Breaking News:

Kupi Beungoh

Bang Fuad

Fuad memilih dengan memproduksi pikiran bukan dengan membangun pasukan atau laskar. Baginya, pikiran adalah senjata...

Editor: IKL
For Serambinews.com
Muhammad Alkaf 

Oleh: Bung Alkaf (Esais)

Fuad Mardhatillah, berulang tahun lagi. Ke enam puluh satu kalinya. Kami yang lebih muda darinya memanggil dia dengan sapaan akrab, “ Bang Fuad.” Betapa pun umurnya di masa depan bertambah, kami tetap memanggilanya dengan sapaan “Bang.” Sapaan itu, terutama bagi Fuad, bukanlah penanda usia yang berjarak melainkan pola relasi terbangun dengannya selama ini.

Bang Fuad bukan tipikal yang berjarak dengan yang lebih muda. Sikapnya itu membuat dia menjadi tempat kepada mereka yang lebih muda datang untuk bertukar pikiran. Terlebih, Bang Fuad bukan orang yang suka membangun kerajaan. Baginya yang terpenting adalah tumbuhnya tradisi kritis; generasi melihat segala persoalan dengan detail. Karena itu, Fuad tidak bermasalah kalau lingkaran yang dibinanya itu kemudian pergi meninggalkan dia dengan alasan apa pun.

Lahir dari tradisi keluarga terdidik di Banda Aceh, Fuad tumbuh besar di Darussalam. Ayahnya, Usman UY Tiba, pengajar generasi pertama di IAIN Ar-Raniry, alumnus Al Azhar Kairo. Dia belajar ilmu-ilmu filsafat dan teologi di sana. Sebagai alumnus Timur Tengah, Usman memiliki kapasitas ilmu agama yang mumpuni. Dia menulis rutin di Jurnal Sinar Darussalam dan majalah Santunan Kementerian Agama Aceh.

Di antara seluruh anaknya itu, Usman berkeinginan Fuad mengikuti jejaknya sebagai intelektual yang menekuni ilmu-ilmu Islam. Di rumahnya, dia mengajarkan Fuad dan saudara-saudaranya bahasa Arab. Usman juga mengirim Fuad belajar di Madrasah Tsawiyah ketika teman-teman seangkatannya di Darussalam bersekolah di Sekolah Menengah.

Fuad melawan. Dia meminta kepada ayahnya untuk dipindahkan ke sekolah umum seperti teman-temannya. Mungkin, itu kali pertama dia melawan dunia di luarnya. Dengan menolak belajar sekolah di madrasah, Fuad menunjukkan dia berhak memilih apa yang menjadi keinginannya. Setelah itu, sepanjang hidupnya,

Fuad terus melawan. Dia tidak perduli seberapa apa pun kekuatan yang dilawannya itu.

Untuk melawan, Fuad memilih dengan memproduksi pikiran bukan dengan membangun pasukan atau laskar. Baginya, pikiran adalah senjata terkuat. Oleh karena itu, Fuad menjadi penulis yang prolifik.

Dalam senarai tulisannya yang diproduksi dalam rentang tahun 1998-2005, kita bisa membaca luas perhatiannya pada isu-isu kebangsaan, keagamaan, dan politik. Pandangan kritisnya mengenai nasionalisme Indonesia, yang ditulis di saat fase-fase kritis setelah jatuhnya Suharto, memberi penegasan bahwa gagasan itu belum usai. Nasionalisme memang sebuah ide besar yang seringkali penguasa berlindung di balik itu. Fuad menyadarkan bahwa setiap gagasan tidak boleh final. Dianya harus selalu hidup dan diperbincangkan. Sebab, segala sesuatu yang difinalkan akan menjadi berhala.

Untuk melawan setiap pemberhalaan, Fuad menawarkan pembebasan pemikiran dengan berbasis teologi. Layaknya cendekiawan muslim – Fuad menulis tesis topik cendekiawan muslim Indonesia di Mc Gill – Fuad percaya kepada Islam sepenuhnya. Dia meyakini bahwa Islam memiliki formula memuliakan kemanusiaan. Hal itulah yang ditulisnya dengan terang mengenai Tauhid Pembebasan yang diyakininya sebagai jalan untuk memperbaiki masyarakat.

“Demikianlah sejumlah rukun iman dari konsep Tauhid Pembebasan, yang menegaskan Tuhan semata dan membebaskan manusia dari pengesaan alam makhluk dalam segala bentuk deifikasi dan pemujaannya, baik yang bersifat laten maupun manifes, inilah yang semestinya diyakini kebenarannya, dan menjadi energi potensial dalam melakukan ecountering culture terhadap segala kejumudan budaya yang disebabkan oleh stagnasi teologis dan religiositas yang statis…” tulisnya.

Fuad konsisten dengan pemikirannya itu, bahkan dia mengalami penajaman secara intelektual ketika menulis sebuah pamflet yang mengharu-birukan jagat sosial Aceh, Islam Protestan. Fuad memilih frasa itu untuk membuat efek kejut. Tentu saja, dia tidak mengajukan satu varian teologi baru dalam Islam. Fuad hanya menawarkan satu gagasan utamanya: Islam yang membebaskan.

Di usianya yang semakin bertambah, gagasan pembebasannya kemudian beranjak menyentuh aspek spiritual dan filsofis, tanpa meninggalkan gagasan utamanya itu. Fuad menulis sebuah karya penting dalam penyelesaian studi doktor, Kritisisme dlm Konstruksi Filsafat Pendidikan Islam (Studi Berbasis Fitrah). Dengan karya itu, Fuad menyelam lebih dalam ke percakapan filosofis.

Apakah sampai di titik ini Fuad Mardhatillah akan berhenti melawan? Sepertinya tidak. Dia hanya mengenal kata itu sepanjang hidupnya.

*) Bung Alkaf, Esais

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved