Berita Langsa
Hutan Gundul Resapan Air Hilang, Banjir Terus Hantui Masyarakat
Penebangan kayu secara bar-bar di daerah hutan sepanjang sungai menjadi sumber utama hilangnya resapan air sehingga berakibat banjir.
Penulis: Zubir | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Zubir | Langsa
SERAMBINEWS.COM, LANGSA - Perambahan hutan atau penebangan kayu secara bar-bar di daerah hutan pegunungan baik di wilayah Aceh Timur dan Aceh Tamiang, maupun daerah Aceh lainnya, menjadi sumber utama hilangnnya secara drastis resapan air.
Kondisi ini otomatis menjadi petaka bagi lingkungan dan kehidupan manusia dikala musim penghujan (curah hujan) tinggi, maka akan terjadi banjir besar dengan meluapnya aliran sungai yang mengaliri air ke muara laut.
Awal tahun 2021 ini sebuah bencana banjir yang terus berulang terjadi setiap tahunnya kembali menimpa sejumlah daerah, yaitu Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, dan daerah-daerah lainnya.
Terjadinya curah hujan tinggi menyebabkan luapan hampir semua Daerah Aliran Sungai (DAS) di daerah itu, karena air dari kawasan pegunungan langsung turun ke muara laut.
Namun keberadaan pohon yang pupolaritasnya kian mengecil dan terjadinya penggundulan hutan, sudah tak mampu menyerap air dari curah hujan tinggi yang sering terjadi di penghujung atau awal tahun tersebut.
Belum lagi terjadinya alih fungsinya hutan menjadi kebun pohon kelapa sawit baik milik HGU perusahaan dan milik perorangan, juga menghilangkan resapan air di kawasan hutan tersebut.
Contonya, seperti meluapnya DAS Krueng Langsa berapa hari lalu karena tingginya volume air hantaran dari daerah pegunungan Aceh Timur ini, diduga disebabkan karena terus terjadi penggundulan hutan di wilayah Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.
Saat ini di hutan wilayah pedalaman Kecamatan Birem Bayeun (daerah pegunungan) dan sekitarnya diduga sedang berlangsung penebangan yang dilakukan oknum tertentu, merema disuga bersembunyi dibalik izin usaha hutan produksi.
Padahal hutan produksi yang ada di sana tersebut tidak ada aktivitas selayaknya adanya penanaman tumbuhan buah, namun target oknum itu adalah di luar kawasan hutan atau lahan produksi ini untuk melakukan penebangan kayu masuk kawasan lindung.
Selama ini setiap harinya mobil truk penuh muatan kayu balok jenis merbau, damar, meranti, dan jenis lainnya diduga dibawa ke sebuah panglong besar yang ada di Alur Saboh Gampong Geudubang Aceh, Kecamatan Langsa Baro.
Kayu-kayu itu selanjutnya dibawa (dijual) ke daerah Sumatera Utara diangkut dengan mobil tronton, diduga cukongnya (pemodalnya) merupakan warga dari daerah Sumut tersebut.
Baca juga: 21 Desa di 6 Kecamatan di Aceh Timur Masih Terendam Banjir
Baca juga: Diterjang Banjir Kiriman, Kerusakan Tanggul di Bendahara Aceh Tamiang Semakin Parah
Kejadian serupa mungkin sama juga terjadi di semua daerah yang masih menyimpan kekayaan alam hutan, seperti Aceh Timur, Aceh Utara, maupun kabupaten lainnnya di Aceh.
Kondisi-kondisi seperti itu sampai sekarang nyaris tidak ada yang mau mempedulikannya, pihak penegak dan pengambil kebijakan pemerintahan seolah-olah melihat itu bukan sebuah masalah, ataupun bukan tugas dan tanggung jawab mereka.
Sedangkan oknum cukong tersebut terus mengeruk keuntungan bermilyar-miliyaran rupiah dari aktivitas penebangan dan penjuakan kayu kelas yang mereka lakukan di kawasan hutan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/luapan-krueng-langsa.jpg)