Internasional

Migran Hadapi Siksaan Berat di Libya, Bayar Denda Sampai Jadi Budak

Sejumlah migran yang ditangkap di Libya mendapat siksaan berat saat dimasukkan ke dalam penjara. Seperti yang dialami Osman Touré yang menangis

Editor: M Nur Pakar
AP/Samy Magdy
Migran Guinea Osman Touré menunggu giliran tes Covid-19 di kapal Geo Barents sebelum turun di pelabuhan Sisilia, Italia, Rabu (29/9/2021). 

Mereka dibawa ke Sisilia, di mana pihak berwenang Italia mengizinkan kapal penyelamat berlabuh pada 27 September 2021.

Kemudian, membiarkan para migran mengajukan permohonan suaka.

Mereka masih bisa dikembalikan ke negara asal mereka jika permintaan mereka ditolak.

Touré dan migran lainnya mengatakan ada rasisme di balik pelecehan mereka di Libya.

Laporan PBB menemukan hal yang sama, orang Afrika sub-Sahara Hitam cenderung menjadi sasaran perlakuan yang lebih keras daripada yang lain.

“Libya bukanlah tempat yang aman bagi orang Afrika Hitam,” kata Touré.

Untuk beberapa, khususnya para migran Arab, cobaan itu berakhir tanpa penahanan, selama mereka membayar.

Waleed, seorang Tunisia, mengatakan dia menyuap penjaga empat kali di pelabuhan Tripoli dan berjalan bebas.

Mohammed, seorang Maroko, juga mengatakan dia dibebaskan di pelabuhan pada 2020 dengan menyerahkan 3.000 dinar aau $660 .

Kedua pria itu hanya memberikan nama depan karena takut akan keselamatan anggota keluarga yang masih berada di Libya.

Penjaga pantai Libya telah mencegat sekitar 87.000 migran di Mediterania sejak 2016, termasuk sekitar 26.300 sejauh tahun ini, menurut angka PBB.

Tetapi hanya sekitar 10.000 yang berada di pusat-pusat penahanan, menurut badan migrasi PBB.

Sehingga, meningkatkan kekhawatiran, banyak yang berada di tangan kelompok kriminal dan pedagang, dan yang lainnya mati.

Laporan PBB tidak menyebutkan tersangka, mengatakan penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan siapa yang bersalah.

Tetapi para migran dan lainnya di dalam Libya mengatakan masalah ini sudah jelas.

Baca juga: Para Migran Jadi Korban Kekerasan Seksual dan Pembunuhan di Libya

Dimana, milisi dan panglima peranglah yang telah menjadi tokoh pemerintah yang kuat di banyak daerah.

Kota pesisir Zawiya, di mana pusat penahanan al-Nasr Martyrs berada, dikendalikan oleh milisi Nasr Martyrs.

Sebuah kelompok yang memiliki keputusan akhir tentang semua masalah keamanan dan militer kota.

“Ini adalah mafia yang terhubung dengan baik dengan pengaruh di setiap sudut pemerintahan,” kata seorang pejabat Libya.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved