Breaking News:

Jurnalisme Warga

Saat Jamaah Zikir Al-Ikhlas Ziarahi Makam Waliyullah

AHAD pagi pekan lalu, hujan membasahi Bumi Serambi Mekkah, tak terkecuali Gampong Kayee Lee di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar

Editor: bakri
Saat Jamaah Zikir Al-Ikhlas Ziarahi Makam Waliyullah
FOR SERAMBINEWS.COM
MUKHLIS SULAIMAN, S.E., M.M., Anggota Jamaah Zikir Al-Ikhlas, melaporkan dari Aceh Besar

OLEH MUKHLIS SULAIMAN, S.E., M.M., Anggota Jamaah Zikir Al-Ikhlas, melaporkan dari Aceh Besar

AHAD pagi pekan lalu, hujan membasahi Bumi Serambi Mekkah, tak terkecuali Gampong Kayee Lee di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Saat cuaca semakin sejuk, jamaah Zikir dan Pengajian Al- Ikhlas Kompleks IOM Gampong Kayee Lee siap-siap menuju ke makam-makam aulia Allah yang ada di kawasan Aceh Besar, Provinsi Aceh. Jarum jam menunjukkan pukul 08.30 WIB. Jamaah yang beranggotakan 19 orang ini naik ke mobil masing-masing sesuai yang telah diatur panitia. Satu per satu mobil bergerak meninggalkan Kayee Lee melalui Simpang Tiga.

Makam pertama yang kami kunjungi adalah makam Teungku (Tgk) Chik Pante Kulu, ulama besar Aceh, penulis karya sastra perang yang terkenal, yakni Hikayat Prang Sabil. Beliau lahir tahun 1251 H (1836 M) di Gampong Pante Kulu, Titeue, Pidie. Masih punya hubungan kekerabatan dengan kelompok ulama di Tiro, Pidie. Makam Tgk Chik Pante Kulu dikelilingi pagar bercat putih. Suasana di makam ini sejuk dan teduh berpayungkan pohon-pohon rimbun.

Lokasi makam tidak jauh dari jalan nasional Banda Aceh- Medan. Namun, dibiarkan begitu saja tanpa ada pemugaran dari pemerintah setempat. Padahal, beliau juga pahlawan Aceh seangkatan Teungku Chik Di Tiro. Makam ulama dan penulis Hikayat Prang Sabi ini terletak di areal persawahan penduduk Desa Lam Leuot, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar. Semua jamaah larut dalam keheningan dan kesejukan di bawah pepohonan yang rindang dan hujan rintik-rintik. Doa, tahlilan, dan yasinan dipimpin oleh Tgk Sabri Alamsyah, Pimpinan Dayah Darul Mubarakah Simang Tiga Aceh Besar.

Hujan gerimis masih menyelimuti sekitaran makam. Pukul 10.30 WIB seluruh jamaah bergegas melanjutkan perjalanan ziarah ke makam Teungku Chik Tanoh Abee di kawasan Lambada, Seulimum Aceh Besar. Ini dayah tertua di Asia Tenggara. Dinding dan tiang kayunya mulai lapuk. Sebagian bangunan permanen terlihat kosong dan tidak terawat. Seluruh jamaah memasuki pekarangan makam.

Kami merasakan aura kesejukan dan ketenangan saat menginjakkan kaki di depan makam Tgk Chik Tanoh Abee dan beberapa makam aulia Allah yang ada di pekarangan tersebut. Langit masih diselimuti awan hitam, pertanda hujan berpotensi turun. Kami segera berwudu dan shalat sunat dua rakaat di balai depan makam. Selanjutnya kami berdoa, yasinan, dan tahlilan seraya memanjatkan segala hajatan masing- masing melalui keberkahan dan keberkatan aulia-aulia Allah yang ada di kompleks makam tersebut.

Teungku Chik Tanoh Abee adalah ulama mujahid dan kolektor. Beliau banyak mengoleksi manuskrip kuno dan kitab-kitab ulama terdahulu, termasuk karya Syekh Hamzah Fansyuri dan Syekh Samsuddin Sumatrani dalam kajian tasawuf. Beliau berasal dari keturunan ulama dan pejuang. Asal- muasal keturunan Tgk Chik Abdul Wahab Tanoh Abee dari Timur Tengah, tepatnya dari Baghdad, Irak.

Beliau merupakan generasi kelima dari Syekh Fairus Al-Baghdady, ulama besar Baghdad yang hijrah ke Aceh pada masa Kesultanan Sultan Iskandar Muda. Tgk Chik Abdul Wahab wafat tahun 1894 dalam pengasingan. Sebelumnya, tahun 1891 telah Tgk Chik Di Tiro seusai memimpin perang selama sepuluh tahun, 1881-1891. Ini masa perang yang paling kelam dalam peperangan Belanda melawan Aceh, di mana mereka hanya mampu bertahan di benteng-benteng yang dibangun. Jarum jam menunjukkan pukul 12.20.

Cuaca sudah mulai hangat. Seluruh jamaah ziarah bergegas menuju ke Makam Jeurat Puteh Syaikh Fairus Al-Baghdady yang terletak di daerah Siron Krueng, Kecamatan Kuta Cot Glie. Makam ini tak jauh dari Makam Teungku Chiek Tanoh Abee. Sesampainya di area Makam Jeurat Puteh, terlihat tembok bercat kuning di tengah-tengah sawah yang padinya mulai menguning.

Tembok itu tampak megah dan berukuran luas. Di dalamnya terdapat ratusan makam aulia dan ulama yang berada di bawah pohon angsana besar. Tembok setinggi tiga meter berlapiskan cat kuning terlihat kontras sekali dengan hamparan persawahan di sekelilingnya. Syaikh Fairus Al Baghdady adalah pendiri Dayah Tanoh Abee yang telah ada sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda (16 Masehi). Syekh ini juga didaulat menjadi Qadhi Malikul Adil di Kesultanan Aceh. Untuk kerberkatan doa, tahlilan, dan yasinan, kami lantunkan secara bersama tanpa kami hiraukan panas dan keringat.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved