HUT Ke 33 Serambi Indonesia
Inovasi Tanpa Batas, Syukur Tiada Henti
Assalamulaikum, izin Pak minta bantu bikin tulisan untuk anchor halaman satu besok, dengan tema HUT Ke-33 Serambi Indonesia, Inovasi tanpa...
Kepada semuanya kami mengucapkan terima kasih serta bersyukur atas kesetiaan kepada Serambi Indonesia.
Inovasi tanpa batas
Karena harapan dan tantangan bersamaan dengan perkembangan zaman, Serambi terus melakukan inovasi mulai dari tampilan wajah, gaya pemberitaan, hingga kontennya.
Teknologi dari manual pelan-pelan juga beralih ke digital.
Dari mesin ketik, sampai ke komputer.
Dari menggunakan disket hingga ke server jaringan.
Dari menggunakan modem pakai pulsa telepon, hingga ke wi fi.
Dan, dari hanya Serambi Indonesia cetak, menjelang akhir tahun 1990- an, Serambi Indonesia menerbitkan produk baru bernama Kontras berbentuk tabloid mingguan.
Wartawan-wartawan senior yang pernah memawangi kontras antara lain Barlian AW, Akmal Ibrahim (kini Bupati Abdya), Yarmen Dinamika, dan Muharram M Nur (abang kandung dari Zainal Arifin M Nur).
Muharram menjadi salah satu dari puluhan wartawan dan karyawan Serambi Indonesia yang meninggal terkena bencana gempa dan tsunami.
Kontras adalah mingguan yang lebih fokus ke isu politik, hukum, dan kriminalitas.
Beritanya disajikan secara mendalam dan gayanya berbeda dengan Serambi Indonesia.
Kontras sempat jaya dengan oplah mencapai lebih 50.000 eksemplar setiap edisi.
Zaman menjelang kejatuhan Presiden Soeharto dan masuk ke awal era reformasi memang masa kejayaan tabloid di Indonesia.
Namun, masa itu bertahan hingga belasan tahun hampir semua tabloid dan majalah tutup.
Demikian juga Kontras akhirnya dengan berat hati harus ditutup.
Ya, ditutup karena tergerus zaman.
Mengimbangi perkembangan selera masyarakat dan zaman adalah tantangan yang selalu harus dihadapi semua pengelola media massa, termasuk Serambi Indonesia.
Karenanya, memperbaiki tampilan, mengubah gaya berita, menerbitkan mingguan Kontras adalah usaha Serambi Indonesia untuk membuat pembaca tidak jenuh.
Bahkan berharap semakin lengket kepada harian ini.
Memperbaiki konten tentu menjadi langkah penting kami guna menjadikan Serambi Indonesia tetap dicinta.
Untuk menghargai pembaca, konten Serambi tidak boleh terlalu tua.
Tidak boleh terlalu laki-laki.
Tidak boleh terlalu serius.
Tidak boleh terlalu keras.
Maka, Serambi pelan-pelan menambah rubrik tentang wanita, keluarga, anak-anak, dan hiburan.
Agar isinya tidak ketuaan, Serambi juga terus merekrut tenaga-tenaga muda baik untuk redaksi maupun nonredaksi.
Rekrutan baru inilah yang kemudian bertugas mengisi konten agar lebih berselera pasar alias muda atau milenialis.
Selain itu, pembaca sering protes Serambi terlalu lama tiba ke tangan pembaca.
Protes itu datang dari wilayah timur dan barat Aceh.
Karenanya, Serambi Indonesia selain dicetak di Banda Aceh juga melakukan cetak jarak jauh di Lhokseumawe dan Blangpidie, Aceh Barat Daya.
Guna melengkapi bahan bacaan masyarakat, Serambi Indonesia juga membangun toko buku moderen yakni Toko Buku Zikra di Jalan KH Ahmad Dahlan, Banda Aceh.
Di sana menjual berbagai macam buku cetak dan tulis, perlengkapan sekolah/kantor dan lain-lain.
Namun, dalam usaha itu Serambi berhadapan dengan banyak tantangan.
Mulai krisis moneter, konflik, bencana maha dahsyat gempa dan tsunami, serta lain-lain.
Saya tidak mau bercerita lagi tentang zaman konflik dan ketika dilanda tsunami.
Pertama, karena takut dianggap cengeng dan lebai, kedua saya takut tak bisa menyelesaikan tulisan ini, jika teringat pada teman-teman kami yang sudah menghadap Sang Khalik kala tsunami.
Cetak vs digital
Pergeseran selera pembaca ternyata bukan hanya pada gaya dan tampilan.
Tapi, juga soal platform.
Ada banyak pembaca yang ternyata lebih suka berinteraksi langsung dengan redaksi atau pembaca lainnya secara on time.
Artinya, itu tak mungkin dilakukan oleh media cetak.
Maka, Serambi membangun Radio Serambi FM yang mengudara pascatsunami.
Radio ini memiliki tage line, Lagu Na, Berita Na.
Jadi, Radio Serambi FM lebih fokus ke berita dan hiburan.
Berita- beritanya sering berupa laporan langsung dari lapangan.
Radio ini awalnya dipawangi wartawati senior Rosnani HS yang sejak 2 tahunan lalu sudah pensiun.
Tapi, Serambi FM tetap mengudara dengan konten cerdas, termasuk podcast.
Baca juga: VIDEO - Old Legion Serambi Berziarah ke Makam Pendiri Harian Serambi Indonesia M Nourhalidyn
Bersamaan dengan Serambi FM, Serambi Indonesia juga melaunching Serambinews.com dan Serambi on TV yang semuanya ditangani para profesional muda yang kreatif.
Maka, sejak belasan tahun terakhir Serambi Indonesia berjalan dengan multiplatform.
Baca juga: Old Legion Serambi Berziarah ke Makam Pendiri Harian Serambi Indonesia M Nourhalidyn
Lalu, pasti ada yang bertanya, apakah dengan demikian tidak justru membunuh Harian Serambi Indonesia yang berbentuk print atau cetak? Kami berpikir, produk-produk yang kami lahirkan tidak akan membunuh induknya.
Justru, kami berharap berkembang bersama-sama, dalam melengkapi kebutuhan informasi masyarakat, khususnya di Aceh.
Perdebatan mengenai media cetak dan versi digital atau online memang belum berakhir.
Meski begitu banyak surat kabar cetak di dunia sudah ditutup seiring tumbuhnya berjuta-juta surat kabar on line, namun banyak juga surat kabar cetak yang tetap bertahan dan mendapat tempat di mata pembaca.
Salah satunya adalah Serambi Indonesia.
Sulit membayangkan memang, bagaimana Harian Serambi Indonesia sebagai media konvensional bisa berjalan bersama Serambinews.com dan Serambi on TV sebagai media digital yang dari hari ke hari terus berkembang.
Oleh sebab itu, Harian Serambi Indonesia tetap diupayakan dapat mengimbangi kemajuan media-media online agar terus survive.
Jika pun kelak harus mati, maka Harian Serambi Indonesia adalah surat kabar cetak terakhir yang ada di muka bumi! Aamiin.
Baca juga: Old Legion Serambi Meriahkan HUT Serambi
Baca juga: Peringati HUT Ke-32 Serambi Indonesia, Lima Anak Jalani Operasi Bibir Sumbing di RSU Malahayati
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mawardi-ibrahim-wakil-pimpinan-umum-serambi-indonesia-1.jpg)