UMKM

Usaha Mie Kuning di Aceh Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Pandemi Covid-19

Ia bercerita, sebelum pandemi Covid-19 biasanya memproduksi mie kuning hingga 1 ton lebih per hari untuk dipasarkan kepada para pemilik warung mie Ace

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/Sara Masroni
Pekerja sedang berjibaku dalam rukoh seukuran 6x10 meter membuat mie kuning. 

Laporan Sara Masroni | Aceh Besar

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Empat pria sedang berjibaku dalam rukoh seukuran 6x10 meter.

Ada yang sedang menggiling, mengaduk, sebagian sedang mencampuri minyak goreng dan yang lain sedang meniriskan dari tungku serta membungkus ke puluhan plastik berwarna biru.

Mie kuning Aceh, sebagian menyebutnya mie kuning basah atau mie mentah.

Selama dua tahun ini, usaha mie kuning di Aceh tetap bertahan walau dihantam pandemi.

Muslim Moeis: Seharusnya Pedagang Mie Aceh Bebas, Karena tak Berniat Bunuh Preman Bertato

Adalah Abdul Rahman (54) atau biasa dipanggil Tengku Rahman, pemilik salah satu tempat penggilingan mie mentah di sekitaran Jalan Masjid menuju Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar yang dinamai Usaha Mie Utama.

Ia bercerita, sebelum pandemi Covid-19 biasanya memproduksi mie kuning hingga 1 ton lebih per hari untuk dipasarkan kepada para pemilik warung mie Aceh atau masyarakat biasa di sekitaran Aceh Besar dan Banda Aceh.

Saat puncak pandemi pertengahan 2020 lalu, usahanya sempat terpukul.

Ia pernah memproduksi hanya 300 kg mie kuning saja per harinya atau terpangkas 70 persen.

Sementara di tahun 2021 hingga saat ini, terutama pasca pelonggaran pembatasan sosial, usahanya mulai membaik.

VIDEO Bertemu Pelaku Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno Sebut Mie Aceh Bisa Mendunia

Produksi mulai berkisar di antara 700-900 kg per hari seiring dibukanya warung-warung mie Aceh.

Selama pandemi hingga kondisi kasus Covid-19 mulai melandai, Tengku Rahman mengaku bertahan sekuat mungkin untuk tetap memproduksi mie kuning.

Ia berujar, tak masalah untung sedikit, yang penting pembeli tetap senang dan harga mie kuningnya tidak naik.

"Walau kondisi sedang sangat terjepit, saya tetap jual mie mentah 8 ribu (rupiah) per kilo. Untung tipis, kita sabar saja karena sayang masyarakat kalau dinaikkan," ungkapnya saat ditemui Serambinews.com, Kamis (17/2/2022).

Tengku Rahman mengungkapkan, dalam sehari berjualan ia hanya dapat keuntungan bersih Rp 200.000 saja. Katanya, lebih baik untung sedikit tapi tidak ada beban, daripada untung banyak tapi utang di mana-mana.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved