Breaking News:

Kupi Beungoh

Catatan Perjalanan Ramadhan - Istanbul, Rue de la Roquette, Haarlemmerstraat, dan St. Mar’sk Square

Istanbul Turki - Ramadhan di Besiktas bagi saya sudah cukup untuk melihat Eropa, tak usah ke Inggris, Belanda, Paris, apalagi Italia

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Kata “ barat” dalam khazanah peradaban Islam, bahkan sampai dengan hari ini, berasosiasi dengan sesuatu yang licik, jahat, penindas, dan bahkan sampai kepada ungkapan ‘kafir” dengan segala keburukannya.

Hal itu sangat mudah dimengerti, karena psikologi sejarah umat Islam adalah kaum yang ditindas, dijajah, ditipu, diadu domba, dan berbagai ungkapan keburukan lain yang dilakukan terhadap umat Islam, terutama semenjak abad ke 18 oleh bangsa-bangsa Eropa.

Ingat saja kasus pemaksaan pindah agama yang membuat Islam di Filipina, kecuali Filipina Selatan, yang dipaksa menjadi pemeluk Katholik oleh penjajah Spanyol.

Untung saja motif ekonomi lebih berperan dalam model penjajahan Inggris ataupun Belanda, sehingga tidak ada cerita “inkusisi”-hukuman mati bagi yang tak mau pindah agama ala Spanyol- yang berlaku di Andalusia pada abad ke 15.

Inggris dan Belanda, menurut sejarah, memang mengizinkan para misionaris untuk “berdakwah”, namun kedua negara itu hanya melindungi, tidak mensponsori pemindahan agama.

Ini sangat berbeda dengan kasus Spanyol misalnya, di mana seluruh kawasan Amerika Latin dipaksa menjadi penganut agama Katholik, dengan bermacam ragam cara.

Demikian juga yang terjadi di Filipina pada abad pada abad ke 17, Islam sebagai “agama langit pertama” yang ada di Filipina, kemudian terhapus seiring dengan penjajahan Spanyol.

Baca juga: Shalat Tarawih Perdana di Masjid Hagia Sophia Turki Dalam 88 Tahun

Kerajaan Tagalog, yang berpusat di Maynila- Manila hari ini, yang berstatus negara protektorat Kerajaan Brunai, menganut agama Islam, di bawah Raja Sulaiman.

Tidak lama setelah kedatangan Magelhens pada tahun 1519, yang kemudian diikuti oleh Miguel de Lopez Legazpi 46 tahun kemudian-1565, sejarah merobah pulau-pulau Luzon, Visayas, dan Pallawan.

Peta agama berobah menjadi dominasi total Katholik, karena bujukan, dan inkuisisi-pemaksaan.

Hal itu tak terjadi di Pulau Mindanao di Filipina Selatan dan pulau-pulau kecil sekitarnya, karena mereka terus menerus berperang melawan Spanyol dan leguh dengan Islam.

Pikiran ini adalah “endapan” lama yang terus menerus menggelitik saya, semenjak rencana saya ke London mengujungi anak saya yang sedang sekolah, batal karena strain pandemi baru “omicron” sedang bergelantungan di Inggris pada akhir Januari 2021.

Kami bersepakat untuk bertemu di Istanbul yang butuh jam terbang sekitar 2 jam lebih dari London, sama dengan Jakarta-Banda Aceh.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved