Sabtu, 23 Mei 2026

Berita Luar Negeri

Gagal Atasi Covid-19, Perdana Menteri Jepang Mundur

Ketika Yoshihide Suga mengambil alih posisi perdana menteri Jepang tahun lalu, harapan tinggi rakyat Jepang tertumpah padanya

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
ANTARA FOTO/HO/Setpres-Muchlis
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga (kanan) saat menerima kunjungan kenegaraan di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/10/2020). Kunjungan kenegaraan tersebut dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antar kedua negara. 

Gagal Atasi Covid-19, Perdana Menteri Jepang Mundur

SERAMBINEWS.COM - pandemi Covid-19 menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.

Berbagai negara kewalahan untuk mengatasi penyebaran Covid-19 yang berdampak ke berbagai sektor.

Tak terkecuali Jepang juga mengalami nasib yang sama seperti negara lain.

Tapi Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga memilih mundur akibat gagal mengatasi Covid-19 di negaranya.

Ketika Yoshihide Suga mengambil alih posisi perdana menteri Jepang tahun lalu, harapan tinggi rakyat Jepang tertumpah padanya.

Baca juga: Profil Yoshihide Suga, Calon Kuat Pengganti Shinzo Abe sebagai PM Jepang

Keterampilan politik yang diasah Suga selama bertahun-tahun serta akar pedesaannya diharapkan mengantar dia memimpin Jepang melewati pandemi.

Namun, apa yang terjadi?

Sebaliknya, penyebaran virus corona justru melonjak kembali di tengah peluncuran program vaksinasi yang sulit. 

Belum lagi serangkaian "keadaan darurat" yang tidak banyak menghentikan penyebaran varian Delta yang lebih menular.

PM Jepang Yoshihide Suga berulang kali menundukkan kepalanya meminta maaf kepada masyarakat atas diberlakukannya Deklarasi Darurat (PSBB), Jumat (23/4/2021).
PM Jepang Yoshihide Suga berulang kali menundukkan kepalanya meminta maaf kepada masyarakat atas diberlakukannya Deklarasi Darurat (PSBB), Jumat (23/4/2021). (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Yoshihide Suga , berumur 72 tahun, bersikeras menyelenggarakan Olimpiade Tokyo 2020 yang ditunda dari tahun lalu, meskipun mendapat tentangan publik secara luas.

Tingkat dukungan kepada Yoshihide Suga merosot tajam hingga ke bawah 30% menjelang pemilihan umum dan pemilihan umum tahun ini.

Tak kuat menghadapi pemberontakan di dalam partainya sendiri, Suga mengatakan dia akan mundur untuk fokus pada pandemi COVID-19, sekaligus menyiapkan panggung untuk penggantinya sebagai perdana menteri baru.

Dikenal karena tatapan mata dan jawaban yang tajam, Yoshihide Suga dinilai mudah tersinggung, selama konferensi pers sebagai kepala sekretaris kabinet dan tangan kanan pendahulunya Shinzo Abe, perdana menteri terlama di Jepang.

Baca juga: Yoshihide Suga Resmi Jadi PM Jepang, Gantikan Shinzo Abe

Yoshihide Suga mengambil alih jabatan tertinggi pemerintahan Jepang itu pada September 2020 ketika Abe tiba-tiba berhenti dengan alasan masalah kesehatan. .

Citra Suga sebagai operator politik yang cerdas yang mampu mendorong reformasi dan menghadapi birokrasi yang kolot mendorong dukungannya hingga 74% ketika ia menjabat.

Awalnya, janji-janji populis Yoshihide Suga seperti tarif telepon seluler yang lebih rendah dan asuransi untuk perawatan kesuburan disambut baik.

Suga juga mendirikan agensi digital untuk menyatukan sistem teknologi pemerintah pusat dan daerah, area di mana Jepang tertinggal.

Baca juga: Dibalik Kedatangan Suga dan Pompeo, Indonesia Diminta Waspadai Ancaman Perang Dunia III

Tetapi mengeluarkan para cendekiawan yang kritis terhadap pemerintah dari panel penasihat dan berkompromi dengan mitra koalisi juniornya tentang kebijakan biaya perawatan kesehatan untuk orang tua menuai kritik.

Penundaan penghentian program perjalanan domestik "Go To" yang menurut para ahli mungkin membantu menyebarkan virus corona sangat memukul.

Sementara masyarakat semakin lelah dengan keadaan darurat yang merugikan bisnis.

Persepsi bahwa Yoshihide Suga lebih fokus menjadi tuan rumah Olimpiade daripada pandemi juga mengikis dukungan.

Baca juga: Mobil Colt Diesel Terbalik Tumpahkan Buah Sawit, Jalan Medan-Banda Aceh di Langsa Baro Macet Total 

Meskipun pihak berwenang telah membantah adanya hubungan antara Olimpiade dan lonjakan infeksi.

Para kritikus menyalahkan keterampilan komunikasi yang buruk Yoshihide Suga pada konferensi pers di parlemen karena gagal menyatukan publik di belakang sebagian besar pembatasan pandemi sukarela.

Pada bulan Agustus, ketika Olimpiade ditutup, dukungan terhadap Yoshihide Suga telah turun di bawah 30%.

Ini mengkhawatirkan para pemimpin partai dan anggota parlemen junior menjelang pemilihan majelis rendah parlemen yang harus diadakan tahun ini dan mengarah pada pembicaraan tentang pencopotannya.(*)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Yoshihide Suga mundur, gagal membawa Jepang melewati pandemi

Baca juga: Taliban Pergi dari Pintu ke Pintu, Mantan Pasukan Khusus Afghanistan Sebut Pembunuhan Tak Berhenti

Baca juga: Pelukis Disabilitas di Aceh Utara Terharu, Tiba-tiba Haji Uma Berkunjung ke Rumahnya

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved