Breaking News:

Luar Negeri

Mohib Ullah Pemimpin Terkemuka Rohingya Tewas Ditembak, Kelompok Ekstremis Diduga Terlibat

Mohib Ullah adalah advokat terkemuka untuk Rohingya, kelompok minoritas yang telah lama menderita akibat penganiayaan di Myanmar.

Editor: Faisal Zamzami
AFP PHOTO/MUNIR UZ ZAMAN
Pemimpin Rohingya Mohib Ullah mengenakan pakaian tradisional berpose untuk foto di kamp pengungsi Kutupalong dekat Ukhia pada 25 Agustus 2020.(AFP PHOTO/MUNIR UZ ZAMAN) 

SERAMBINEWS.COM, DHAKA - Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyerukan penyelidikan segera, setelah Mohib Ullah, pemimpin terkemuka Rohingya ditembak mati di kamp pengungsi Bangladesh, setelah berbulan-bulan memburuknya kekerasan di pemukiman tersebut.

Mohib Ullah, yang merupakan ketua Masyarakat Arakan Rohingya untuk Perdamaian dan Hak Asasi Manusia (ARPSH), dibunuh oleh orang-orang bersenjata pada Rabu (29/9/2021) malam melansir Guardian.

Menurut polisi, ketika itu dia tengah berbicara dengan para pemimpin komunitas lainnya di luar kantornya.

Mohib Ullah adalah advokat terkemuka untuk Rohingya, kelompok minoritas yang telah lama menderita akibat penganiayaan di Myanmar.

Setelah menjadi sasaran tindakan keras militer brutal pada 2017, ratusan ribu orang Rohingya terpaksa mencari perlindungan di seberang perbatasan di Bangladesh.

Mohib Ullah mendokumentasikan pelanggaran yang dilakukan oleh militer Myanmar, dan berkampanye untuk perlindungan yang lebih besar bagi para pengungsi.

Dia juga berbicara di tingkat internasional tentang hak-hak Rohingya, melakukan perjalanan ke Gedung Putih untuk bertemu mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dan berbicara di Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHRC) pada 2019.

“Bayangkan Anda tidak memiliki identitas, tidak ada etnis, tidak ada negara. Tidak ada yang menginginkanmu. Bagaimana perasaan Anda? Inilah yang kami rasakan hari ini sebagai Rohingya…,” ujarnya dalam pidatonya kepada UNHRC ketika itu.

Saat itu, dia juga mengungkapkan genosida sistematis di Myanmar yang dialami kelompoknya selama beberapa dekade.

Menurutnya, warga Rohingya telah kehilangan kewarganegaraan, tanah, dan masjid sebagai tempat beribadah mayoritas warganya juga dihancurkan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved