Breaking News:

Jurnalisme Warga

Syariat Islam di Aceh pada Abad 19

MANUSKRIP atau naskah lama termasuk salah satu sumber sejarah. Berbekal beberapa manuskrip inilah saya coba mengungkapkan sejarah Aceh

Editor: bakri
Syariat Islam di Aceh pada Abad 19
IST
T. A. SAKTI, Penulis hikayat dan mantan dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH T. A. SAKTI, Penulis hikayat dan mantan dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Banda Aceh

MANUSKRIP atau naskah lama termasuk salah satu sumber sejarah. Berbekal beberapa manuskrip inilah saya coba mengungkapkan sejarah Aceh pada abad ke-19, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam.

Penunjukan abad ke-19 sebagai pokok kajian ini memang tidak mengalami kendala, sebab hampir semua naskah yang terpilih memang langsung menuliskan angka tahun Hijriah pada penutup naskah masing-masing. Kitab Tuhfatul Ikhwan, karya Syekh Abdussalam (kakek Teungku Chiek di Tiro Muhammad Saman, Pahlawan Nasional). Kitab ini selesai ditulis pada akhir Ramadhan tahun 1224 H. Naskah yang dapat digolongkan kepada 'hikayat tambeh' (tuntunan) ini, selain mengandung berbagai jenis nasihat, juga terselip beberapa baris syair mengenai suasana keagamaan negeri Aceh pada masa itu. Tambeh 95 (95 Tuntunan) selesai ditulis pada tahun 1242 H.

Judul asli kitab ini “Tanbihul Ghafilin” ( Peringatan Bagi Mereka yang Lalai). Keseluruhan isi naskah ini berupa nasihat, tapi pengarangnya sempat pula mengkritik pelaksanaan syariat Islam pada saat itu, khususnya masalah aurat wanita. Kitab Akhbarul Karim (kabar yang mulia), memang tidak mencantumkan tahun penulisannya. Tapi dari berbagai bukti yang lain, menunjukkan ia ditulis pada abad 19 M.

Kitab yang isinya berintikan ilmu fikih, tauhid, dan tasawuf ini, tapi dalam sebuah panton Aceh-nya juga menyebutkan perkembangan syariat Islam ketika itu. Cuplikannya sebagai berikut: Takoh tarom pageue nawah, tarhat jubah beuneung sinaroe Akhe donya kureueng tuah, soh meunasah jeub-jeub sagoe Aneukmiet beuet hana sapat, timu barat meunasah sagoe Nyang na rame beurangkapat, ‘ohka toek had trok bak gantoe Buleuen Sy’akban buleuen Ramadhan, rame sinan shalli ‘alai Puasa pilheueh Fitrah hase, meutinggaile Meunasah Sagoe Jinoe nyang rame beurangkapat, jambo madat ngon meutajoe Laen nibak nyan teumpat piasan, rame sinan malam uroe Terjemahan bebas: Ditebas pohon tarom ganti pagar batang jarak, dijahit jubah benang semua Akhir dunia kurang tuah, kosong meunasah seluruh negeri Anak mengaji tak ada lagi, timur dan barat di meunasah sagi Yang banyak orang di merata tempat, waktu sampai pergantian tahun Bulan Syakban dan bulan Ramadhan, ramai orang di semua meunasah Puasa habis fitrah pun selesai, tinggallah meunasah kesepian Sekarang (dulu) yang ramai di banyak tempat, pondok candu dan sabung ayam Selain itu di tempat hiburan, ramai di situ siang dan malam Kitab-kitab lain yang menjadi rujukan tulisan ini adalah karya Teungku Muda alias Teungku Do atau Teungku Di Cucum yang bernama asli Syekh Abdussamad.

Tiga buah karya beliau yang dimaksud, yaitu Tambeh Tujoh Blah, Nazam Akhbarun Na’im dan “Tambeh Goha Nan”. Keenam naskah ini tertulis dalam huruf Arab Melayu/Jawoe, menggunakan bahasa Aceh dalam bentuk sajak-syair hikayat.

Tuhfatul Ikhwan

Dalam kitab Tuhfatul Ikhwan karangan Syekh Abdussalam juga, yang tebalnya 294 halaman terdapat sorotan terhadap syariat Islam di Aceh pada dua tempat yang berbeda, yang jumlah syairnya 15 bait atau dua setengah halaman.

Pada salinan halaman 67, bagian penutup Bab Tiga yang membahas “Dosa Peminum Arak”, terdapat enam setengah bait keterangan mengenai kerusakan moral yang menggejala di Aceh. Di sebuah negeri bernama “Rayek” (Besar) yang terletak di negeri bawah angin, para peminum arak merajalela di mana-mana. Tak seorang pun mau mencegah kemungkaran itu. Sampaisampai Raja Aceh Darussalam pun bersikap diam; tidak peduli.

Namun, pengarang kitab ini Syekh Abdussalam, tidak menuduh Sultan Aceh benarbenar tidak peduli akan kerusakan akhlak rakyatnya. Raja Aceh masih kuat kekuasaannya dan sanggup mencegah krisis moral itu. Sumber kesalahannya justru terletak pada tandi bujang, uleebalang, panglima, dan pejabat bawahan lainnya yang tidak melaporkan “pesta arak” kepada Sultan Aceh. Sang pengarang juga mengkritik para alim ulama. Mereka pun telah buta hatinya yang tak mau mencegah berkembangnya maksiat itu. Hanya seorang `aulia Allah`, yakni Teungku Di Awe Geutah yang bernama Maulana Haji `Abdurrahim yang masih tetap berperan sebagai ulama yang mau menasihati masyarakat agar menjauhi perbuatan maksiat.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved