Kupi Beungoh
Catatan Perjalanan Ramadhan - Istanbul, Rue de la Roquette, Haarlemmerstraat, dan St. Mar’sk Square
Istanbul Turki - Ramadhan di Besiktas bagi saya sudah cukup untuk melihat Eropa, tak usah ke Inggris, Belanda, Paris, apalagi Italia
Ia memberi tahu saya tempat kami menginap ini berada di kawasan Besiktas.
Anak saya mengatakan, mungkin kita harus pindah setelah malam besok, “ayah mungkin ngak bisa tidur, karena ada nyanyian dan musik sampai tengah malam”.
Saya mulai “curiga”, namun tak memberi reaksi cepat.
Saya menjawab “baik, besok kita lihat, baru kita putuskan”.
Saya tertidur pulas kecapean semenjak jam tujuh pagi, dan baru bangun menjelang ashar.
Untung saja ada fasilitas “jamak takhir” sehingga puasa saya menjadi lengkap.
Begitu siap mandi, shalat, dan berpakaian anak saya menyodorkan alternatif “itinerary” - rencana rute atau perjalanan yang telah disusun untuk hari pertama itu.
Ada banyak pilihan, tetapi saya segera memilih Hagia Sophia, dan kami berlima plus cucu kecil saya yang baru berumur dua tahun untuk datang ke tempat yang paling bersejarah itu.
Kami turun ke bawah, dan membuka pintu, keluar dari lorong kecil apartemen.
Baca juga: VIDEO Biaya Hidup di Turki Menurut Mahasiswa Aceh yang Kuliah di Bursa
Jam menunjukkan pada angka 5 .20 sore hari, masih ada waktu lebih dari 2,5 jam sebelum buka puasa.
Dari dalam lorong terlihat di ujung ada dua tiga meja kosong dan kursi tertata rapi dengan alas meja putih yang indah.
Ada gelas dan piring berikut dengan serbet yang sangat teratur, juga berwarna putih.
Semua tak kurang ibarat sebuah jamuan formal sedang disiapkan, apalagi sambil menunggu cucu saya turun dengan ibunya, ada satu dua waiters-pelayan yang lalu lalang dengan pakaian yang juga tertata rapi.
Dalam hati saya “bukan main persiapan buka puasa di negeri ini”.
Bangunan tokonya sederhana, klasik, akan tetapi pengaturan kaki limanya, persis seperti hotel bintang lima, bukan main.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-ahmad-humam-hamid-aceh-2.jpg)