Sabtu, 2 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Belajar Mitigasi Bencana di Stasiun Geofisika Aceh Besar

Masih begitu jelas terngiang dalam ingatan masyarakat Aceh tentang bagaimana dahsyatnya gempa berkekuatan magnitudo 9,3 SR

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
AZWAR ANAS, S.Pd., Pegiat FAMe Chapter Lhokseumawe dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa, melaporkan dari Lhokseumawe 

OLEH AZWAR ANAS, S.Pd., Pegiat FAMe Chapter Lhokseumawe dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sukma Bangsa, melaporkan dari Lhokseumawe

Masih begitu jelas terngiang dalam ingatan masyarakat Aceh tentang bagaimana dahsyatnya gempa berkekuatan magnitudo 9,3 SR yang memicu tsunami pada 2004 silam.

Gempa dahsyat disertai gelombang tinggi tersebut setidaknya menelan sekitar 240.000 jiwa dari sekitar 12 negara yang terdampak.

Tak hanya menelan korban jiwa, tsunami Aceh juga meninggalkan trauma dan duka yang mendalam bagi masyarakat Aceh akibat kehilangan saudara, keluarga, hingga harta benda.

Beberapa mahasiswa semester I Prodi Ilmu Komputer Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh menciptakan tiga rangkaian alat elektronika berbasis pemrograman. Alat yang dinamakan
Beberapa mahasiswa semester I Prodi Ilmu Komputer Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh menciptakan tiga rangkaian alat elektronika berbasis pemrograman. Alat yang dinamakan "water level censor" ini mampu mendeteksi ketinggian air dan dapat digunakan untuk mitigasi bencana, terutama ancaman banjir. (FOR SERAMBINEWS.COM)

Kini 17 tahun sudah tsunami Aceh berlalu.

Proses rekonstruksi dan penataan kembali Aceh sudah selesai, bahkan infrastruktur yang dibangun pascatsunami jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Namun, apakah pembangunan manusia di Aceh, khususnya dalam sektor kebencanaan juga sudah seutuhnya kembali? Jika ditinjau dari letak geografis, Aceh, khusunya Indonesia, berada pada wilayah tiga lempeng bumi, yaitu Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia, sehingga mengakibatkan banyaknya gunung berapi di Indonesia sebagai akibat dari aktivitas lempeng-lempeng tersebut.

Selain itu, Indonesia juga dilalui oleh dua jalur pegunungan, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania yang akan berdampak pada intensitas terjadinya bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus.

Mengingat negara kita berada di jalur cincin api (ring of fire) dan sangat rawan akan bencana alam, maka perlu kiranya ada penanganan khusus dengan merumuskan strategi yang pragmatis dan berdaya guna untuk membentuk masyarakat yang sadar akan bencana.

Pendidikan merupakan salah satu sektor yang dianggap mampu memberikan solusi terhadap permasalahan ini.

Baca juga: Mahasiswa UBBG Ciptakan Alat Pendeteksi Ketinggian Air untuk Mitigasi Bencana

Baca juga: Pencegahan dan Mitigasi Perlu Ditingkatkan

Sektor pendidikan merupakan hal yang sangat fundamental dalam mengedukasi dan membentuk karakter siswa sebagai elemen masyarakat dengan memberikan pengetahuan tentang mitigasi bencana secara intensif dan berkala.

Memahami tentang mitigasi bencana menjadi amat penting.

Secara umum, tujuan utama dari pendidikan mitigasi bencana adalah untuk mengurangi risiko atau dampak yang ditimbulkan oleh bencana, khususnya bagi penduduk seperti korban jiwa dan kematian, kerugian ekonomi (economy cost) dan kerusakan sumber daya alam.

Mitigasi bencana juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih siaga terhadap bencana dengan mempersiapkan segala sesuatu dalam jangka panjang dan perencanaan yang matang, serta meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awarness) dalam menghadapi serta mengurangi dampak dari bencana sehingga masyarakat dapat hidup dengan aman.

Sebagai upaya untuk memberikan edukasi tentang mitigasi bencana bagi peserta didik, SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe, tempat saya mengajar, berkunjung ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Aceh Besar.

Kunjungan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai tanggap bencana terhadap siswa agar mereka siap dan siaga dalam menghadapi berbagai bencana yang terjadi.

Sesi kunjungan selama setengah hari itu dibagi menjadi dua bagian.

Sesi pertama tentang pengenalan BMKG secara umum dan penyampaian materi tentang mitigasi bencana.

