Mihrab
Birrul Walidain: Fondasi Peradaban Aceh
KATA-KATA "Birrul Walidain" ini berasal dari bahasa Arab yang bermakna "berbuat baik kepada kedua ibu dan bapak
Sudah banyak kisah kerugian dan kemalangan seorang anak yang menyakiti orang tuanya.
Kita diberitahu para guru kita kisah tentang Alqamah yang hidup di masa Rasulullah Saw.
Dia adalah seorang pemuda yang rajin beribada. Taat. Shalih. Amalnya banyak.
Tapi dia pernah menyakiti hati sang ibundanya. Itu membuat Alqamah kesulitan saat sakratul maut.
Berhari-hari dia sakit. Hidup bukan dan matipun tidak mau. Kira-kira begitu kondisi akhir hayat Alqamah.
Sampai kemudian Rasulullah paham sebab ini dan memohon ibunda Alqamah agar mau memaafkannya.
Singkat cerita, Ibunda Alqamah atas bujukan Rasulullah dan sahabatnya akhirnya mau memaafkan Alqamah sehingga Alqamah pun dapat kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang.
Dari kedua kisah di atas (dan juga banyak kisah lainnya), tentu kita semua berdo'a kepada Allah agar dapat menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan terhindar dari menjadi anak yang durhaka.
Jadi, kalau kita ingin membangun peradaban Aceh, maka tentulah kita perlu menyiapkan profil pemuda semacam Uwais sebanyakbanyaknya.
Sebab, kita butuh do'a mereka agar Aceh dapat kita bangun dengan penuh kelimpahan rahmat dan karunia Allah Swt.
Bayangkan jika kita di Aceh memiliki banyak sekali anakanak yang mau taat dan mengabdi kepada kedua ibu bapaknya.
Pastilah mereka akan menjadi tulang punggungn dan fondasi peradaban Aceh.
Jadi, jelas bahwa figur pemudapemuda yang melakukan Biruul Walidain adalah salah satu kebutuhan utama dalam fondasi bangunan peradaban Aceh.
Menyiapkan Generasi Uwais
Pertanyaan kemudian, bagaimana kita mencetak generasi seleval Uwais di Aceh?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/akademisi-uin-ar-raniry-dr-tgk-teuku-zulkhairi-ma.jpg)