Opini

Waspadai Learning Loss!

Pandemi Covid-19 merupakan ujian bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Seluruh sektor kehidupan manusia terganggu

Editor: bakri
IST
Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd, Wakil Ketua III STAI Tgk. Chik Pante Kulu 

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd, Wakil Ketua III STAI Tgk. Chik Pante Kulu

Pandemi Covid-19 merupakan ujian bagi seluruh manusia di muka bumi ini. Seluruh sektor kehidupan manusia terganggu, tanpa kecuali di sektor pendidikan.

Semenjak Pandemi Covid-19, Pemerintah Indonesia memutuskan agar sekolah memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal itu dilakukan guna mencegah penyebaran virus Covid- 19 di lingkungan sekolah.

Keputusan memberlakukan PJJ ternyata berisiko menyebabkan learning loss pada peserta didik. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, BA, M.BA bahwa kita berisiko memiliki generasi dengan learning loss. Akan ada dampak permanen dalam generasi kita, terutama bagi yang lebih muda jenjangnya.

Istilah learning loss sedang hangat dibicarakan saat ini. Sehingga di sini muncul  dua pertanyaan besar, yaitu: 1) “Apa learning Loss itu ?” dan 2). “Mengapa terjadi Learning Loss?” Di sini penulis akan mencoba menjawab pertanyaan pertama yaitu apa Learning Loss?

Dua kata tersebut berasal dari Bahasa Inggris yang berarti “Kehilangan Pembelajaran” merujuk kepada sebuah kondisi hilangnya sebagian kecil atau sebagian besar pengetahuan dan keterampilan dalam perkembangan akademis yang biasanya diakibatkan oleh terhentinya proses pembelajaran dalam dunia pendidikan.

Sedangkan pertanyaan kedua yaitu mengapa bisa terjadi Learning Loss? Ada beberapa penyebab terjadinya Learning Loss di antaranya adalah terlalu lamanya siswa tidak masuk sekolah, libur sekolah, proses belajar dari rumah (BdR) agar siswa tidak berada di luar rumah sehingga siswa aman dari paparan virus COvid-19 seperti yang terjadi sejak awal bulan Maret 2020 hingga kini, kurangnya kualitas serta fasilitas bagi anak yang menjalankan PJJ sehingga berdampak pada penurunan capaian belajar.

Selain itu, PJJ juga tidak optimal dalam sisi capaian hasil belajar. Kesenjangan kualitas antara yang memiliki akses ke teknologi dan yang tidak memiliki akses ke teknologi akan menjadi masalah besar dalam PJJ. Penerapan kurikulum darurat Covid-19 yang mana hilangnya beberapa kompetensi dasar (KD) yang seharusnya dipelajari siswa.

Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa semua setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah. Pendidikan tak berhenti di bangunan sekolah saja, tapi juga di rumah, di jalan, dan di mana-mana.  Dengan mengacu pada filosofi Ki Hajar Dewantara maka learning loss bisa diminimalisir bahkan dihindari.

Pandangan negatif dan ketakutan serta kecemasan yang berlebihan terhadap learning loss hendaknya tidak terjadi. Sebaliknya, kita juga tidak boleh mengabaikan kondisi learning loss namun justru kondisi ini harus dianggap sebagai tantangan dalam pendidikan. Tantangan untuk lebih kreatif, inovatif, adaptif, visioner, dan kolaboratif.

Selama pembelajaran jarak jauh, banyak platform pembelajaran daring digunakan, bahkan direkomendasikan oleh pemerintah sebagai platform rujukan. Di antaranya ada Google Classroom, WhatsApp (WA), Youtube, dan platform lainnya.

Meski tampaknya tidak ada aktivitas belajar yang terjeda, namun PJJ itu sendiri merupakan format pendidikan yang bukan tanpa kendala. Aspek ketersediaan jaringan internet menjadi salah satu guru dan siswa PJJ. Terutama bagi guru dan siswa yang berdomisili di daerah terpencil di mana akses internet masih menjadi barang langka.

Masalah lain yang sering di dengar adalah tidak semua anak memiliki handphone android dan perangkat internet. Terkadang dalam sebuah keluarga kurang mampu, hanya ayah atau ibunya saja yang memiliki HP android untuk kebutuhan kerja sehari-hari. Sehingga harus menemani anaknya untuk PJJ dari rumah.

Sebagai pendidik apakah pernah memikirkan, bagaimana anak-anak merasakan kejenuhan saat belajar di rumah? Fenomena yang terjadi saat ini setelah PJJ, banyak anak-anak mengisi waktu luangnya bermain game di HP hingga malam hari. Alangkah khawatirnya setiap pendidik dan juga para orang tua, bagaimana masa depan anak-anaknya suatu saat nanti. Tentunya ini adalah sebuah permasalahan besar yang layak diselesaikan secara bersama-sama.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran selama Pandemi Covid-19 yaitu, Pertama, guru memanfaatkan kurikulum darurat. Guru bisa menciptakan pembelajaran dengan konsep yang merdeka dan menghadirkan pembelajaran yang esensial.

Dengan variasi mengajar dari kurikulum darurat dengan konsep merdeka belajar tentu tidak menjadi kerangkeng. Tapi menjadi kerangka untuk pembelajaran yang bervariasi. Hal-hal yang telah diperoleh melalui forum KKG maupun MGMP haruslah disampaikan dan ditindaklanjuti semua guru yang ada di sekolah. Ini menjadi kewajiban peserta KKG atau MGMP sekolah.

Kedua, menyemangati dan mengajak siswa berliterasi. Siswa perlu diberi semangat belajar untuk memastikan mereka berpengetahuan mumpuni.

Siswa butuh kesenangan dan memiliki waktu bermakna (quality time) yang bisa diisi dengan membaca buku-buku fiksi. Atau membaca sejarah singkat 25 Nabi dan Rasul dsb. Tanpa adanya minat membaca yang baik, pengetahuan tidak mungkin dikuasai dengan baik. Minat membaca bisa diawali dengan membaca untuk kesenangan (reading for enjoyment).

Lambat laun tingkat keinginan membaca mereka akan semakin tinggi dengan sendirinya. Yang perlu diingat adalah menambah pengetahuan bagi anak tidak hanya diperoleh dari buku yang berorientasi pada kurikulum saja. Saat anak sudah mulai malas membaca walaupun hanya buku cerita maka, itulah awal terjadinya learning loss pada mereka. Maka, sebelum terjadi learning loss, ajaklah mereka berliterasi dengan hati gembira ria walaupun hanya 15 menit dari saat ini dan seterusnya.

 Ketiga, memfasilitasi siswa dengan Learning Management System (LMS) sebagai platform digitalisasi sekolah. Dengan menggunakan LMS maka interaksi antara guru dan siswa tetap terjalin. Seluruh proses pembelajaran terstruktur dan tersistem serta dilaksanakan secara sistematis. Siswa tetap mendapatkan hak belajar.

Keempat, sekolah yang memadukan daring dan luring dengan menggunakan platform digital lainnya. Seperti aplikasi Google Form, Google Meet, Google Classroom, WhatsApp (WA) Group, Video Call WA, Zoom, Youtube, atau media lainnya yang dikolaborasikan dengan tatap muka terbatas di sekolah, sehingga interaksi guru dan siswa tetap bisa dilaksanakan walaupun dalam kondisi terbatas.

Kelima, sekolah tatap muka terbatas. Untuk daerah yang masuk zona hijau dan kuning boleh melakukan proses belajar mengajar secara tatap muka dengan sejumlah pembatasan di sekolah. Penerapan protokol kesehatan yang ketat  dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan kesehatan seluruh warga sekolah.

Dan keenam, peran orang tua. Menjadi kunci utama untuk mengizinkan putra-putrinya melaksanakan sekolah tatap muka terbatas atau tetap melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Sesuai dengan Instruksi Mendagri Nomor 14 Tahun 2021, implementasi pembelajaran tatap muka terbatas harus sinkron dengan prinsip sehat dan selamat untuk seluruh warga masyarakat.

Di masa Pandemi Covid-19 Gubernur Aceh, Nova Iriansyah juga mengimbau para pemangku kebijakan di Aceh untuk menemukan pola pendidikan terbaik. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa institusi pendidikan di semua tingkatan terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar secara daring (online).

Perubahan pola mengajar ini tentu memaksa para pengajar untuk mampu dan mahir menggunakan teknologi. Bukan semata karena tuntutan era Revolusi Industri 4.0, tapi juga sebagai media pembelajaran, dengan menyiapkan materi yang relevan dan menarik sesuai keadaan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved