Breaking News:

HUT Ke 33 Serambi Indonesia

Serambi

Bagi industri media, untuk tetap bertahan sampai usia menginjak tiga puluh tiga tahun, bukanlah hal yang mudah. Serambi Indonesia membuktikan....

For Serambinews.com
Muhammad Alkaf 

Oleh: Alkaf *)

PERNAH, dalam beberapa pekan, abang saya, Haikal, keranjingan menggambar kartun, kemudian, mengirimkan ke Harian Serambi Indonesia. Kebiasaan itu dilakukannya tiga dekade lalu. Saat itu, Harian Serambi Indonesia masih berkantor di Jalan Tgk HM Daud Beureu'eh. Bangunannya yang kini menjadi Hotel Madinah tidak jauh dari rumah orang tua saya. Setiap pagi, saya selalu melewati kantor itu ketika berjalan kaki ke sekolah.

Tidak setiap gambar yang dikirimkannya dimuat oleh redaktur. Seingat saya, ada beberapa kali gambarnya berhasil bertengger di halaman edisi Minggu. Dia menerima honor. Lumayan untuk seorang pelajar sekolah menengah.

Baca juga: Koes Plus

Baca juga: Serambi Indonesia di Antara Minat Baca dan Topik Diskusi di Warung Kopi

Saat itu, Serambi Indonesia masih membuka ruang yang besar untuk produksi kebudayaan karena di masa-masa awal harian itu banyak digawangi oleh para budayawan masyhur. Sebut saja diantaranya Hasyim KS, Barlian AW, De Keumalawati, dan Wiratmadinata.

Kedekatan saya dengan Harian Serambi Indonesia bertambah-tambah karena media itu selalu menjadikan berita mengenai Persiraja Banda Aceh berada di halaman depan. Bahkan bukan kebetulan, di lingkungan tempat saya tinggal, ada wartawan Serambi Indonesia yang bertugas di desk olahraga. Namanya Ibrahim Aji. Kami memanggilnya Bang Aji.

Orangnya ramah. Banyak berbicara. Jokenya khas. Dia bertugas melaporkan jalannya pertandingan dari Stadion Lampineung. Ibrahim Aji, dari struktur redaksi yang diletakkan di halaman dua pernah menjadi redaktur olahraga di media itu. Memiliki wartawan yang meliput pertandingan dari pinggir lapangan adalah kemewahan bagi kami.

Baca juga: Fiqh Sosial

Baca juga: Santai

Kepada Serambi Indonesia pula, melalui abang saya yang lebih tua, Numairi, kami bertanya hasil pertandingan Persiraja, apabila tim itu sedang bertanding di luar Aceh dalam gelaran Liga Indonesia. Terkadang, ketika informasi yang kami harapkan itu belum ada, pihak Serambi Indonesia yang menerima telepon mengatakan dengan sopan, “Belum ada kabar.” Namun, kalau hasil sudah diketahui, tentu setelah kami menelepon kembali, nada bicara dari pemberi kabar tergantung dari hasil pertandingan. Kalau Persiraja menang, suaranya terdengar gembira. Namun, kalau Persiraja kalah, nada suaranya menjadi sendu, sehingga kami pun yang menerima informasi sudah bersiap diri secara mental untuk membaca ulasan pada keesokan harinya.

Serambi Indonesia memang memiliki kemampuan untuk mengharu-birukan perasaan pembaca Aceh.

Baca juga: Inovasi Tanpa Batas, Syukur Tiada Henti

Baca juga: VIDEO Kemeriahan HUT ke 33 Serambi Indonesia

Zaman ketika koran sebagai penentu opini masyarakat, Serambi berada dalam posisi yang paling strategis. Suara redaksi Serambi menjadi penentu di hari terbitnya koran tentang isu yang dibicarakan di ruang publik luas. Kalau berita yang ditampilkan tentang kisah pilu, cemas, menakutkan, menjengkelkan, mengembirakan dan membuat kalut, maka perasaan masyarakat Aceh pun demikian. Untunglah, saat itu, Serambi Indonesia memiliki Muhammad Sampe Edward, pencipta karakter fiksi Gam Cantoi yang selalu menghiasi – kecuali terbitan hari Minggu – lembaran koran.

Di tangan Sampe, melalui karakter Gam Cantoi, situasi Aceh digambarkan dalam cara satire, bahkan terkadang absurd. Gam Cantoi tidak memiliki dialog, kecuali beberapa petunjuk kata singkat. Namun, penyimak kabar Aceh mengetahui maksud yang hendak disampaikan melalui karakter itu.

Saya beruntung pernah menjumpainya sekali waktu. Dalam kunjungan BEM IAIN ke redaksi Serambi Indonesia, saya mendengar ceritanya tentang bagaimana dia menemukan bentuk karakter Gam Cantoi itu, yang merupakan hasil penemuannya tidak sengaja ketika berkeliling kota Banda Aceh untuk mencari inspirasi.

Baca juga: Disrupsi Digital dan Kita

Bagi industri media, untuk tetap bertahan sampai usia menginjak tiga puluh tiga tahun, bukanlah hal yang mudah. Serambi Indonesia membuktikan hal itu dengan gamblang di saat banyak media massa di Aceh gulung tikar. Entah karena masalah finansial, manajemen, maupun konflik. Namun, Serambi Indonesia tetap kokoh berdiri.

Cara media ini bertahan dalam gempuran zaman yang terus berubah itu memang mengagumkan. Pernah berada di fase yang sulit ketika konflik bersenjata di Aceh meningkat; pernah juga dihantam dengan keras oleh bencana Tsunami, Serambi Indonesia masih terus terbit. Media itu menunjukkan satu sifat paling dasar untuk tetap bertahan: beradaptasi.

Baca juga: Serambi Indonesia, Korannya Orang Aceh

Itulah yang terus mereka lakukan sepanjang zaman, bahkan di saat era koran cetak mulai memasuki masa senja, Serambi Indonesia masih tetap hadir bersama warga. Tidak hanya dalam bentuk fisik di setiap pagi harinya, melainkan juga dalam versi website, media sosial aplikasi, dan juga radio. Melihat hal itu, saya meyakini Serambi Indonesia akan terus bersama masyarakat Aceh dalam usia yang lama.

Saya pun bergembira akan hal itu.

*) Bung Alkaf, Esais

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved