Breaking News:

Jurnalisme Warga

Jadikan Buku Sahabat di Kala Pandemi

Gedung Perpustakaan Wilayah milik Pemerintah Aceh di bantaran Sungai (Krueng) Lamnyong ke arah Kampus Darussalam

Editor: bakri
Jadikan Buku Sahabat di Kala Pandemi
FOR SERAMBINEWS.COM
RINI WULANDARI, S.E., Ak Guru Ekonomi Akuntansi SMAN 5 Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH RINI WULANDARI, S.E., Ak Guru Ekonomi Akuntansi SMAN 5 Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

PUTRI saya, Aisya, akhirakhir ini sering bertanya, “Kapan sih perpustakaan wilayah kita buka lagi? Kemarin baru perpanjang kartu baru, besoknya perpustakaan tutup, katanya mau direnovasi. Sampai sekarang belum juga buka. Mana gedungnya keren lagi!" Ya, begitulah celetukan kesal Aisya ketika melintasi Gedung Perpustakaan Wilayah milik Pemerintah Aceh di bantaran Sungai (Krueng) Lamnyong ke arah Kampus Darussalam. Padahal, di hari terakhir pinjam buku ia sedang membaca cerita berseri. “Bagaimana ya cerita kelanjutannya? Apa ya yang bisa diceritakan buku itu ke aku?” kata Aisya lagi.

Ternyata, putri kami sudah menganggap buku itu sebagai sahabatnya, yang bisa bercerita kepadanya. Ketika membaca, ia menganggap sahabatnya itu sedang bercerita tak langsung kepadanya. Sejak punya kartu member sendiri, Aisya paling sering mengajak kami ke ruang baca pustaka anak. Letaknya di bagian paling belakang yang berbatas dengan bantaran sungai kecil Krueng Cut. Tak terasa setahun lebih daring, dari sejak masih SD kelas 6, kini ia sudah duduk di kelas pertama sekolah menengah. Beruntung, kami memiliki pustaka pribadi, kerennya personal library yang kami namakan “booklife”. Ruang pustaka kecil itu dipenuhi buku, sekaligus kami jadikan ruang serbaguna.

Belajar keterampilan, tempat anak-anak mengerjakan PR, belajar daring, mengerjakan pekerjaan kantor, memeriksa pekerjaan rumah siswa, termasuk menulis untuk media seperti ini. Kami berusaha membuatnya senyaman mungkin dan karena ruang ini juga, rindu putri kami terhadap buku pustaka wilayah agak terobati. Koleksi-koleksi buku sudah kami pilah dalam beberapa kategori, menurut versi kami, termasuk teenlite, cerita anak-anak, novel, menempati rak dan boks tersendiri. Dan boks itu menjadi bagian favorit anak-anak. Termasuk beberapa siswa yang berkunjung ke rumah dan ikut membaca pada hari libur.

Perpustakaan di saat daring seperti sekarang, ternyata bisa menjadi sarana hiburan, sekalipun dunia digital menggoda kita dengan banyak informasi. Namun, buku tetap memiliki daya tarik yang tak bisa tergantikan. Hari Kunjung Pustaka yang berbeda 14 September 2021 adalah Hari Kunjung Perpustakaan. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, perpustakaan kini agak sunyi. Apalagi perpustakaan kita yang dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh sementara ini memang sedang direnovasi.

Tapi saya yakin, ketika pandemi berlalu, perpustakaan wilayah di Lamnyong itu akan menjadi destinasi wisata ilmu dan wisata cerdas yang baru. Seperti perpustakaan wilayah, Perpustakaan Universitas Syiah Kuala (USK) adalah rumah kedua kami yang lain, setelah perpustakaan rumah. Perpustakaan kini telah jauh berubah. Dulu mungkin tempat yang kurang populer, dipenuhi kesan terasing dan sunyi.

Bahkan sering kita perhatikan, perpustakaan di kampus ditempatkan di bagian belakang yang kurang bisa dijangkau, jauh dari mobilitas orang yang lalu lalang. Sehingga, stereotipe perpustakaan sebagai tempat terasing jadi terbentuk. Bahkan isinya dulu identik dengan anak-anak yang serius, berkacamata tebal karena suka baca, dan “kuper” alias kurang bergaul. Perpustakaan USK adalah contoh perpustakaan yang bisa dijadikan rumah kedua.

Pustaka yang satu ini tak hanya menyediakan buku-buku yang bisa membuat kita kangen, tetapi juga dilengkapi dengan ruang multimedia, ruang diskusi, dan ruang ibadah. Bahkan Perpustakaan USK kini dilengkapi dengan ruang ngopi, Kafe Libri. Sepintas terdengar seperti menyebut 'library', mungkin begitulah nama itu dipilih, untuk mendekatkan buku, kita, dan kopi. Jika penat, bisa memesan secangkir kopi pahit, kopilatte, capuchino atau saya suka menyebutnya “kopi daring- luring”.

Maksudnya, kopi daring itu kopi sachet, sedangkan kopi luring itu kopi kental yang diseduh atau diroasting secara langsung. Ruang baca atau pustaka kita kini sudah jauh berubah, sejak pagi hingga malam bisa kita menikmati suasananya. Mungkin kelak pustaka kita akan buka 24 jam seperti pustaka pada universitas besar di Eropa, sehingga setiap orang bisa menikmati ilmu dalam suasana berbeda daripada di rumah.

Pustaka menjadi rumah kedua yang menarik dikunjungi. Pustaka pribadi yang berubah Maksud saya, perpustakaan pribadi di rumah, kini sudah kami fungsikan sebagai ruang semipublik. Meskipun penikmat bukunya adalah siswa kelas menulis yang keranjingan buku atau sekadar menikmati suasana berbeda untuk membaca buku.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved