Jurnalisme Warga
Saat Jamaah Zikir Al-Ikhlas Ziarahi Makam Waliyullah
AHAD pagi pekan lalu, hujan membasahi Bumi Serambi Mekkah, tak terkecuali Gampong Kayee Lee di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar
Keyakinannya ini kemudian dibuktikan dalam kehidupan nyata melalui Perang Aceh pada 1881. Chik Di Tiro berhasil merebut wilayah-wilayah yang selama ini sudah diduduki Belanda, sehingga Pemerintah Indonesia menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Dalam kompleks yang sudah dipugar dan terawat tersebut terdapat tiga makam yang bersebelahan, yaitu makam Teungku Chik Di Tiro, makan Tengku Muhammad Amin (anak Teungku Chik Di Tiro), dan makam Dr Hasan Muhammad Tiro (cucu Tengku Chik Dii Tiro). Dr Hasan Muhammad di Tiro adalah deklarator Aceh Merdeka, sebuah gerakan yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari NKRI.
Semua jamaah larut dalam keheningan dan rasa takjub terhadap sosok aulia Allah yang ada di makam tersebut. Doa, tahmid, tahlil, dan yasinan kami lantunkan sebagaimana di makam-makam aulia lainnya. Pada pukul 16.40 WIB, seluruh jamaah menunaikan shalat Asar di balai dalam Kompleks makam Teungku Chik Di Tiro.
Selanjutnya, kami menuju makam aulia Allah yang terakhir, yaitu makam Teungku Chiek Eumpe Awee yang terletak di Desa Atong, Kecamatan Montasik, Aceh Besar. Kendaraan kami menembus pedalaman Indrapuri melewati Jalan Tol Sibanceh.
Masuk melalui Gerbang Tol Indrapuri- Blang Bintang, semua kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Susana jalan tol yang hening dan sepi, memacu adrenalin sopir untuk tancap gas full dengan menempuh jarak lebih kurang 20 km ke lokasi makam. Sesampainya di makam Tgk Chiek Eumpe Awee, susana mulai hening karena jauh dari perkampungan penduduk. Pepohonan yang rindang membuat suasana semakin adem. Makam yang terletak di atas bukit itu membuat penasaran semua jamaah untuk cepat-cepat naik ke atas guna melantunkan doa dan yasinan. Hari semakin sore, sinar matahari mulai meredup yang terpancar lewat dedaunan.
Suasana makin hening dan membuat bulu roma merinding karena takjub. Lantunan doa, yasinan, tahlil, dan tahmid kami baca bersamasama dengan mengharapkan keridaan dan keberkahan dari aulia Allah yang ada di pekarangan makam tersebut. Tengku Syekh Said A. Samad Eumpe Awee dilahirkan pada tahun 1598 di Desa Warabo Montasik, Aceh Besar. Beliau ulama legendaris Aceh, penganut ajaran Ahlul Sunnah wal Jamaah di awal Kerajaan Sultan Iskandar Muda.
Pukul 18.30 WIB, hari mulai gelap, ritual ziarah kami padai karena waktu shalat Magrib sudah dekat. Seluruh jamaah bersiap-siap naik ke kendaraan untuk pulang ke rumah masingmasing melanjutkan tugas dan kewajiban sehari-hari.
Ada hikmah di balik ziarah ke makam wali-wali Allah, di samping akan mendatangkan keberkahan bagi para peziarah juga menyadarkan mereka akan kealiman dan kesalehan orang yang berada di alam kubur. Ziarah kubur juga mengingatkan kita akan kehidupan akhirat, yaitu sebuah fase masa depan yang penuh dengan keabadian. Ziarah kubur juga dapat meningkatkan kezuhudan mengenai berbagai hal kehidupan di dunia.
Ziarah yang kami lakukan ini bukan sebatas datang ke area pemakaman, melainkan untuk mengingat kematian dan masa depan akhirat yang akan dilalui manusia. Dengan ziarah kubur, manusia akan mempersiapkan diri lebih baik dalam kehidupan sehari- hari, dan akan mendapatkan percikan rahmat dari Allah serta semoga Allah matikan para peziarah dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin ya rabbal'alamin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mukhlis-sulaiman-se-mm-anggota-jamaah-zikir-al-ikhlas-melaporkan-dari-aceh-besar.jpg)