Internasional

WHO Dukung Vaksin Malaria Pertama di Dunia, Sebagai Momen Bersejarah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengesahkan vaksin malaria pertama di dunia. WHO mengatakan harus diberikan kepada anak-anak di seluruh Afrika

Editor: M Nur Pakar
AP/Karel Prinsloo/File
Seorang ibu menggendong bayinya yang menerima vaksin malaria baru sebagai bagian dari percobaan di Pusat Penelitian Proyek Walter Reed di Kombewa, Kenya Barat pada 30 Oktober 2009. 

Tetapi menunjuk pada vaksin yang dikembangkan untuk virus Corona sebagai contoh yang menggembirakan.

“Dua tahun terakhir telah memberi kita pemahaman tentang betapa pentingnya vaksin dalam menyelamatkan nyawa dan mengurangi rawat inap," jelasnya.

"Bahkan jika itu tidak secara langsung mengurangi penularan,” katanya.

Baca juga: Capai Target Vaksin yang Ditetapkan WHO, Indonesia Masuk 10 Besar Negara dengan Suntikan Terbanyak

Dr Alejandro Cravioto, kepala kelompok vaksin WHO yang membuat rekomendasi, mengatakan merancang suntikan malaria sangat sulit.

Dia beralasan, sebuah penyakit parasit yang disebarkan oleh nyamuk.

"Kita dihadapkan dengan organisme yang luar biasa kompleks," katanya.

“Kami belum mencapai vaksin yang sangat manjur, tetapi kami miliki vaksin yang dapat digunakan dan itu aman," tambahnya.

WHO mengatakan efek samping jarang terjadi, tetapi terkadang termasuk demam yang dapat menyebabkan kejang sementara.

Sian Clarke, co-director Malaria Center di London School of Hygiene and Tropical Medicine, mengatakan vaksin itu akan menjadi tambahan yang berguna.

Ditambahkan, sebagai alat lain melawan penyakit yang mungkin telah kehabisan kegunaannya setelah digunakan beberapa dekade, seperti kelambu dan insektisida. .

“Di beberapa negara yang sangat panas, anak-anak hanya tidur di luar, sehingga mereka tidak dapat dilindungi oleh kelambu,” kata Clarke.

“Jadi jelas jika mereka sudah divaksinasi, mereka akan tetap terlindungi," ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, sedikit kemajuan yang signifikan telah dibuat melawan malaria, kata Clarke.

“Jika kita ingin mengurangi beban penyakit sekarang, kita membutuhkan sesuatu yang lain,” jelasnya.

Azra Ghani, ketua penyakit menular di Imperial College London, memperkirakan vaksin malaria kepada anak-anak di Afrika dapat menghasilkan pengurangan 30% kasus.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved