Minggu, 3 Mei 2026

Internasional

Direktur Palang Merah Sebut Afganistan Terancam Dihantam Krisis Besar, Musim Dingin Segera Datang

Negeri Afghanistan yang dikuasai Taliban terancam dihantam krisis besar, seiring datangnya musim dingin. Kekurangan keuangan yang parah dan datangnya

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/Emmanuel DUNAND
Seorang pria memotong kayu di sebuah jalan di Kabul, Afgahnistan pada 17 November 1996. 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Negeri Afghanistan yang dikuasai Taliban terancam dihantam krisis besar, seiring datangnya musim dingin.

Kekurangan keuangan yang parah dan datangnya musim dingin dapat menimbulkan krisis kemanusiaan besar bagi Afghanistan.

Apalagi, jika uang tidak dikembalikan untuk membayar upah dan layanan, terutama perawatan kesehatan.

Hal itu dikatakan oleh Alexander Matheou, Direktur Regional Federasi Palang Merah Internasional pada Kamis (30/9/2021).

Matheou mengatakan Afghanistan akan memasuki beberapa bulan yang sangat sulit karena suhu turun.

Sehingga, katanya, akan menambah kekurangan pangan akibat kekeringan dan kemiskinan.

Pemotongan layanan kesehatan membuat banyak warga Afghanistan yang rentan, terutama di daerah pedesaan dalam bahaya.

Baca juga: Kepala Staf Gabungan AS Minta Joe Biden Tempatkan 2.500 Tentara AS di Afghanistan

Federasi Internasional Masyarakat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah meminta 36 juta CHF ($38 juta) untuk kesehatan, bantuan darurat, dan layanan lainnya di 16 provinsi.

Matheou berbicara pada konferensi pers di Kabul sehari setelah juru bicara PBB Stephane Dujarric meminta para donor mempercepat pencarian dana $606 juta.

Dikatakan, dana itu untuk membantu 11 juta warga Afghanistan untuk sisa tahun ini.

“Perlu ada beberapa solusi aliran keuangan ke Afghanistan untuk memastikan gaji dapat dibayarkan, dan listrik, air dapat diperoleh,” kata Matheou.

Disebutkan, sistem kesehatan primer membutuhkan sumber pendanaan tambahan yang independen dari kelompok bantuan agar dapat terus beroperasi, tambahnya.

Sejak Taliban menguasai Afghanistan pada Agustus 2021, Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional menghentikan pencairan dana kepada pemerintah.

Bahkan, AS membekukan miliaran dolar aset yang disimpan di rekening Amerika oleh Bank Sentral Afghanistan.

Bantuan asing sebelumnya menyumbang hampir 75% dari pengeluaran publik Afghanistan, menurut laporan Bank Dunia.

Tetapi dengan dana yang sekarang dibekukan, krisis ekonomi bakal datang.

Baca juga: Pemimpin Oposisi Suriah Minta AS Tidak Tarik Pasukan Seperti di Afghanistan

Pemotongan layanan kesehatan telah mengakibatkan 2.500 fasilitas kesehatan tidak lagi bekerja.

Bersama 20.000 staf kesehatan, 7.000 di antaranya perempuan, tidak lagi dibayar, kata Matheou.

Selama perjalanan lima hari, dia bertemu dengan para pemimpin Taliban yang menyatakan keinginannya melanjutkan bantuan kemanusiaan dan sanksi dicabut.

Sejak Taliban menyerbu Kabul pada 15 Agustus, dunia telah menyaksikan aturan keras mereka pada 1990-an.

Akibatnya, masyarakat internasional terpecah atas masalah melanjutkan bantuan ke Afghanistan.

Beberapa negara memiliki syarat, termasuk jaminan minimum hak-hak perempuan akan dilindungi.

Yang lain mengatakan kebutuhan kemanusiaan yang mendesak harus dipenuhi terlebih dahulu.

Sementara China mengirimkan pasokan musim dingin termasuk selimut dan jaket bulu ke Afghanistan.

China juga akan segera mulai menerbangkan makanan dan pasokan lainnya sebagai tetangga yang bersahabat, kata kementerian luar negeri mereka.

Juru bicara Hua Chunying mengatakan duta besar China dan penjabat menteri urusan pengungsi Taliban memenuhi pengiriman pada Rabu malam.

China, yang memiliki perbatasan dengan Afghanistan, telah mengolok-olok akhir yang kacau kehadiran AS di negara itu.

Beijing mengatakan Washington harus disalahkan atas kesulitan intensif yang sekarang dihadapi negara miskin di bawah pemerintahan Taliban.

Beijing tetap membuka kedutaan besarnya di Kabul dan menjalin hubungan diplomatik dengan Taliban.

Baca juga: VIDEO - Afghanistan Diambang Kerawanan Pangan yang Akut

Matheou mengatakan misi diplomatik yang tersisa di Kabul sejak pengambilalihan Taliban telah mengambil pendekatan praktis untuk membantu.

“Misi yang ada di sini saya katakan secara singkat berorientasi pada adaptasi pragmatis dengan kenyataan seperti sekarang,” katanya.

Dia bertemu dengan perwakilan dari Qatar, Pakistan, Turki dan Rusia.

“Kami tegas dalam mendukung hak-hak perempuan, kami tidak ragu tentang universalitas itu, tetapi sebagai penyedia layanan kami mengutamakan pelestarian kehidupan," ujarnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved