Jurnalisme Warga
Bireuen Bangkit Melalui Hunian Tetap
Kehilangan tempat tinggal tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga menimbulkan trauma psikologis, ketidakpastian ekonomi
M. ZUBAIR, S.H., M.H., Kadis Kominfo dan Persandian Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Peletakan batu pertama pembanguan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir dan tanah longsor yang dilakukan Bupati Bireuen Mukhlis ST pada Rabu, 7 Januari 2026 di Desa Bale Panah, Kecamatan Juli, menjadi titik bangkit masyarakat yang tertimpa musibah.
Musibah banjir dan longsor yang melanda Aceh termasuk salah satunya Kabupaten Bireuen pada akhir November 2025 lalu, telah mengakibatkan kerusakan signifikan terhadap rumah warga, infrastruktur, serta tatanan sosial masyarakat. Kehilangan tempat tinggal tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga menimbulkan trauma psikologis, ketidakpastian ekonomi, dan melemahnya semangat hidup para korban yang masih hidup (penyintas).
Dalam konteks ini, pembangunan hunian tetap menjadi langkah strategis pemerintah daerah untuk memulihkan kehidupan masyarakat pascabencana. Peletakan batu pertama oleh Bupati Bireuen menjadi simbol kebangkitan, pemulihan sosial, serta penguatan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Hunian tetap tidak hanya berfungsi sebagai solusi fisik, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan sosial, psikologis, dan ekonomi masyarakat menuju Bireuen yang bangkit dan berdaya dalam menyambut bulan suci Ramdhan yang tidak lama lagi.
Pemulihan pascabencana, dengan penyediaan hunian tetap bagi korban banjir dan longsor merupakan kebutuhan mendasar. Hunian sementara (huntara) memang menjadi solusi awal, tetapi tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan hidup yang layak dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, pembangunan hunian tetap menjadi tahapan penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Hunian tetap bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup yang memungkinkan masyarakat kembali menjalankan aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya secara normal.
Momentum peletakan batu pertama pembangunan hunian tetap oleh Bupati Bireuen memiliki makna strategis dan simbolis. Tindakan ini menandai komitmen pemerintah daerah dalam mengembalikan martabat dan harapan masyarakat terdampak. Hal tersebut karena bencana alam sering kali memperbesar kerentanan sosial masyarakat, terutama kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia.
Kehilangan rumah berarti hilangnya ruang aman, identitas sosial, serta sumber produktivitas keluarga.
Dalam banyak kasus, korban bencana menghadapi ketidakpastian berkepanjangan akibat keterbatasan akses terhadap tempat tinggal yang layak.
Di Bireuen, dampak banjir tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga memutus mata pencaharian, mengganggu pendidikan anak, dan melemahkan kohesi sosial.
Situasi ini menuntut intervensi negara melalui kebijakan yang berpihak kepada korban. Pembangunan hunian tetap yang dilakukan pemerintah Kabupaten Bireuen menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak dasar warga negara atas tempat tinggal yang layak.
Oleh sebab itu, hunian tetap memiliki peran strategis dalam pemulihan pascabencana.
Dari sisi fisik, hunian tetap memberikan tempat tinggal yang aman dan permanen. Dari sisi sosial, hunian tetap memungkinkan masyarakat kembali membangun interaksi sosial dan solidaritas komunitas. Sementara dari sisi ekonomi, kepastian tempat tinggal mendorong warga untuk kembali produktif dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi lokal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Zubair-2025.jpg)