Penyampain materi diawali dengan membuka wawasan siswa tentang letak Indonesia yang secara geografis memang berada dalam kawasan rawan bencana.

Pemateri menunjukkan peta Indonesia dengan deteksi warna daerah-daerah tertentu yang berada dalam zona rawan bencana gempa bumi dan tsunami.

Setelah memahami hal ini, siswa kemudia diberikan pemahaman singkat terkait gempa bumi dan tsunami, seperti karakteristik gempa bumi, kriteria gempa bumi yang dapat menimbulkan tsunami, tanda-tanda tsunami, proses terjadinya tsunami, hingga langkah-langkah tanggap tsunami.

Baca juga: Peringatan 17 Tahun Tsunami Aceh, Sandiaga Ingatkan Upaya Pencegahan dan Mitigasi Perlu Ditingkatkan

Berdasarkan penyampaian materi dari staf BMKG, untuk kejadian gempa bumi masyarakat perlu menyiagakan diri dalam tiga hal sekaliguas, yaitu sebelum, di saat, dan sesudah gempa bumi.

Sebelum gempa bumi terjadi, masyarakat perlu mempersiapkan diri dengan mengenali lingkungan tempat tinggal, misalnya letak pintu dan tangga darurat, serta memahami penggunaan alat-alat P3K dan alat pemadam kebakaran.

Sedangkan saat gempa bumi terjadi masyarakat perlu menghindari kawasan yang mungkin akan terjadi longsor, rekahan tanah, dan bangunan tinggi yang ada di sekitarnya.

Setelah gempa bumi yang perlu dilakukan adalah menjaga diri seperti tidak masuk ke bangunan yang terkena gempa, memeriksa lingkungan sekitar, dan selalu waspada terhadap bencana susulan lainnya.

Poin fundamental dalam sesi penyampaian materi oleh narasumber adalah menyadarkan siswa tentang mitigasi bencana.

Kali ini BMKG mengajak siswa untuk menyiapkan tas siaga bencana.

Tas ini akan digunakan jika suatu saat bencana terjadi tiba-tiba, tanpa prediksi.

Tas siaga bencana dimaksud terdiri atas beberapa benda penunjang hidup selama terjadinya bencana, seperti kotak P3K, makser, makanan ringan, handphone dan charger, dokumen pribadi, pakaian, senter, peluit, hingga radio.

Benda-benda tersebut merupakan kebutuhan primer masyarakat saat bencana terjadi.

Sehingga, semuanya sangat perlu dipersiapkan dengan matang.

Setelah penyampaian materi selesai, selanjutnya seluruh siswa dipersilakan mengunjungi beberapa ruangan yang digunakan oleh Stasiun Geofisika Aceh Besar dalam memantau dan mendeteksi bencana alam di Aceh.

Baca juga: BUMD Perlu Waspadai dan Mitigasi Risiko pada Tujuh Sektor Ini

Siswa dibawa ke sebuah ruangan yang dilengkapi dengan komputer-komputer pemantau aktivitas bumi, termasuk seismograf berbasis digital.

Dari sinilah BMKG saat ini dapat dengan cepat memberikan informasi kepada masyarakat tentang gempa bumi, bahkan potensi tsunami yang mungkin terjadi akibat gempa dengan adanya bantuan teknologi ini.

Bahkan yang sangat mencengangkan, Stasiun Geofisika Aceh Besar juga masih menyimpan seismogram hasil catatan seismograf gempa bumi Aceh pada 2004 silam.

Terlihat bagaimana dahsyatnya hasil catatan gempa hingga bagian seismogram rusak akibat kuatnya alat pencatat bekerja.

Seismogram ini sudah dibingkaikan dan dipajang, hingga semua pengunjung dapat melihatnya secara nyata.

Memahami tentang mitigasi bencana sangatlah penting, karena setiap orang memiliki tanggung jawab pribadi untuk menjaga diri dan lingkungannya, baik itu sebelum, di saat, maupun setelah bencana berlangsung.

Terima kasih BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar, telah memberikan kami edukasi yang sangat luar biasa terkait mitigasi bencana.

Salam siaga bencana sejak dini!

Baca juga: Banda Aceh Miliki Alat Mitigasi Tsunami Canggih

Baca juga: Diklaim Bisa Akses Data Secara Realtime, Banda Aceh Pasang Alat Mitigasi Tsunami di Ulee Lheu

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved