliban merebut Kabul, telah terjadi keterlibatan luar biasa dalam evakuasi dan kontraterorisme, yang memberikan hasil positif, katanya.

Baca juga: Qatar Jadi Pemain Kunci Evakuasi di Afghanistan, Setelah Penarikan Pasukan AS

Dia menambahkan pembicaraan tentang Qatar yang memberikan bantuan untuk menjalankan bandara Kabul sedang berlangsung dan tidak ada keputusan yang dibuat.

Maas mengatakan tidak ada jalan lain untuk melakukan pembicaraan dengan Taliban.

Dia menambahkan masyarakat internasional tidak dapat menanggung ketidakstabilan di Afghanistan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved