Kisah Abu Nawas Pindahkan Istana Raja Ke Puncak Gunung, Bagaimana Caranya?

Prajurit istana yang diutus langsung menuju rumah Abu Nawas dan memberi tahu permintaan raja.

Editor: Faisal Zamzami
wikipedia
Foto ilustrasi: Abu Nawas,Nasrudin Hoja, dan Syekh Bahlul 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Abu Nawas, seorang sufi yang terkenal cerdik dalam dunia Islam, mendapatkan tugas berat dari Raja Harun Ar-Rasyid, yakni disuruh memindahkan istana kerajaan dalam waktu yang singkat.

Apalagi, sang raja kali ini yakin akan mengalahkan kecerdikan Abu Nawas yang sudah dikenal banyak orang.

"Panggil ke sini si Abu Nawas. Kasih tahu, waktu dia satu bulan untuk memindahkan istana ini ke puncak gunung, jika tidak berhasil, maka akan aku hukum!" ucap Baginda Raja.

Prajurit istana yang diutus langsung menuju rumah Abu Nawas dan memberi tahu permintaan raja.

"Tidak perlu menunggu satu bulan, hari ini juga istana Baginda Raja akan aku pindahkan" jawab Abu Nawas dengan enteng.

Sontak, para prajurit kebingungan. Bagaimana caranya?

Abu Nawas lantas berjalan beriringan dengan prajurit menuju istana Baginda Raja.

Singkat cerita, ia pun sampai di istana.

"Apakah semua penghuni sudah siap untuk pemindahan ini Baginda?" tanya Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas, kamu bilang ‘Kalau bisa dimulai sekarang, kenapa harus menunggu satu bulan lagi?’" jawab Baginda Raja.

Abu Nawas mengaggukan kepala. Raja curiga.

Baca juga: Kisah Sheikh Abrar, Mahasiswa India yang Terjebak di Gedung Asrama di Ukarina: Kami Butuh Bantuan

Baca juga: Kisah Pria Curi Kotal Amal Berisi Rp 75.000 untuk Berobat Ibu, Dibebaskan dengan Restorative Justice

Cara Abu Nawas Memindahkan Istana Raja

Abu Nawas lantas duduk dengan posisi seperti atlet pelari sambil berkata keras: "Ayo, siapa yang kuat mengangkat istana ini ke pundakku, maka akan aku pindahkan ke puncak gunung sekarang juga!".

Baginda Raja bersama seluruh pembesar istana hanya melongo dan saling pandang melihat tingkah Abu Nawas.

Raja Harun Ar-Rasyid terdiam, lantas tertawa dengan keras.

Orang-orang kebingungan. 

"Ternyata kali ini kau tetap bisa lolos dari lubang jarum wahai Abu Nawas," ungkap Raja

Tentu saja, siapa pun tidak bisa memindahkan gunung.

Analogi Abu Nawas yang meminta sema orang mengangkat istana ke punggungnya justru membuat sang raja akhirnya justru memberikan dia emas.

Mengenal Sosok Abu Nawas

Abu Nuwas atau Abu Nawas adalah seorang penyair Islam termasyhur di era kejayaan Islam. 

 Diperkirakan, Abu Nuwas terlahir antara tahun 747 hingga 762 M.

Ada yang menyebut, tanah kelahirannya di Damaskus, ada pula yang meyakini Abu Nuwas berasal dari Bursa.

Versi lainnya menyebutkan dia lahir di Ahwaz.

Yang jelas, Ayahnya bernama Hani seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan I-Khalifah terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus.

Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun yang berasal dari Persia.

Sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nuwas tak pernah bertemu dengan sang ayah.

Ketika masih kecil, sang ibu menjualnya kepada seorang penjaga toko dari Yaman bernama, Sa'ad al-Yashira.

Abu Nuwas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basra, Irak.

Sejak remaja, otak Abu Nuwas yang encer menarik perhatian Walibah ibnu al-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang.

Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nuwas dari tuannya.

Sejak itu, Abu Nuwas pun terbebas dari statusnya sebagai budak belian.

Al-Hubab pun mengajarinya teologi dan tata bahasa. Abu Nuwas juga diajari menulis puisi.

Sejak itulah, Abu Nuwas begitu tertarik dengan dunia sastra.

Ia kemudian banyak menimba ilmu dari seorang penyair Arab bernama Khalaf al-Ahmar di Kufah.

Setelah itu, dia hijrah ke Baghdad yang merupakan metropolis intelektual abad pertengahan di era kepemimpinan Khalifah Harun ar-Rasyid.

Karier Abu Nuwas di dunia sastra mulai mencuat setelah kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid.

Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nuwas akhirnya diangkat menjadi penyair istana (sya'irul bilad). Abu Nawas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah.

Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuatnya menjadi seorang legenda.

Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001 malam.

Meski sering ngocol, ia adalah sosok yang jujur.

Tak heran, bila dia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam. Kedekatannya dengan khalifah membuatnya berakhir di penjara.

Suatu ketika, Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murka.

Sejak mendekam di penjara, puisi-puisi Abu Nawas berubah menjadi religius.

Kepongahan dan aroma kendi tuaknya meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah.

Syair-syairnya tentang pertobatan bisa dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang tinggi.

Sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan.

Puisi serta syair yang diciptakannya menggambarkan perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah.

Kehidupan rohaniahnya terbilang berliku dan mengharukan.

Setelah 'menemukan' Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan.

Di akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud.

Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya terdapat beragam versi antara 806 M hingga 814 M.

Ia dimakamkan di Syunizi, jantung Kota Baghdad. Abu Nuwas adalah salah seorang sastrawan Arab terbesar.

Kisah ini dinukil dari buku "Kisah 1001 Malam Abu Nawas Sang Penggeli Hati" karangan MB Rahimsyah.

Baca juga: Ikatan Dzuriyyah Rasulullah Aceh Peringati Milad ke-2 dengan Perayaan Israk Mikraj 1443 H

Baca juga: ASN Harus Siap Dipindahkan ke Ibu Kota Baru, Pemerintah akan Beri Tunjangan

Baca juga: Inilah 9 Negara yang Memiliki Senjata Nuklir di Dunia, Rusia Terbanyak Punya 4.410 Hulu Ledak

Kompastv

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved