Kamis, 28 Mei 2026

Kupi Beungoh

MODERASI BAGI SEORANG MUSLIM; Tidak Dalam  Urusan Beragama

MODERASI BERAGAMA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah

Tayang:
Editor: Amirullah
ist
Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh 

"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar."

(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 15)

Seorang muslim itu fanatik,  contohnya FANATIK dalam hal, hanya Allah SWT yang boleh disembah.

اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ ۗ 

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan."

(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)

MODERASI BERAGAMA melarang seseorang untuk fanatik,  sementara Islam menuntut umatnya untuk  fanatik, FANATIK bagi seorang Muslim adalah dalam bentuk TA'AT kepada ATURAN AGAMA.  Dengan demikian BAGI SEORANG MUSLIM TIDAK ADA MODERASI BERAGAMA.

Namun Islam membuka ruang untuk  didiskusikan, menerima masukan,  saran pendapat,  tapi bukan untuk mengubah aturan yang ada agar  sesuai kemauan kita manusia,  apalagi sesuai dengan kemauan orang  non muslim. Islam didiskusikan agar mempermudah dalam mengamalkan, untuk mempermudah penyebarannya dan dapat sesuai dengan kondisi  zaman yang terus  berkembang.

Islam mengajarkan sikap moderasi atau moderat dalam urusan DUNIA bukan dalam hal AGAMA, jika dalam hal agama MODERASI BERAGAMA bisa membuat seorang muslim itu murtad, namun  tidak disadarinya.

Sebagai mana disebut dalam hadis berikut ini, MODERASI DALAM URUSAN DUNIA  Rasulullah SAW mengatakan:

"Antum a'lamu bi umuri dunyakum."

Artinya:

 "Kalian lebih mengerti dengan urusan dunia kalian." (HR. Muslim).

Ini bermakna,  bahwa dalam URUSAN DUNIA dalam URUSAN MU'AMALAH,   boleh bertukar pikiran, boleh kita ambil mana yang terbaik buat kita, setelah kita baca, kita dengar berbagai  macam  pendapat dan pengalaman,  namun tetap menjaga aturan agama yang mengatur tentangnya.

Namun DALAM HAL  BERAGAMA,  kita lihat dalam surat Al Kafirun ayat 1 sampai dengan 6, jelas dan tegas di sebutkam bahwa bagi seorang muslim dalam urusan agama untukmu agamamu untukku agamamu. Berikut ini lengkapnya:

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved