Masjid Bersejarah
Kisah Masjid Quba Bebesen yang Dibangun Habib Syarif dari Arab hingga Dibakar PKI
Mereka ini kemudian meneruskan perjalanan sampai ke Peudada, lalu mengikuti aliran sungai Peudada, sampai ke Pantan Lah, sekarang kawasan Aceh Tengah
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Fikar W Eda l Jakarta
SERAMBINEWS COM, JAKARTA - Pusat Kajian Kebudayaan Gayo menggelar Webinar “Menguak Sejarah Masjid Quba Bebesen” Kamis (7/4/2022) salah satu masjid tertua di Aceh Tengah.
Menghadirkan narasumber peneliti Masjid Quba Bebesen Yusradi Usman al-Gayoni dan keturunan kelima Habib Syarif, perintis pembangunan Masjid Bebesen, Tgk. T Said Lidansyah, dengan moderator Iwan Bahagia.
Tgk. T. Said Lidansyah, mengungkapkan, pembangunan Masjid Bebesen dirintis Habib Syarif, orang Arab, berasal dari Mekkah, bukan berasal dari Yaman atau Hadramaut.

Tgk T Said Lidansyah menuturkan, Habib Syarif, bersama istri, dua anaknya—Habib Muhammad Jalung dan Habib Yusuf—dan seorang pengikut, penghafal Quran, Syeh Mahmud, hijrah ke Aceh, tepatnya, di Ie Leubeu, Pidie dari Arab. Setelah menguasai bahasa Aceh, dari Pidie, Habib Syarif dan rombongan ke Ulim, Paya Tui, Pidie Jaya.
• Parah! Masjid Bersejarah Peninggalan Tuanku Radja Silang di Aceh Tamiang Dicoret Kata-kata Hinaan
"Mereka ini kemudian meneruskan perjalanan sampai ke Peudada, lalu mengikuti aliran sungai Peudada, sampai ke Pantan Lah, sekarang kawasan Aceh Tengah,” kata Lidansyah.
Dari Pantan Lah, lanjutnya, Habib Syarif ke Jalung (sebelumnya bernama Kala Ali-Ali), sampai ke Serempah, Ketol.
“Di Serempah, Habib Syarif lama menetap, sempat bercocok tanam, bersawah. Karena ada warga dan pemukiman, Habib Syarif kemudian membangun masjid, untuk lebih menyiarkan Islam. Orang-orang berdatangan ke Ketol, dari Bebesen, Tunyang, dan lain-lain. Orang ingin tahu sosok Habib Syarif dan mendalami agama Islam,” sebutnya.
Di antara jamaah yang datang dari Bebesen, lanjut Lidansyah, ada yang mengajak Habib Syarif untuk ke Bebesen.
“Habib Syarif pun kemudian mengiyakan ajakan jamaah asal Bebesen tersebut dan pindah ke Bebesen."
Di Bebesen, Habib Syarif awalnya tinggal di Pejebe. Dari Pejebe, Habib Syarif pindah ke Kampung Bebesen. Baru kemudian Habib Muhammad, Syech Mahmud, dan keluarga menyusul dari Ketol ke Bebesen.
Karena melihat aliran air yang bagus di sebelah utara masjid sekarang, Habib Syarif membuat sumur untuk kebutuhan masyarakat Bebesen dan sekitarnya, dikenal dengan Telege Monyeng (Monyeng atau Munyang dalam Bahasa Gayo, merujuk ke Habib Syarif).
“Habib Syarif juga membawa tiga buah Alquran. Yang satu dibawa Habib Yusuf. Yang dua tinggal di Bebesen, satu dipegang oleh cucu Habib Syarif, yaitu anak Habib Muhammad, Syarifah Nurullah (kuburannya di Bur Ucak, Bur ni Kercing). Syarifah Nurullah mengajar ngaji khusus kaum perempuan di Bebesen. Dari situ lah asal mula joyah. Dulu, masih kecil. Banyak yang datang belajar untuk mengaji, dari Tunyang, menginap, membawa perbekalan, belajar mengaji, sampai sebulan di Bebesen,” sebut Lidansyah.
Anak Habib Syarif, Habib Muhammad Jalung mempunyai delapan anak, tertua Syarifah Nurullah, Habib Murasyaf, Habib Harbi, Habib Krueng, Habib Ahmad (Habib Item, makamnya di belakang Masjid Quba Bebesen), Habib Husin, Syarifah Obit, dan Syarifah Hadijah yang bersuamikan Habib Abdillah.
“Habib Abdillah ini yang menurut Syarifah Luluk (cucunya Habib Muhammad Habib Jalung) yang merintis pembangunan masjid tua Asir-Asir. Habib Syarif meninggal sekitar tahun 1850, sementara Habib Muhammad Jalung meninggal tahun 1887. Saya sependapat dengan Yusradi, Masjid Bebesen dibangun sekitar akhir 1700 atau awal 1800, merujuk tahun meninggalnya Habib Syarif,” tutur Lidansyah.