Rabu, 13 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Saat Jamaah Zikir Al-Ikhlas Ziarahi Makam Waliyullah

AHAD pagi pekan lalu, hujan membasahi Bumi Serambi Mekkah, tak terkecuali Gampong Kayee Lee di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
MUKHLIS SULAIMAN, S.E., M.M., Anggota Jamaah Zikir Al-Ikhlas, melaporkan dari Aceh Besar 

OLEH MUKHLIS SULAIMAN, S.E., M.M., Anggota Jamaah Zikir Al-Ikhlas, melaporkan dari Aceh Besar

AHAD pagi pekan lalu, hujan membasahi Bumi Serambi Mekkah, tak terkecuali Gampong Kayee Lee di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar. Saat cuaca semakin sejuk, jamaah Zikir dan Pengajian Al- Ikhlas Kompleks IOM Gampong Kayee Lee siap-siap menuju ke makam-makam aulia Allah yang ada di kawasan Aceh Besar, Provinsi Aceh. Jarum jam menunjukkan pukul 08.30 WIB. Jamaah yang beranggotakan 19 orang ini naik ke mobil masing-masing sesuai yang telah diatur panitia. Satu per satu mobil bergerak meninggalkan Kayee Lee melalui Simpang Tiga.

Makam pertama yang kami kunjungi adalah makam Teungku (Tgk) Chik Pante Kulu, ulama besar Aceh, penulis karya sastra perang yang terkenal, yakni Hikayat Prang Sabil. Beliau lahir tahun 1251 H (1836 M) di Gampong Pante Kulu, Titeue, Pidie. Masih punya hubungan kekerabatan dengan kelompok ulama di Tiro, Pidie. Makam Tgk Chik Pante Kulu dikelilingi pagar bercat putih. Suasana di makam ini sejuk dan teduh berpayungkan pohon-pohon rimbun.

Lokasi makam tidak jauh dari jalan nasional Banda Aceh- Medan. Namun, dibiarkan begitu saja tanpa ada pemugaran dari pemerintah setempat. Padahal, beliau juga pahlawan Aceh seangkatan Teungku Chik Di Tiro. Makam ulama dan penulis Hikayat Prang Sabi ini terletak di areal persawahan penduduk Desa Lam Leuot, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar. Semua jamaah larut dalam keheningan dan kesejukan di bawah pepohonan yang rindang dan hujan rintik-rintik. Doa, tahlilan, dan yasinan dipimpin oleh Tgk Sabri Alamsyah, Pimpinan Dayah Darul Mubarakah Simang Tiga Aceh Besar.

Hujan gerimis masih menyelimuti sekitaran makam. Pukul 10.30 WIB seluruh jamaah bergegas melanjutkan perjalanan ziarah ke makam Teungku Chik Tanoh Abee di kawasan Lambada, Seulimum Aceh Besar. Ini dayah tertua di Asia Tenggara. Dinding dan tiang kayunya mulai lapuk. Sebagian bangunan permanen terlihat kosong dan tidak terawat. Seluruh jamaah memasuki pekarangan makam.

Kami merasakan aura kesejukan dan ketenangan saat menginjakkan kaki di depan makam Tgk Chik Tanoh Abee dan beberapa makam aulia Allah yang ada di pekarangan tersebut. Langit masih diselimuti awan hitam, pertanda hujan berpotensi turun. Kami segera berwudu dan shalat sunat dua rakaat di balai depan makam. Selanjutnya kami berdoa, yasinan, dan tahlilan seraya memanjatkan segala hajatan masing- masing melalui keberkahan dan keberkatan aulia-aulia Allah yang ada di kompleks makam tersebut.

Teungku Chik Tanoh Abee adalah ulama mujahid dan kolektor. Beliau banyak mengoleksi manuskrip kuno dan kitab-kitab ulama terdahulu, termasuk karya Syekh Hamzah Fansyuri dan Syekh Samsuddin Sumatrani dalam kajian tasawuf. Beliau berasal dari keturunan ulama dan pejuang. Asal- muasal keturunan Tgk Chik Abdul Wahab Tanoh Abee dari Timur Tengah, tepatnya dari Baghdad, Irak.

Beliau merupakan generasi kelima dari Syekh Fairus Al-Baghdady, ulama besar Baghdad yang hijrah ke Aceh pada masa Kesultanan Sultan Iskandar Muda. Tgk Chik Abdul Wahab wafat tahun 1894 dalam pengasingan. Sebelumnya, tahun 1891 telah Tgk Chik Di Tiro seusai memimpin perang selama sepuluh tahun, 1881-1891. Ini masa perang yang paling kelam dalam peperangan Belanda melawan Aceh, di mana mereka hanya mampu bertahan di benteng-benteng yang dibangun. Jarum jam menunjukkan pukul 12.20.

Cuaca sudah mulai hangat. Seluruh jamaah ziarah bergegas menuju ke Makam Jeurat Puteh Syaikh Fairus Al-Baghdady yang terletak di daerah Siron Krueng, Kecamatan Kuta Cot Glie. Makam ini tak jauh dari Makam Teungku Chiek Tanoh Abee. Sesampainya di area Makam Jeurat Puteh, terlihat tembok bercat kuning di tengah-tengah sawah yang padinya mulai menguning.

Tembok itu tampak megah dan berukuran luas. Di dalamnya terdapat ratusan makam aulia dan ulama yang berada di bawah pohon angsana besar. Tembok setinggi tiga meter berlapiskan cat kuning terlihat kontras sekali dengan hamparan persawahan di sekelilingnya. Syaikh Fairus Al Baghdady adalah pendiri Dayah Tanoh Abee yang telah ada sejak pemerintahan Sultan Iskandar Muda (16 Masehi). Syekh ini juga didaulat menjadi Qadhi Malikul Adil di Kesultanan Aceh. Untuk kerberkatan doa, tahlilan, dan yasinan, kami lantunkan secara bersama tanpa kami hiraukan panas dan keringat.

Kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk bermunajat kepada Allah dan memohon keberkahan doa dan hajatan melalui aulia-aulia Allah yang ada di Pemakaman Jeurat Puteh. Langit semakin cerah, matahari mulai panas dan membuat raut wajah memerah. Sudah pukul 13.30 WIB, perut mulai keroncongan, tapi target belum selesai.

Sasaran selanjutnya adalah Makam Teuku Panglima Polem. Tak jauh dari makam Jeurat Puteh. Terletak di Gampong Lamsie, Kuta Cot Glie, Aceh Besar. Semua kendaraan kami melaju beriringan membelah areal persawahan dan perkampungan penduduk. Sesampainya di lokasi pemakaman Teuku Panglima Polem bergegas kami memasuki kompleks pemakaman karena mengejar waktu shalat Zuhur dan makan siang.

Setelah tahlil, tahmid, dan doa kami panjatkan serta memohon kerberkahan doa melalui para aulia Allah yang ada di makam tersebut, kami pun bergegas meninggalkan makam menuju Pasar Indrapuri. Panglima Polem bernama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud.

Beliau seorang panglima Aceh. Namun, sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas mengenai tanggal dan tahun kelahiran Panglima Polem. Yang jelas, ia berasal dari keturunan ulama dan kaum bangsawan Aceh. Pada pukul 14.15 WIB, seluruh jamaah meninggalkan Makam Teuku Panglima Polem.

Kami menuju pusat kota Indrapuri untuk shalat Zuhur dan makan siang. Setelah itu kami lanjutkan ziarah ke Makam Teuku Chiek Di Tiro, tak jauh dari pusat Pasar Indrapuri. Teungku Muhammad Saman atau Chik Di Tiro lahir di Tiro, Pidie, pada 1 Januari 1836. Beliau seorang pejuang gerilya yang berasal dari Aceh. Ia menjadi tokoh yang rela mengorbankan harta benda, kedudukan, serta nyawanya demi tegaknya agama Islam dan daulat bangsa.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved