Jumat, 29 Mei 2026

Kupi Beungoh

MODERASI BAGI SEORANG MUSLIM; Tidak Dalam  Urusan Beragama

MODERASI BERAGAMA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah

Tayang:
Editor: Amirullah
ist
Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Ketiga, Agama Islam itu bukan buatan manusia, Al Qur'an itu bukan karangan manusia.  Jadi aturan aturan di dalam Islam,  sudah jelas, sudah pasti,  sudah tetap,  tidak bisa di ubah ubah sesuai kemauan manusia.

Umat Islam wajib mengikutinya, ini untuk menjaga agama dari hal-hal yang dapat merusak, baik merusak akidah, ataupun merusak aturan agama dan kehidupan seorang muslim itu sendiri.

Ketiga, aturan agama bagi seorang muslim,  bukan hal yang dapat di atur, diolah sesuai dengan kemauan manusia,  karena ia berkaitan dengan urusan dunia akhirat dan segala persyaratan yang hanya Allah SWT dan Rasul Nya yang tau.

Oleh karena  itu sebagai seorang muslim,  wajib patuh, wajib ta'at, harus selalu berpegang teguh dan harus betul-betul menjaga perilaku, niat dan perbuatannya agar terjaga dari "SYIRIK", dan berhati hati  dengan ISTILAH-ISTILAH BARU, termasuk istilah MODERASI BERAGAMA, yang bisa mengiring umat Islam kepada ke syirikan atau  mendangkalkan keyakinan, baik sengaja atau tidak,  baik secara  sadar atau tidak disadari ya, dalam kata lain seorang muslim itu selamanya harus" sami'na wa atha'na" untuk semua aturan yang Allah dan Rasul tetap kan.

Ini tentu untuk kebaikan manusia sebagai ciptaan. Sebagai ciptaan, manusia tentu tidak tau aturan yang terbaik untuk dirinya,  yang tau tentang itu adalah Rabbnya, pencipta Nya yaitu Allah  SWT.

Apapun aturan yang Allah buat semata- mata untuk  kebaikan makhluk ciptaannya. Allah sebagai pencipta, tidak ada kepentingan dari hamba-Nya, dari ciptaan Nya, seseorang itu beriman atau tidak,  tidak  merubah apapun pada ke Maha Hebatnya Allah SWT,  tidak mengubah apapun dari kebesaran Allah SWT.

Beda dengan agama samawi yang diciptakan oleh manusia, tentu tidak terlepas dari kepentingan tertentu.

Islam menuntut seorang muslim itu harus fanatik, FANATIK dalam arti TA'AT,  PATUH, kepada aturan AGAMA,  bagi seorang  muslim  hanya

Allah yang paling tinggi,  Allah dan Rasul  yang paling  utama,  dan diutamakan dari  hal apapun,  dari urusan  apapun lainnya, bagi seorang muslim hanya Allah yang berhak dita'ati karena tanpa itu tidak disebut seseorang itu beriman kepada Allah dan Rasul Nya.  

Sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut ini:

Dari Anas, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya..” (H.R. Bukhari Muslim).

Jikalau harus ta'at kepada manusia,   itupun dalam rangka ta'at kepada Allah,  dan tidak boleh melanggar aturan  Allah.

TA'ATNYA atau dalam kata lain FANATIK nya seorang muslim kepada Allah dan Rasul Nya, sampai seorang muslim itu rela mengorbankan hartanya,  bahkan jiwa raganya untuk  agamanya, baru dikatakan ia beriman. Sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَا بُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved