Kajian Islam

Khutbah di Masjid HKL: Tsunami Harus Berbekas pada Warga Aceh dan Sebagai Peringatan

Musibah dahsyat pernah terjadi di Aceh, yakni gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam, yang meluluhlantakkan pemukiman dan warga.

Penulis: Syamsul Azman | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/SYAMSUL AZMAN
Khatib Jumat di Masjid Haji Keuchik Leumiek (17/12/2021) Ir Faizal Ardiansyah MSc 

SERAMBINEWS.COM – Musibah dahsyat pernah terjadi di Aceh, yakni gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam, yang meluluhlantakkan pemukiman dan warga.

Musibah ini menjadi momen menyedihkan sekaligus peringatan bagi orang setelahnya, untuk bertakwa kepada Allah SWT agar tidak kembali terjadi musibah demikian lagi.

Pembahasan mengenai tsunami tersebut disampaikan oleh khatib khutbah Jumat di Masjid Haji Keuchik Leumiek (HKL) Banda Aceh dengan khatib Ir Faizal Ardiansyah, MSc dan imam Tgk H M Iqbal SHi, Jumat (17/12/2021).

Awal membuka khutbah, khatib mengungkapkan bahwa sebagai seorang hamba, jangan pernah berhenti mengagungkan dan memuji Allah SWT karena Allah SWT telah menciptakan dan mengatur segala dalam jagat raya.

Allah tidak bermain-main menciptakan langit dan bumi serta seluruh isinya, penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, namun sedikit sekali manusia yang bertakwa kepada Allah.

“Jangan berhenti mengagungkan dan memuji Allah SWT, Ia telah menciptakan dan mengatur seluruh jagat raya, Allah SWT tidak bermain menciptakan segala yang ada di jagat raya, bahkan penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, namun hanya sedikit manusia yang bertakwa,” demikian ucap khatib dari atas mimbar.

Baca juga: Abiya Jeunieb Khutbah di Masjid Haji Keuchik Leumiek: Kehidupan Yang Sebenarnya di Akhirat

Khatib juga menerangkan sebagaimana diketahui bersama bahwa pada diri Rasulullah SAW memiliki suri tauladan bagi seluruh umat.

Pada diri Baginda Nabi Muhammad SAW memiliki contoh yang harus diikuti oleh umatnya, karena sikap Beliau sebagai salah satu cara agar umat bersikap agar diridhai Allah SWT.

“Pada diri Nabi Muhammad SAW ada suri tauladan, untuk dicontohkan oleh umat,” terang khatib.

Bencana sebagai pengingat

Khatib mengatakan bahwa bencana alam sebagai peringatan dan pengingat bagi manusia, agar manusia taat kepada Allah SWT sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau musibah.

Bertakwa juga salah satu cara menjaga diri dan lingkungan dari kemurkaan Allah SWT.

Dalam Alquran banyak hal yang menceritakan peringatan, dengan mengambarkan umat terdahulu yang mendapatkan hukuman karena bersikap durhaka kepada Allah SWT.

Baca juga: Ini Khutbah Shalat Jumat di Masjid Haji Keuchik Leumiek Banda Aceh

Bahkan kejadian baru-baru ini yang terjadi, seperti erupsi Gunung Semeru, gempa NTT, sebagai peringatan dari Allah.

Bencana tersebut terjadi tidak terprediksi, bahkan ilmu pengetahuan dibuat tidak berdaya, sampai tidak mengetahui persis terjadi letusan, sehingga tidak sempat memberikan peringatan kepada warga sekitar, menyebabkan adanya korban jiwa.

“Kita dikejutkan dengan bencana alam, bahkan ilmu pengetahuan dibuat seperti tidak berdaya ketika terjadi letusan Gunung Semeru, Allah mengatur seluruh alam, sehingga tidak terprediksi bahwa dalam ilmu pengetahuan sekalipun,” kata khatib.

“Bencana di Aceh juga menjadi peringatan bagi kita, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, agar tidak membuat Allah kembali murka,” tambahnya.

Gempa dan Tsunami Aceh pada tahun 2004 silam menjadi gambaran dan harus diceritakan kepada generasi-generasi lainnya, agar bertakwa kepada Allah.

“Peringatan itu bermanfaat bagi manusia, kita hidup di muka bumi ini seperti bentangan benang, lama-kelamaan benang tersebut habis,” kata khatib.

Baca juga: Khutbah Jumat di Masjid Haji Keuchik Leumiek, Khatib: Jika Ingat Allah, Maka Allah akan Ingat Kita

Khatib menyebut, panjang atau pendeknya usia manusia memang sudah diatur Allah SWT, namun mengenai lapang maupun sempit usia seorang hamba, diatur oleh hamba itu sendiri.

Seperti seorang hamba yang hidup lama, namun amalnya sempit karena tidak bertakwa kepada Allah dan melakukan semua yang dilarang dalam agama.

Ada pula yang berumur pendek namun luas/ lapang umurnya, yakni usianya digunakan untuk bertakwa kepada Allah dan menjadi manusia yang berguna bagi orang banyak.

“Mengenai kehidupan baik panjang maupun pendek umur seseorang memang menjadi takdir dari Allah SWT. Namun, mengenai lapang ataupun sempit umur seseorang, kembali kepada orang itu sendiri. Ada yang hidup lama tapi amat sempit amalnya, ada yang hidup tidak lama, namun amalnya amatlah luas,” terang khatib. (Serambinews.com/Syamsul Azman)

Baca juga: VIDEO POPULER BAHASA ACEH Traktor Abusyik, Abiya Jeunieb di Pulo Aceh dan Pemalsu Data Prakerja

Baca juga: VIDEO POPULER BAHASA Aceh Pernikahan Bule Amerika dengan Gadis Aceh, Putra Tu Sop dan Pemberondong

Baca juga: VIDEO POPULER BAHASA ACEH, Anak Gugat Ibu, Jembatan di Barat Selatan Aceh & Dapur Minyak Terbakar

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved