Senin, 20 April 2026

Jurnalisme Warga

Baca Al-Qur’an dengan ‘Lagu Pidie’ Kini Menggeliat Lagi

Jenis lagu Pidie yang dibaca secara lantang betul-betul dilantunkan dengan suara bernada amat tinggi, sedangkan yang lembut serta beralun

Editor: bakri
IST
T.A. SAKTI, Pengelola Bale Tambeh, melaporkan dari Tanjung Selamat, Aceh Besar 

Di gampong Paloh (dekat pasar Pidie, Sigli) tempo dulu sangat terkenal Teungku Hasyem Lampoh Teubei.

Beliau dapat membawakan lagu Pidie dengan merdu sekali.

Begitu pula di seluruh Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, dulu tentu memiliki sejumlah qariqariah yang sangat mahir irama lokal ini.

Setiap kali ada acara selamatan ‘khanduri thon’ (kenduri tahunan), acara pokoknya adalah membaca Qur’an pada waktu malam.

Semua undangan yang menghadiri kenduri setahun sekali itu akan membaca kitab suci Al- Qur’an menurut kemampuan masing-masing Bacaan yang diikuti seluruh peserta adalah hanya sampai saat istirahat atau minum pertama (neulop phon), sedang bagi ronde kedua (khusus) hanya diikuti oleh mereka yang punya suara emas.

Ketika itulah lagu Pidie dilantunkan habishabisan.

Di saat demikian; kopiah atau peci tidak lagi terpasang di kepala, tetapi berubah sebagai kipas angin.

Tuan rumah pun telah menyiapkan beberapa buah kipas kain.

Keringat bercucuran dari semua peserta.

Urat leher membesar sangat kentara (ube sapai).

Begitulah seriusnya mereka membaca Qur’an dengan lagu Pidie.

Keadaan demikian baru berakhir bila jarum jam menunjukkan lewat tengah malam.

Namun, sejak acara kenduri selamatan hanya diisi dengan “samadiah”, yaitu membaca zikir Laila haillallah, “Qulhu” atau surat Al- Ikhlas dan doa, maka semua hal yang menarik ini turut sirna.

Akibatnya, bacaan lagu Pidie sudah amat jarang kita dengar sekarang.

Selain dalam acara-acara kenduri, tempo dulu lagu Pidie juga sering dibawakan di malam bulan Ramadhan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved