Mihrab
Birrul Walidain: Fondasi Peradaban Aceh
KATA-KATA "Birrul Walidain" ini berasal dari bahasa Arab yang bermakna "berbuat baik kepada kedua ibu dan bapak
Namun sebelumnya, penting kita pahami bahwa sesungguhnya kisah Uwais mengajarkan kita tentang sejarah masa lalu untuk panduan kita hari ini.
Jadi dia bukan sekedar kisah masa lalu, melainkan tuntutan agar kita kembali menghadirkan diri kita semuanya sebagai sosok-sosok Uwais masa kini.
Untuk mencapai tujuan ini
Pertama, kita mesti mendesain lembaga pendidikan kita untuk focus dan serius mencetak Uwais-Uwais baru melalui segenap agenda-agenda pendidikan kita dan memahami bahwa itu bukanlah utopia belaka.
Kita bisa melakukannya dengan izin Allah setelah memenuhi syarat-syarat langit yang telah diajarkan kepada kita.
Jika hari ini kita berhasil menemukan seorang anak yang kita lihat penuh ketaatan dan pengabdian kepada kedua ibu bapaknya
Maka muliakanlah ia dan mintalah do'a kepadanya untuk kebaikan kita sebagai sebuah bangsa.
Selain itu melalui lembaga pendidikan, yang kedua adalah menciptakan lingkungan yang mendukung proses melahirkan Uwais-uwais masa kini di Aceh.
Baca juga: Selamatkan Generasi Muda dengan Syariat Islam
Baca juga: Kalkulasi Politik Rasional Partai Islam
Masyarakat kita mesti membangunkan kembali kesadaran ini bahwa anak-anak Aceh adalah tanggungjawab kita semua
Sebagai sebuah entitas bangsa bagaimana agar mereka menjadi anak yang shalih dan berbakti kepafa kedua orang tuanya.[email : teuku. zulkhairi@ar-raniry.ac.id]
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/akademisi-uin-ar-raniry-dr-tgk-teuku-zulkhairi-ma.jpg)