Sabtu, 18 April 2026

Berita Nasional

Harga Kedelai Terus Naik Perajin Tempe Mogok Produksi

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin menyatakan, para perajin tahu dan tempe

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/HERIANTO
Stok kacang kedelai impor di sebuah toko di Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar. Harga jualnya Rp 550.000 per zak (50Kilogram) 

JAKARTA - Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin menyatakan, para perajin tahu dan tempe akan mogok produksi pada 21-23 Februari 2022.

"Total tiga hari kami tidak produksi dan tidak dagang," ungkapnya, Sabtu (19/2/2022).

Ia mengatakan, selama ini para perajin tahu dan tempe menjalin erat kekeluargaan dan gotong royong serta berkoperasi, sehingga mogok produksi nantinya akan dilakukan serentak.

Aip menjelaskan, untuk tempe sendiri bahkan produksinya sudah dihentikan sejak hari ini.

Sebab, produksi tempe membutuhkan waktu tiga hari sehingga pada 21 Februari nanti sudah tidak ada tempe yang dijual.

Alasan aksi mogok tersebut karena harga kedelai yang saat ini tinggi.

Ia berharap setelah mogok produksi, harga kedelai bisa turun kembali di bawah Rp 10 ribu per kilogram.

"Harapan kami supaya itu yang namanya kedelai turun menjadi di bawah Rp 10 ribu lagi," ujar Aip.

Sebelumnya, para perajin tahu dan tempe di sejumlah daerah di Tanah Air berencana mogok produksi dan berdagang pada 21-23 Februari 2022.

Rencana tersebut tak lepas dari harga kedelai yang naik.

Aksi rencananya akan diikuti oleh 4.500 produsen tahu dan tempe.

Terdapat dua tuntutan yang akan disampaikan.

"Tuntutannya pertama stabilitas harga, kedua turunkan harga.

Baca juga: Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Lambaro, Tomat dan Kedelai Melambung Tinggi

Baca juga: Harga Telur Ayam Ras Turun, Kacang Kedelai Naik, Produsen Perkecil Ukuran Tahu dan Tempe

Karena dengan harga tinggi, pembeli tempe dan tahu lemah (daya beli)," katanya.

Ia menambahkan, dalam aksi mogok produksi itu, pihaknya juga akan mengeluarkan pernyataan produsen tempe dan tahu di Jakarta yang akan menaikkan harga jual selepas 23 Februari 2022 untuk menutup ongkos produksi.

Hal itu dilakukan sebagai pilihan terakhir karena kenaikan harga kedelai impor yang membanjiri pasaran tidak kunjung turun.

Pekerja memasukan cairan kedele ke dalam kantong penyaringan saat proses pembuatan tahu di Jalan Taman Sari Baru, Seutui, Banda Aceh, Senin (19/8).  Pengusaha tahu dan tempe terancam gulung tikar karena bahan bahan baku kedelai naik tajam dari Rp 6.500 per kilogram menjadi Rp 8.000 per kilogram.
Pekerja memasukan cairan kedele ke dalam kantong penyaringan saat proses pembuatan tahu di Jalan Taman Sari Baru, Seutui, Banda Aceh, Senin (19/8). Pengusaha tahu dan tempe terancam gulung tikar karena bahan bahan baku kedelai naik tajam dari Rp 6.500 per kilogram menjadi Rp 8.000 per kilogram. (SERAMBI/BUDI FATRIA)

Sementara, Kementerian Perdagangan menyatakan harga kedelai naik karena mengikuti pasar internasional.

Kenaikan terjadi akibat ketidakpastian cuaca dan inflasi bahan makanan di AS, salah satu eksportir utama kedelai dunia.

Karena masalah tersebut, harga kedelai jadi naik.

Kemendag memperkirakan kenaikan kemungkinan terjadi sampai Mei 2022 ke level 15,79 dollar AS per bushel.

Harga itu kemungkinan baru turun pada Juli mendatang dan itu pun tak signifikan.

Menurut perkiraan Kemendag, harga hanya akan turun ke level 15,74 dollar AS per bushel di tingkat importir.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan mengatakan kenaikan harga di level internasional itu berdampak ke Indonesia karena 80 persen kebutuhan kedelai di dalam negeri yang salah satunya untuk tahu tempe, didatangkan dari impor. (cnnindonesia)

Baca juga: Harga Kedelai Terus Melambung

Baca juga: Produsen Tempe Keluhkan Kenaikan Harga Kedelai Empat Kali dalam Satu Bulan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved