Internasional
Migran Hadapi Siksaan Berat di Libya, Bayar Denda Sampai Jadi Budak
Sejumlah migran yang ditangkap di Libya mendapat siksaan berat saat dimasukkan ke dalam penjara. Seperti yang dialami Osman Touré yang menangis
SERAMBINEWS.COM, TRIPOLI - Sejumlah migran yang ditangkap di Libya mendapat siksaan berat saat dimasukkan ke dalam penjara.
Seperti yang dialami Osman Touré yang menangis kesakitan karena dipukuli dan disiksa berulang-ulang saat memutar nomor ponsel saudaranya.
“Saya dimasukkan dalam penjara Libya,” kata Touré dalam panggilan telepon Agustus 2017 itu.
“Mereka akan membunuh saya jika Anda tidak membayar 2.500 dinar dalam 24 jam," ungkapnya, seperti dilansir AP, Rabu (13/10/2021).
Dalam beberapa hari, keluarga Touré mentransfer sekitar $550 yang diminta untuk mengamankan kebebasannya dari pusat penahanan di Libya.
Tapi Touré tidak dilepaskan, sebaliknya, dia dijual kepada seorang pedagang dan terus diperbudak selama empat tahun.
Touré hanya satu di antara puluhan ribu migran yang telah mengalami penyiksaan, kekerasan seksual dan pemerasan di penjaga penjara di Libya.
Baca juga: Tentara Asing dan Bayaran Akan Segera Hengkang dari Libya
Libya telah menjadi gerbang utama migran melarikan diri dari kemiskinan dan perang di Afrika dan Timur Tengah, berharap kehidupan yang lebih baik di Eropa.
Warga Guinea berusia 25 tahun, bersama dengan dua lusin migran lainnya, berbicara kepada wartawa AP di atas Geo Barents.
Sebuah kapal penyelamat yang dioperasikan oleh kelompok bantuan medis Doctors without Borders di Mediterania, lepas pantai Libya.
Sebagian besar ditahan di gudang perdagangan dan pusat penahanan pemerintah di Libya barat selama empat tahun terakhir.
Mereka termasuk di antara 60 migran yang melarikan diri dari Libya pada 19 September 2021.
Mereka lari dengan dua perahu yang tidak layak dan diselamatkan sehari kemudian oleh Geo Barents.
Uni Eropa telah mengirim 455 juta euro ke Libya sejak 2015.
Sebagian besar disalurkan melalui badan-badan PBB.