Breaking News:

Jurnalisme Warga

Halua Bluek, Kuliner Pidie yang Mirip Dodol

Rasa-rasanya, semakin menyelami Pidie, semakin banyak hal unik yang kiranya patut kita bagikan kepada masyarakat luas

Editor: bakri
Halua Bluek, Kuliner Pidie yang Mirip Dodol
IST
MUHAMMAD SYAWAL DJAMIL, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie, dan aktif di Komunitas Beulangong Tanoh, melaporkan dari Sigli

Hanya di Kemukiman Bluek

Halua bluek merupakan salah satu makanan khas Pidie yang hanya diproduksi oleh masyarakat yang bertempat di Kemukiman Bluek, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, Aceh. Kemukiman Bluek terdiri atas belasan desa yang terbagi ke dalam tiga kemasjidan, yaitu kemasjidan Bluek Grong-Grong, kemasjidan Bluek Gle Cut, dan kemasjidan Bluek Ulee Gampong.

Belakangan ini masyarakat yang memiliki skill atau keterampilan dalam membuat halua bluek hanya terkonsentrasi di dua desa, yaitu Desa Bluek Balee Baroh (juga dikenal dengan nama bluek halua) dan di Desa Bluek Lamreuneung. Kalaupun di desa lain dijumpai warga yang membuat halua bluek, maka bisa dipastikan warga tersebut berasal atau pindahan dari kedua desa tersebut.

Halua bluek--sebagaimana saya sebutkan di awal--terbuat dari tepung terigu, tepung ketan, santan, manisan, dan air mineral. Halua bluek hampir sama dan mirip dengan makanan khas Aceh lainnya, yaitu dodol. Hanya saja perbedaannya adalah pada tekstur dan warnanya. Jika dodol teksturnya agak lembut dan agar cair serta berwarna kuning cerah, maka halua bluek tekturnya agak lebih keras dan warnanya agak kuning kemerah-merahan.

Dilihat sepintas, antara dodol dan halua bluek memang tidak ada perbedaan yang kentara. Namun, ketika ditelisik dari dekat, kita mencicipinya, baru dapat diketahui ternyata antara dodol dan halua bluek memang memiliki perbedaan.

Mengolah halua bluek tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Ini karena dalam prosesnya membutuhkan keterampilan khusus juga. Makanya, untuk memasak halua bluek haruslah orang yang sudah berpengalaman. Halua bluek dimasak dalam bejana yang besar, kemudian diaduk secara berpola dengan durasi waktu dan tempo kurang lebih delapan jam. Sembari diaduk, ditambahkan juga santan dan manisan dengan takaran yang sudah ditentukan.

Tak jarang, karena dimasak oleh bukan ahlinya atau orang belum berpengalaman, halua bluek menjadi makanan yang gagal, tak bisa dimakan. Kemudian, ada juga kejadian, meskipun dimasak lengkap dengan bahan bakunya, tapi halua muncul dengan wujud yang tidak sesuai harapan, karena teksturnya keras. Ini terjadi karena dalam proses memasaknya dijalankan tidak sesuai.

Untuk itu pula, lazimnya seorang ahli masak halua bluek, jauh-jauh hari mereka akan mencari kelapa tua khusus untuk diparut lalu diambil santannya. Mereka menyebutnya dengan istilah ‘u  bungong jeumpa’. Setelah didapati kelapanya akan disimpan dulu, sampai kemudian pada waktu tertentu baru kelapanya dibelah dan diparut untuk diambil santannya.

Dalam memasak halua bluek memang boleh di sembarang waktu, misalnya tanpa terikat sanksi atau adat tertentu. Namun demikian, bagi masyarakat Pidie memasak halua bluek punya hari-hari khusus. Seperti pada hari-hari besar dalam Islam dan hari pekan rakyat. Namun demikian, masyarakat Pidie umumnya memasak halua bluek saat tibanya hari meugang puasa dan meugang Lebaran.

Keterampilan warisan

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved