Kupi Beungoh
MODERASI BAGI SEORANG MUSLIM; Tidak Dalam Urusan Beragama
MODERASI BERAGAMA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir!"
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
Artinya: "aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah".
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Artinya: "dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah"
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
Artinya: "dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah"
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Artinya: "dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
Artinya: "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
Tidak ada tengah-tangah dalam urusan agama, pilihanny ta'at atau tidak, BAGI SEORANG MUSLIM TIDAK ADA MODERASI DALAM BERAGAMA, MELAINKAN BAGI SEORANG MUSLIM HARUS TA'AT DALAM BERAGAMA ".
Namun demikian, Islam bukan ancaman, bukan hal yang perlu dikhawatirkan, karena Islam itu rahmat bagi sekalian alam.
Sebagai contoh Islam menjaga setiap jiwa dengan hukum qishas baik jiwa yang muslim atau yang non muslim. Disebutkan dalam Al Qur'an berikut ini:
Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh, Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan. ( QS. Al Isra': 33).
Demikian Islam menjaga jiwa, tidak boleh saling membunuh, tidak boleh membunuh non muslim yang ada di bawah kekuasaannya, apalagi sesema muslim.
Dikisahkan pada masa Rasulullah saw, seorang muslim membunuh seorang non muslim tanpa sengaja, kepada si pembunuh Rasulullah SAW, memberlakukan hukum qishas.
Begitu indahnya Islam, dan benar benar menjadi rahmat bagi sekalian, tidak hanya rahmat bagi seorang muslim, tapi rahmat juga bagi non muslim. ISLAM tidak hanya menjaga umatnya, tapi juga menjaga seluruh penduduk bumi.
Diberlakukan qishas dalam Islam bagi seseorang yang membunuh, itu untuk melindungi dan menjaga nyawa setiap orang, agar tidak sembarangan menghilangkan nyawa seseorang baik sengaja maupun tidak.
Contoh lain bahwa Islam RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM, dapat dilihat dari aturan Islam yang Melindungi Harta setiap muslim maupun bukan muslim.
“Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu terpelihara antara sesama kamu sebagaimana terpeliharanya hari ini, bulan ini dan negerimu ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“... tidaklah seseorang melakukan pencurian dalam keadaan beriman dan tidaklah seseorang merampas sebuah barang rampasan di mana orang-orang melihatnya, ketika melakukannya dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:َ
“Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan mengalungkan tujuh bumi kepadanya.” (HR. Bukhari Muslim).
“Barangsiapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun lainnya, maka mintalah dihalalkan hari ini, sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka diambil kejahatan orang itu, lalu dipikulkan kepadanya
Dan Islam menjaga harta setiap muslim.
Begitu Indahnya Islam, jika seorang muslim BERPEGANG TEGUH, TA'AT, PATUH, MENGUTAMAKAN Aturan AGAMA, secara otomatis menjadikan Islam itu RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM, bagi dirinya dan orang lain. Jika tidak, atau sebaliknya maka ORANG ISLAM itu akan menjadi ancaman buat muslim itu sendiri dan orang lainnya. Sekali lagi yang menjadi ancaman itu BUKAN ISLAM, tapi ORANG yang salah memahami dan melaksanakan Islam.
Kepada umat Islam tetaplah waspada, dengan istilah baru, apalagi yang bisa membawa kepada syirik atau mengikis keyakinan seorang muslim secara pelan- pelan sampai kemudian keimanan itu hilang karenanya, 'KEBERLANJUTAN ISLAM DI NEGARI TERCINTA INI, SANGAT TERGANTUNG PADA APA YANG KITA UCAPKAN, APA YANG KITA LAKUKAN HARI INI"
*) PENULIS Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca juga: 3 Oknum TNI yang Terlibat Kecelakaan di Nagreg Buang Jasad Korban ke Sungai, Apa Motifnya?
Baca juga: KILAS BALIK TSUNAMI ACEH 2004 - Penantian Seorang Ayah di Depan Masjid Raya Baiturrahman
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ainal-mardhiah11111.jpg)