Breaking News:

Kupi Beungoh

Koes Plus

Koes Plus menciptakan lagu-lagu riang. Seperti wajah Indonesia. Manis dan Sayang, Kapan-kapan, Diana, Bujangan, Kolam Susu, Why Do You Love Me....

For Serambinews.com
Muhammad Alkaf, Esais Aceh 

Oleh: Alkaf *)

TIDAK ada grup musik di Indonesia yang begitu dikenang kecuali Koes Plus. Sebuah grup band dari Tuban. Beranggotakan tiga Koeswoyo bersaudara: Tonny, Yon, dan Yok plus Murry. Awalnya, grup ini semua beranggotakan anak-anak Koesyowo senior, tiga nama di atas bersama Jon dan Nomo. Jon kakak tertua dari keluarga Koeswoyo. Dia lebih memilih bekerja sebagai pegawai sebuah jawatan. Tinggal adik-adiknya berempat.

Mereka membuat grup band dengan nama Koes Bersaudara. Yon menjadi vocalis utama. Dibantu Yok sebagai backing vocal. Kedua suara ini, oleh Tonny, dibuat harmoni. Seperti Don dan Phil di Everly Brothers. Sedangkan Nomo menabuh drum.

Dari keempat personil itu, Tonny paling jenius. Dia menjadi pemimpin Koes Bersaudara. Baginya, bermusik harga mati. Dia tidak ingin bekerja kecuali  dari bermusik. Ketika Nomo memilih berbisnis karena tuntutan hidup, Tonny mencari pengganti adiknya. Pilihannya jatuh ke Murry. Murry awalnya bermain aliran musik rock. Setelah diajak oleh Tonny, dia menjadi drummer yang memberi warna yang lebih kreatif untuk lagu-lagu Koes Plus.

Baca juga: Fiqh Sosial

Baca juga: Santai

Koes Plus dicatat dalam sejarah usic Indonesia sebagai pelopor lagu-lagu ciptaan sendiri. Di era Tonny Koeswoyo bermusik, rata-rata penyanyi di Indonesia lebih memilih membawakan lagu-lagu dari Barat. Enggan mencipta dan membawakan lagu sendiri.

Koes Plus, sebelumnya Koes Bersaudara, mendobrak kebekuan itu. Sangking berkesannya menciptakan dan menyanyikan lagu ciptaan sendiri, Tonny Koeswoyo mengarang sebuah lagu dengan judul, “Laguku Sendiri.” Awalnya, lagu itu berasal dari salah satu album Koes Bersaudara. Kelak, bersama Koes Plus, lagu itu direkam ulang di dalam album History of Koes Brothers.

Di masa Koes Bersaudara, mereka pernah dimasukkan dalam penjara oleh rezim Demokrasi Terpimpin. Saat itu, Sukarno lagi menggalakkan anti imperialisme dan kolonalisme. Tesis sukarno mengatakan negara-negara imperialis sedang membangun model imperialisme dan kolonialisme baru. Neokolim. Salah satunya melalui infiltrasi kebudayaan.

Sukarno yang mengusung agenda Trisakti, yaitu adanya Berkepribadian dalam Berkebudayaan, melihat kalau musik-musik dari Barat adalah racun untuk generasi muda. Namun, di saat yang sama, anak-anak muda Indonesia sedang tergila-gila dengan gaya, mode, dan berkesenian yang datang dari Barat. Koes Bersaudara salah satunya.

Baca juga: Disrupsi Digital dan Kita

Baca juga: VIDEO Komunitas Motor Hustle Rider Banda Aceh Sunday Morning Ride ke Objek Wisata Ujong Pancu

Tonny dan adik-adiknya sedang giat bermusik. Kiblat mereka adalah The Beatles dan Everly Brothers. Akibat dari itulah mereka dipenjara. Koes Bersaudara dijebloskan ke dalam bui karena membawa lagu ngak-ngek ngok. Ejekan Sukarno untuk bermusik ala The Beatles.

Cerita kalau Koes Bersaudara dipenjara oleh Sukarno karena membawakan lagu-lagu The Beatles itu begitu menyejarah. Namun, Yok Koeswoyo membantah cerita itu. Yok, satu-satunya personil Koes Plus yang masih hidup, mengatakan mereka dipenjara bukan karena dibenci oleh Sukarno, melainkan sebagai tugas yang akan diberikan kepada mereka dalam agenda Ganyang Malaysia. Jadi, Koes Bersaudara akan menjadi “agen” yang disusupkan ke Malaysia. Rencana itu gagal. Sukarno jatuh setelah peristiwa Gerakan Satu Oktober.

Selepas dari penjara, Koes Bersaudara bertransformasi menjadi Koes Plus – setelah Murry menggantikan Nomo. Transformasi yang terjadi tidak hanya pergantian personel, melainkan juga orientasi bermusik mereka. Koes Plus menjelma menjadi juru bicara keindonesiaan melalui lagu-lagunya.

Koes Plus menciptakan lagu-lagu riang. Seperti wajah Indonesia. Manis dan Sayang, Kapan-kapan, Diana, Bujangan, Kolam Susu, Why Do You Love Me. Lagu-lagu Koes Plus seperti menjadi magnet. Selalu dinyanyikan oleh manusia Indonesia bahkan dalam mimpi sekalipun. Lagu-lagu Koes Plus melalui suara Yon Koesyowo, meminjam kalimat utuh Emha Ainun Nadjib, “… melagukan keindahan otentik yang sudah bersemayam di hati kebanyakan orang.”

Baca juga: Umumkan Dirinya Adalah Imam Mahdi, Seorang Pria di Aceh Utara Diamankan Massa 

Melalui Koes Plus pula, kita memahami gerak keindonesiaan. Grup band ini menggambarkan keindonesiaan itu dengan lagu Nusantara. Koes Plus menciptakan lagu dengan judul Nusantara dari 1-13.

Liriknya kuat. Perhatikan saja salah satu lirik dari lagu Nusantara 1 “Hutannya lebat seperti rambutku/ Gunungnya tinggi seperti hatiku/ Lautnya luas seperti jiwaku/Alamnya ramah seperti senyumku.”  Bahkan lagu ini mulai diputar ulang kembali secara luas setelah Jokowi meresmikan nama Ibu Kota baru di Kalimantan: Nusantara.

Koes Plus merupakan hadiah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Selamat Hari Koes Plus Nasional.

*) Bung Alkaf, Esais

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved