Breaking News:

Opini

Saat ‘Manok Uteun’ Jadi Kepala Oditur Militer Tinggi

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menaikkan pangkat 60 perwira tinggi (pati). Para perwira tinggi yang naik pangkat itu berasal dari TNI AD, AL, ma

Editor: hasyim
Saat ‘Manok Uteun’ Jadi Kepala Oditur Militer Tinggi
ist
Oleh. J. KAMAL FARZA, Advokat asal Aceh, bermukim di Jakarta, melaporkan dari Jakarta

Untuk mengejar “mimpi” jadi lawyer di Ibu Kota, Azhar berangkat ke Jakarta satu hari setelah diwisuda. Sesampainya di Jakarta dia kenal dengan Teuku Nasrullah SH, Dosen FH UI yang saat itu sudah menjadi advokat. Atas rekomendasi dari Teuku Nasrullah  dan berdasarkan hasil tes, Azhar diterima bergabung di Law Firm “Hetty Novian Harahap & Partners”, salah satu law firm  yang banyak menangani perkara korporasi dan pertanahan. “Saya kebetulan memahami bidang hukum (agraria) tersebut,” ujar Azhar penuh percaya diri.

Beberapa bulan  menjadi lawyer, Azhar muda tertarik mengikuti seleksi  penerimaan Sekolah Perwira Wajib Militer (sekarang perwira karier)  melalui Panitia Daerah Kodam Jaya. Ketertarikan  menjadi tentara pada waktu itu karena hampir semua bidang “dikuasai oleh tentara” dan sepertinya kelihatan gagah sebagai garda terdepan dan benteng terakhir penjaga NKRI.    

“Saya melamar, ikut tes, dan alhamdulillah diterima. Peruntungan saya sedang bagus waktu itu. Padahal, yang melamar sangat banyak, seluruh Indonesia yang diterima untuk tiga matra AD, AL, AU hanya 152 orang dari berbagai disiplin ilmu.“ ucap Azhar bangga.

“Saya yakin diterima sebagai perwira TNI, karena doa ibu saya yang berharap anaknya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara,” ujar Brigjen Azhar terharu sambil mengusap air mata mengenang ibunya yang telah meninggal beberapa tahun lalu. 

Setelah dilantik menjadi perwira,  selama sepuluh tahun Azhar ditugaskan menjadi pelatih dan guru militer di Pusat Pendidikan Hukum TNI AD.  Tahun 2003,  setelah selesai Pendidikan Lanjutan Perwira, alumnus Notariat FH UI ini ditugaskan di Kodam VI/Tanjungpura Kalimantan Timur.  Pada tahun 2006  Azhar  mendapat tugas baru di satuan Hukum Kodam Iskandar Muda dan anggota Tim Analis Intelijen. Hanya tiga tahun berdinas di Kodam Iskandar Muda, ayahanda dari Azli Akbar Albanna  (Mahasiswa Notariat USU) ini ditugaskan di satuan Hukum Kodam I Bukit Barisan. “Hanya enam bulan berdinas di Medan, karena waktu itu saya dapat promosi jabatan Letkol di Direktorat Hukum TNI AD Jakarta,” ujar alumnus Sepamilwa tahun 1993 ini.

 Selama di Direktorat Hukum TNI AD, Azhar banyak menyelesaikan perkara aset TNI AD, khususnya sengketa kepemilikan tanah. Ilmu tentang hukum pertanahan yang diperoleh dari  Prof AP Parlindungan (dosen terbang USK) dan Prof  Boedi Harsono di Program  Magister Kenotariatan FH UI, membuat Azhar lebih percaya diri dalam menyelesaikan sengketa kepemilikan tanah aset TNI.

Ada satu perkara pidana yang ditanganinya yang sulit untuk dilupakan sampai kapan pun, yaitu kasus Cebongan (penembakan yang dilakukan beberapa prajurit Kopassus terhadap pelaku pembunuhan anggota Kopassus atas nama Sertu Heru Santoso di Hugos Coffee. “Seingat saya belum ada pelaku tindak pidana pembunuhan yang ‘dielu-elukan’ oleh rakyat layaknya seperti pahlawan. Serda Ucok cs yang diminta pertanggungjawaban pidana dalam kasus tersebut justru mendapat apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Yogyakarta khususnya,” ujar mantan Pengurus Keluarga Muda Alumni Penerima Beasiswa Supersemar Tahun 1989 Cabang USK ini.

Bakat sebagai pemimpin sudah ditunjukkan oleh suami Lisa Idris ini. Ketika di bangku SMP dan SMA, Azhar terpilih menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Mantan Kepala Bidang Umum Babinkum TNI kelahiran Aceh Utara 13 Juli 1968 ini, juga pernah menjadi Ketua I Senat Mahasiswa FH USK. “Saya pernah ditunjuk mewakili yudisiawan untuk menyampaikan pidato pada saat yudisium di Kampus Hukum USK. Orasi saya katanya bagus, tapi teman-teman bilang, kritik saya kepada pimpinan fakultas waktu itu terlalu keras. Tujuan saya untuk perbaikan,“ kenangnya tersenyum.

Namun, Azhar mengakui semua dosen di FH USK sangat profesional dan kredibilitasnya juga luar biasa. “Saya sangat kagum dengan dosen-dosen FH USK, mereka sangat objektif  dalam memberi nilai dan jauh dari praktik transaksional,” imbuhnya meyakinkan.

Sang Jenderal ingin mengulangi kisah ini, berpidato di depan adik-adiknya, mahasiswa USK. Dan dialah jenderal pertama dari kampus negeri yang sudah berusia 60 tahun ini. “Saya ingin sesekali pulang, memberi motivasi kepada adik-adik mahasiswa agar mereka memiliki semangat tinggi, bercita-cita tinggi, memiliki pikiran positif, dan memiliki semangat tinggi untuk bertarung di Ibu Kota, menjadi manok uteun,” harapnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved