Senin, 15 Juni 2026

Opini

Komunikasi Sosial Elite Aceh di Era Pandemi

Kadis Pendidikan yang semestinya menjadi teladan, baik dari segi kata-kata maupun sikap, kali ini malah menjadi ‘harimau’

Tayang:
Editor: bakri
For Serambinews.com
Herman RN, Dosen FKIP USK dan Ketua Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) Provinsi Aceh 

Saya tidak habis pikir, mengapa para elite di Aceh sekarang sangat suka dengan bahasa ancaman? Ketika saya buka lembar hikayat, termasuk hikayat perang Aceh, orang Aceh sebenarnya sangat lembut hatinya, sangat lentur bahasanya. Orang Aceh tidak suka ancam-mengancam, kecuali untuk musuh (kaphe). Lantas, apakah Kadis Pendidikan dan Sekda Aceh sudah menganggap seluruh masyarakat Aceh sebagai musuh sehingga selalu diancam?

Kadis Pendidikan dan Sekda Aceh harus banyak literasi. Dunia pendidikan adalah dunia literasi, dunia iqra, dunia perasaan, bukan dunia ancaman. Jangan menjadi harimau di tengah kota, yang suka mengaum ke sana sini untuk menakuti orang.

Membuat orang menjadi takut bukanlah teladan yang baik. Hati masyarakat Aceh tidak terbuat dari batu, bukan tercipta dari baja. Hati masyarakat Aceh tercipta dari daging lembut dan lunak. Makanya ada hadih maja ureueng Aceh hanjeut teupeh; meunyo teupeh, bu leubeh han jipeutaba; meunyo hana teupeh, bak mareh jeut taraba.

Apakah Kadis Pendidikan dan Sekda Aceh bukan orang Aceh sehingga suka mengancam orang Aceh? Sekali lagi, orang Aceh itu cinta damai, tidak kasar, lembut tutur katanya. Jika tidak percaya, silakan literasi naskah-naskah dan hikayat Aceh. Orang Aceh hanya mengancam musuh, bukan sesama Aceh.

Sebuah strategi

Jika memang Kadis Pendidikan dan Sekda Aceh panik dengan kedatangan Presiden Jokowi ke Aceh sehingga kehilangan strategi komunikasi, sebaiknya Kadis dan Sekda bertanya kepada orang lain. Apa langkah dan strategi yang cocok untuk mengatasi vaksinasi di sekolah yang masih sangat minim. Tak usah malu bertanya pada orang lain.

Bertanya tidak akan meruntuhkan kredibilitas dan kapasitas seseorang sebagai Kadis atau Sekda.

Dalam kesempatan ini, saya tawarkan sebuah strategi komunikasi yang mungkin dapat dilakukan oleh Sekda, Kadis Pendidikan, bahkan Gubernur Aceh. Cobalah berkomunikasi dengan bahasa apresiatif, jangan ancaman. Orang Aceh itu suka dipuji, bukan dicaci.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mempersiapkan apresiasi, baik berupa dana, jabatan, atau hadiah dalam bentuk lain. Komunikasikan dengan baik bahwa kepala sekolah dan sekolah yang mampu melakukan vaksinasi siswa dan guru sesuai target akan diberikan hadiah (bonus) dari Dinas Pendidikan Aceh.

Demikian halnya oleh Pemerintah Aceh (gubenur dan sekda), bisa menjanjikan bonus tertentu bagi instansi yang mampu melaksanakan vaksinasi pegawainya. Namun, harus diingat, tak cukup sekadar janji, harus ada bukti. Masyarakat Aceh sudah jenuh dengan janji, tetapi tidak ada bukti. Masyarakat Aceh sudah jemu dengan tebaran kata, tetapi tidak ada fakta.

Maka, carilah strategi apresiatif yang sesuai dengan kondisi masyarakat kekinian, jangan bahasa ancaman yang mengundang ricuh dan gaduh. Berbenahkan Kadis. Berubahlah Sekda. Jabatan itu hanya sementara. Jangan menjadi harimau di tengah kota!

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved