Jumat, 24 April 2026

Kajian Islam

Muhasabah dan Aspek Yang Perlu Dilakukan Umat Islam

Mengerti dan memahami akan arti definisi muhasabah dalam Islam perlu untuk setiap mukmin dalam rangka memperbaiki dirinya ke dalam hal-hal yang baik.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Bustamam Usman, SHI, MA 

SERAMBINEWS.COM - Muhasabah dalam agama Islam mengandung arti yang begitu mendalam bila mengetahui hakikat muhasabah itu sendiri.

Mengerti dan memahami akan arti definisi muhasabah dalam Islam perlu untuk setiap mukmin dalam rangka memperbaiki dirinya ke dalam hal-hal yang baik dan positif.

Hakikat muhasabah bukan mengingat dosa-dosa yang telah lalu, kemudian menyesali dan menangisinya.

Namun, hakikat muhasabah adalah “memaksakan” diri untuk taat melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Bustamam Usman, SHI, MA mengatakan, muhasabah adalah evaluasi diri sendiri.

“Muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan dari masa-masa yang telah lalu. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu akan dirinya sendiri,” tuturnya.

Baca juga: Dorong Selamatkan Rohingya, Akademisi UIN Ar-Raniry : Islam Mengajarkan Kita untuk Membantu Orang

Baca juga: Islam dan Kewajiban Berpolitik - Syariat Islam Tegak Melalui Kekuasaan Politik atau Penguasa

Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar bin Khattab memahami benar urgensi dari Muhasabah ini.

“Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab (dievaluasi), maka ia pun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah SWT,” kata Ketua Komisi B MPU Kota Banda Aceh ini.

Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri.

Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.

Tgk Bustamam menyebut, terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi atau dievaluasi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.

Yang pertama adalah aspek ibadah, karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini.

Baca juga: ISLAM;  Menjaga Harmonisnya Kehidupan

Baca juga: Kisah Wisudawan Terbaik Uniki, Tak Diakui sebagai Anak karena Masuk Islam

“Kedua aspek Pekerjaan dan Perolehan Rizki. Ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin,” kata Dai Perkotaan DSI Kota Banda Aceh itu.

Karena, lanjutnya, sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya.

Aspek ketiga yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial keislaman, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia.

Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits diriwayatkan Muslim.

“Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain,”

“Seperti mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dan sebagainya. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya,” ucap Tgk Bustamam.

Baca juga: 35 Nama Bayi Perempuan Islami yang Cantik dan Mudah Diingat, Berikut Daftarnya Lengkap dengan Arti

Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya.

Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.

Keempat adalah aspek dakwah. Aspek ini, kata Tgk Bustamam, sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan.

“Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dan sebagainya,” jelasnya.

Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan.

Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.

Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri.

Baca juga: Cara Islam Cegah Wabah

Dengan bermuhasabah diri, maka diri setiap muslim akan bisa mengetahui akan aib serta kekurangan dirinya sendiri.

Baik itu dalam hal amalan ibadah, kegiatan yang memberikan manfaat untuk banyak manusia.

Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki diri apa-apa yang dirasa kurang pada dirinya.

Muhasabah akan senantiasa memajukan peradaban Islam selama muslim masih memakainya.

“Sehingga tidak timbul lagi dikemudian hari, sebuah Negara non-muslim yang Islami atau Negara muslim yang non-Islami. Muhasabah sendiri adalah salah satu jihad terbesar, yakni jihad melawan hawa nafsu.” tutup alumni Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif Lam Ateuk Aceh Besar itu.(ar)

KAJIAN ISLAM

AKSES DAN BACA BERITA DI GOOGLE NEWS 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved