Breaking News:

Luar Negeri

Krisis Ekonomi Mengintai Taliban setelah Satu Bulan Merebut Kabul dan Bikin Amerika Angkat Kaki

Setelah membuat Amerika Serikat angkat kaki dari Afghanistan, Taliban mulai menghadapi krisis ekonomi. 

Penulis: Syamsul Azman | Editor: Safriadi Syahbuddin
AFP/Javed TANVEER
Warga melakukan demonstrasi seusai Taliban akan menggusur rumah mereka yang dibangun di atas tanah milik negara di Kandahar, Afghanistan, Selasa (14/9/2021). 

SERAMBINEWS.COM - Setelah membuat Amerika Serikat angkat kaki dari Afghanistan, Taliban mulai menghadapi krisis ekonomi

Sebulan setelah merebut Kabul, Taliban menghadapi masalah yang menakutkan ketika kelompok itu berusaha untuk mengubah kemenangan militer kilat mereka menjadi pemerintahan damai.

Setelah perang selama empat dekade dan kematian puluhan ribu orang, sebagian besar keamanan di Afghanistan telah meningkat.

Namun, ekonomi Afghanistan hancur meskipun bantuan ratusan miliar dolar telah disalurkan dalam pengeluaran pembangunan selama 20 tahun terakhir.

Kekeringan dan kelaparan mendorong ribuan orang dari pedesaan ke kota-kota, dan Program Pangan Dunia PBB (WFP) khawatir persediaan pangan bisa habis pada akhir September, yang dapat mendorong hingga 14 juta orang ke jurang kelaparan.

Sementara itu, perhatian banyak negara Barat terfokus pada apakah pemerintah baru Taliban akan menepati janjinya untuk melindungi hak-hak perempuan atau menawarkan perlindungan kepada kelompok-kelompok militan seperti al Qaeda.

Baca juga: Internal Taliban Dirumorkan Terjadi Perpecahan, Mullah Baradar Dikabarkan Tewas dalam Baku Tembak

Sementara bagi banyak warga Afghanistan, prioritas utamanya adalah kelangsungan hidup yang sederhana.

"Setiap warga Afghanistan, anak-anak, mereka semua lapar, mereka tidak punya sekantong tepung atau minyak goreng," kata seorang penduduk Kabul bernama Abdullah seperti dikutip Serambinews.com dari Antaranews, Rabu (15/9/2021). 

Antrean panjang masih terbentuk di luar bank-bank, di mana batas penarikan mingguan sebesar 200 dolar AS (sekitar Rp2,85 juta) telah diberlakukan untuk melindungi cadangan uang negara yang semakin menipis.

Pasar-pasar dadakan di mana para warga menjual barang-barang rumah tangga untuk mendapatkan uang tunai bermunculan di seluruh Kabul, meskipun pembeli kekurangan pasokan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved