Rabu, 20 Mei 2026

Afghanistan

Parvana, Kisah Gadis Kecil Afghanistan yang Mengubah Diri Jadi Pria dan Menjual Tulang Manusia

Tanpa sengaja Parvana bertemu Shauzia di pasar, teman sekolahnya, yang juga berubah tampilan menjadi seorang bocah laki-laki.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Novel trilogi "Parvana" diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia 2011. 

Ayahnya seorang berpendidikan tinggi, tamatan Inggris. Ibunya, seorang jurnalis. Akibat perang, keluarga ini akhirnya tinggal di sebuah rumah susun kecil di Kabul.

Ayahnya yang cacat kaki berjualan di pasar rakyat, ditemani Parvana yang selalu menopang langkah ayahnya yang susah berjalan.

Ibunya tidak lagi bekerja sebagai jurnalis. Parvana juga memiliki seorang kakak dan dua adik. Umur Parvana 11 tahun.

Awalnya mereka keluarga yang berpunya. Tapi perang membuat banyak rumah penduduk hancur dihantam bom. Termasuk rumah keluarga Parvana.

Ketika Taliban menjalankan pemerintahan di Afghanistan setelah Soviet angkat kaki, kehidupan keluarga Parvana dilukiskan sangat buruk.

Saat ayahnya ditahan, Parvana menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga mencari nafkah.

Larangan perempuan berada di luar rumah, kemudian membuat Parvana harus mengubah penampilannya sebagai laki-laki dengan nama Houssin, nama adiknya yang telah meninggal dunia.

Dengan tampilan baru ini, Parvana menjalankan aktivitas berjualan di pasar.

Tanpa sengaja Parvana bertemu Shauzia di pasar, teman sekolahnya, yang juga berubah tampilan menjadi seorang bocah laki-laki.

Keduanya berjibaku mendapatkan uang untuk menutupi kebutuhan keluarga.

Parvana menjual jasa sebagai "pembaca kisah atau surat" dan menjual barang bekas. Shauzia pelayan kedai teh.

Penghasilan tidak mencukupi. Keduanya lalu bekerja sebagai pengumpul tulang manusia dari areal bekas reruntuhan bom dan taman perkuburan.

Harga Makanan Meroket di Afghanistan, Orang Tua Berjuang Beri Makan Anak-anak

Tulang-tulang manusia itu dikumpulkan lalu dijual kepada pedagang pengumpul. Parvana tidak mengerti untuk apa tulang-tulang itu digunakan.

Kakak Parvana, Nooria, siap berangkat ke Mazar E Sharief, ia akan menikah di sana.

Ia berangkat diantar ibunya. Wilayah itu, diceritakan tidak berada dalam kekuasaan Taliban, sehingga perempuan masih bisa bersekolah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved