UMKM
Usaha Mie Kuning di Aceh Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Pandemi Covid-19
Ia bercerita, sebelum pandemi Covid-19 biasanya memproduksi mie kuning hingga 1 ton lebih per hari untuk dipasarkan kepada para pemilik warung mie Ace
Terlebih saat ini harga minyak goreng yang menjadi salah satu bahan pengolahan mie mentah sedang meroket, meski demikian ia tak pernah menaikan harga ke pembeli maupun pelanggan.
Setiap harinya Tengku Rahman menghabiskan sekitar 18 sak tepung dan 10 kg minyak goreng untuk dijadikan bahan membuat mie kuning mentah di usaha yang digelutinya.
Bersama empat karyawan, ia sudah memulai usaha tersebut sejak 28 tahun silam.
Keempat karyawan tersebut bekerja sejak pukul 6.00-11.00 WIB, kemudian dilanjutkan pada jam siang mulai 14.00-16.00 WIB sore hari.
Mereka semua dibayar dengan gaji per hari. Menurutnya, membayar kikis keringat pekerja sebelum keringat mereka kering menjadi keringanan dan keberkahan dalam usahanya.
Hingga kini, ada puluhan warung mie Aceh yang menjadi langganan usaha Tengku Rahman.
Ia berujar, salah satu langganannya Mie Ayah yang jadi warung legendaris di Banda Aceh.
Menjadi pilihan banyak pelanggan karena klaimnya tak menggunakan formalin dalam mie mentah yang diproduksinya.
"Mie kami tidak pakai formalin, makanya cuma bertahan sehari saja. Kalau mie lain bisa tahan sampai sebulan," ujar Tengku Rahman.
Ia tak bisa memprediksi apakah usaha mie kuning Aceh ini dapat terus bertahan ke depan.
Meski demikian, selama menghindari keburukan atau tidak berbuat culas dalam berusaha, biasanya rezeki akan terus mengalir dan jualannya dilancarkan.
Hal ini yang kemudian menjadikan kunci sukses Tengku Rahman bertahan hingga 28 tahun di usaha tersebut.
"Bikin yang baik-baik aja, ambil yang halal-halal saja. Insya Allah berkah dan tahan lama," pungkasnya.(*)