Breaking News:

Salam

WHO dan Pakar Peringatkan Kita

Berita-berita itu intinya adalah peringatan bagi masyarakat dalam beraktivitas di masa pandemi ini

Editor: bakri
AFP
Sekjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus 

Edisi Senin, 6 September 2021 harian ini memuat beberapa berita tentang virus Corona baik di halaman depan maupun di halaman dalam. Berita-berita itu intinya adalah peringatan bagi masyarakat dalam beraktivitas di masa pandemi ini. Sebab, hingga kini, khususnya di Aceh penularan kasus baru Corona masih pada level yang menakutkan. Rata-rata kasus baru harian masih berada pada angka 200 hingga 300 kasus infeksi baru perhari. Demikian juga angka kematian berada pada angka 14 sampai 25 orang setiap hari.

Berita yang dimuat harian ini kemarin antara lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi varian Delta bakal menjadi varian COVID-19 yang paling dominan dalam beberapa bulan mendatang. “Kami meyakini varian Delta secara cepat bakal melangkahi varian-varian lainnya dan bakal menjadi varian yang penyebarannya dominan dalam beberapa bulan ke depan," kata WHO.

Varian Delta merupakan varian yang pertama kali ditemukan pada Oktober 2020. Sebelum varian Delta menyebar, ada varian asal Inggris yakni Alpha yang lebih dulu muncul. Kemudian ditemukan varian Gamma yang berasal dari Brasil. Kemudian yang terbaru ditemukan adalah varian Mu yang juga termasuk dalam kategori Variant of Interest (VOI). Varian ini pertama kali ditemukan di Kolombia pada Januari lalu.

Juru Bicara (Jubir) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengatakan saat ini varian Delta menjadi paling dominan bersirkulasi di dunia dalam 60 hari terakhir. Termasuk juga di Indonesia, yang diketahui varian Delta telah meluas ke berbagai wilayah, termasuk ke sebagian kabupaten/kota di Aceh. “Saat ini varian Delta menjadi mayoritas hasil sekuensing di Indonesia, dengan total jumlah mencapai 2.240 sejak ditemukannya varian Delta di awal tahun 2021," ungkap Kemenkes.

Berita lain datang dari epidemiolog Centre for Environmental and Population Health Griffith University di Australia, Dicky Budiman, yang memperingatkan kita semua tentang potensi munculnya Covid-19 gelombang ketiga. Katanya, ini bisa terjadi jika penurunan kasus sekarang ini tidak disikapi secara bijak. Perlu ditingkatkan terus masalah protokol kesehatan (prokes) secara disiplin.

“Adanya pelonggaran, bukan berarti situasi sudah aman, namun masyarakat wajib tetap waspada,” kata Dicky.

Dia menjelaskan, dalam situasi pandemi ini, semuanya sangat dinamis. Sebab, kasus Covid-19 bisa sewaktu-waktu melonjak atau bahkan varian virus baru yang lebih kuat daripada varian Delta saat ini bisa muncul kapan saja. Karena itu, Dicky menekankan, penyebaran virus Corona varian Delta saja belum melewati fase krisis. “Masa krisis akibat varian Delta belum selesai. Masa krisis setidaknya berlangsung sampai akhir September ini,” ungkapnya.

Berita berikutnya datang dari pihak PT Angkasa Pura II Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, yang menegaskan bahwa semua calon penumpang maskapai yang akan berangkat rute Medan hingga Jakarta wajib membawa sertifikat vaksin (baik dosis I maupun II) sebagai syarat perjalanan. Selain itu, calon penumpang pesawat terbang dari Aceh ini juga wajib membawa surat hasil tes PCR.

Kelengkapan tersebut akan diperiksa saat check in jelang keberangkatan. Jika tidak, maka calon penumpang tidak akan diizinkan masuk dalam pesawat. Beberapa daerah lain memang tak lagi mewajibkan persyaratan itu, tapi karena Aceh masih PPKM Level 3, maka tetap mewajibkan persyarakat sertifikat vaksin dan tes PCR.

Tekanan dari berita-berta itu adalah bahwa masyarakat harus tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun atau handsanitizer, serta menghindari kerumunan atau menjaga jarak, Satu hal lagi adalah melengkapi tubuh dengan vaksin yang hingga kini masih dilayani secara gratis oleh pemerintah.

Jadi vaksin itu bukan sekadar untuk mendapatkan sertifikat sebagai persyaratan penerbangan dan lain-lain, tapi juga penting bagi tubuh kita saat terserang virus. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved