Berita Banda Aceh
Rahmat Maulizar Terobos Pedalaman Aceh agar Anak Bibir Sumbing Dapat Tersenyum
Rahmat Maulizar, Social Worker Smile Train Indonesia Area Aceh di Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh
Penulis: Muhammad Hadi | Editor: Nurul Hayati
Bahkan Rahmat bercerita pengalaman menerobos pedalaman untuk mencari anak bibir sumbing. Ia berkeliling Aceh hingga ke pedalaman pakai motor Trail. Perjalanannya hingga ke pedalaman Aceh Tamiang, Aceh Utara, Simpang Jernih Aceh Timur, Lesten Gayo Lues, Tongra Gayo lues dan Kuala Baru Aceh Singkil dan Pulo Aceh, Aceh Besar. Selain menerobos jalan rusak, berlumpur, Rahmat juga harus mengarungi sungai dengan perahu untuk mencapai lokasi tujuan di pedalaman Aceh.
“Rahmat pernah sepeda motor bocor ban di tengah hutan. Terus pernah tidur di meunasah saat turun ke pedalaman. Pernah rem blong sepeda motor Trail saat menurun pendakian. Bahkan sering terjungkal juga pernah. Rahmat pernah menembus mulai jalan Babahrot-Tongra - Blangkejeren - Pinding - Lokop hingga ke Peureulak Aceh Timur pakai Trail saat mencari pasien bibir sumbing di pedalaman Aceh,” ujar cerita pengalaman Rahmat.
Kadang Rahmat juga menggandeng kepala daerah dan instansi lain untuk operasi bibir sumbing sehingga orang tua si anak tak perlu datang jauh-jauh ke Banda Aceh. Sehingga anak-anak bibir sumbing di daerah ada yang tak perlu datang ke Banda Aceh.
Baca juga: VIDEO - Mahasiswa Minta KPK Usut Kasus Bisnis PCR dan Tangkap Koruptor di 23 Kabupaten/Kota di Aceh
Kebahagiaan orang tua yang anak-anaknya telah operasi bibir sumbing terlihat jelas. Saat Rahmat turun ke daerah-daerah mencari anak-anak lain untuk operasi bibir sumbing disambut bak pahlawan. Para orang tua anak-anak yang sudah sembuh setelah operasi bibir sumbing mengundangnya ke rumah. Mereka menyambut Rahmat Maulizar bak seorang pahlawan yang sangat berjasa bagi keluarganya. Rahmat pun bisa bertemu dengan anak-anak yang sudah sembuh dan bisa tersenyum kembali seperti anak-anak biasanya.
“Kegiatan sosial yang Rahmat lakukan, yakni operasi bibir sumbing ada sesuatu kepuasan batin setelah kita bantu. Karena setelah kita operasi anaknya, dia menganggap kita menjadi saudara dan menganggap kita ini pahlawan bagi anaknya,” ujar Rahmat, penerima Apresiasi Satu Indonesia Award tahun 2021 Bidang Kesehatan tingkat Nasional.
Kini ketika Rahmat berkunjung ke lapangan atau ke daerah pedalaman mencari anak bibir sumbing. Lulusan S1 Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh ini tak perlu memikirkan penginapan. Karena orang tua mantan pasien bibir sumbing antusias menyambutnya saat datang. Ini kepuasan batin karena mereka menyambut seperti saudara dan keluarga sendiri. Bahkan sering bertanya kapan datang ke rumahnya atau kalau ke daerah jangan lupa singgah di rumah mereka.
“Jadi kini tidak ada hambatan lagi kalau Rahmat ke lapangan. Diajak ke rumah untuk bersilaturahmi, diperkenalkan dengan anggota keluargan lain. Jadi ada kepuasan batin dengan membantu anak-anak bibir sumbing. Ini semua tak terlepas didukung oleh dr Muhammad Jailani dan Smile Train Indonesia dan sahabat-sahabat semuanya,” ujar Relawan kemanusiaan erupsi Gunung Sinabung 2013-2014 Kabupaten Karo-Sumatera Utara.
Para orang tua sangat senang setelah anaknya berhasil menjalani operasi bibir sumbing dan telah sembuh. Karena anak kesayangannya kembali bisa tersenyum seperti anak-anak lainnya. Makanya para orang tua tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Rahmat Maulizar, dr Jailani dan Smile Train Indonesia.
"Terima kasih Pak berkat bantuan bapak beserta Smile Train Indonesia dan juga dokter Jailani, ananda kami sekarang sudah mendapatkan senyumnya yang baru. Semoga bapak dan seluruh yang telah ikhlas membantu sehat selalu, mudah rezekinya dan makin sukses. Aamiin," kata Puspita Bella, orang tua anak bibir sumbing dari Aceh Tenggara.
Rahmat mengaku tidak akan berhenti untuk terus mencari anak-anak guna bisa segera operasi bibir sumbing. Supaya masa depan anak bibir sumbing seperti anak-anak lainnya yang ceria dan bisa tersenyum. Jadi dari kecil harus segera operasi bibir sumbing. Sehingga saat sekolah mereka sudah tak minder lagi dan bisa percaya diri seperti anak-anak lainnya. Tentu saja bisa tersenyum dengan kawan-kawannya.
Dijelaskan Rahmat, melihat orang dari wajah, kalau wajah tidak nyaman, apalagi dengan bibir sumbing wajahnya, tentu anak tersebut tidak percaya diri. Itulah motivasinya agar anak yang sudah operasi bibir sumbing di Aceh bisa tersenyum lagi, seperti Rahmat kini dapat senyum.
“Jadi sukses seseorang itu juga tergantung dari percaya diri. Kalau percaya diri tidak ada bagaimana dia mau tampil, bagaimana mau pidato, bagaimana mau berbicara atau menyampaikan sesuatu kalau tidak percaya diri. Kuncinya percaya diri. Saya bersyukur bisa tersenyum pada hari ini. Maka saya ingin semua anak yang lain bibir sumbing juga bisa tersenyum seperti saya,” ujar Relawan kemanusiaan Gempa Pidie Jaya 2016.
Mantan pasien bibir sumbing
Rahmat menceritakan kilas balik dirinya dulu yang merupakan salah satu mantan pasien. Ia bertekad akan terus menyebarkan senyuman baru di seluruh pelosok Aceh melalui program Smile Train Indonesia ini.
“Jadi Rahmat memanfaatkan program ini supaya anak-anak Aceh tidak ada yang terlewatkan dengan operasi bibir sumbing. Tapi dapat menggunakan operasi ini sebaik-baik mungkin selagi ada gratis,” ujar Relawan kemanusiaan Gempa dan Tsunami, Palu, Donggala dan Sigi Sulawesi Tengah 2018.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rahmat-maulizar-di-pedalaman-aceh.jpg)