Terkait Bisnis PCR PT GSI, Ini Penjelasan Luhut dan Bos Indika
Menko Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menjadi salah satu pejabat yang disebut terlibat bisnis tersebut.
Lantaran saat awal pandemi, jumlah perusahaan yang menyediakan tes PCR masih sangat sedikit.
GSI pun didirikan dalam bentuk perseroan terbatas atau PT karena alasan keberlangsungan dalam jangka panjang.
Sehingga GSI tidak dibentuk dalam format yayasan.
"Waktu itu saya diskusi sama Pak Doni (Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo). Salah satu yang jadi masalah di Indonesia saat itu adalah testing PCR. Kita dulu masih sedikit sekali. Pada saat itu hanya 10.000 untuk seluruh Indonesia," kata Arsjad seperti dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Dilaporkan ke KPK Terkait Bisnis PCR, Jubir Luhut Sebut Ada Unsur Politik
Baca juga: Dituduh Terlibat Bisnis PCR, Luhut Punya Harta Rp745 M dan Erick Thohir Rp2 T
Menurutnya, GSI bisa menjadi contoh bahwa mendirikan PT bukan semata mengejar keuntungan, tapi juga mempunyai misi sosial.
Kewirausahaan sosial yang diusung GSI itu sudah banyak diterapkan di negara lain.
"Saya bilang kalau boleh, kita PT saja ya. Tapi kita buat karakteristiknya PT sosial supaya kita bisa berikan percontohan juga nanti untuk entitas sosial," ujar Arsjad.
"Karena untuk sustainability. Nah, actually saya pushing buat kewirausahaan khususnya kewirausahaan sosial. Seperti yang ada di AS, UK, Singapura. Jadi social enterprise," tambahnya
Selain Garibaldi Thohir, Arsjad juga menghubungi Pandu Patria Sjahrir yang merupakan direktur di PT Toba Bara Sejahtera Tbk. Pandu merupakan anak dari Kartini Sjahrir, adik Luhut Pandjaitan.
Namun, Arsjad menegaskan ia tidak pernah menghubungi Luhut dan Erick secara langsung terkait pendirian GSI.
Setelah bertemu Doni Minardi, Arsjad juga sempat bertemu dengan profesor dari Oxford yang sedang berkunjung ke Indonesia.
Dari pertemuan itu, pihaknya mendapatkan penjelasan mengenai pandemi Covid-19 dan tes PCR.
"Lalu kami cek siapa saja yang punya teknologi PCR waktu itu, ada China, AS, Eropa dan lain-lain. Kita akhirnya mencari akses untuk mencari mesin itu (PCR)," ucap Arsjad.
"Kita lalu mikir ini suatu yang akan diberikan. Tapi mau diberikan ke mana? Apa Kemenkes atau mana. Kami mikir waktu itu kalau kita beli sesuatu lalu diberikan, biasanya suka saja hilang, atau tidak jalan lagi atau bagaimana," ucapnya.
Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri, murni untuk melayani keperluan tes PCR bagi masyarakat yang sangat membutuhkan.