Breaking News:

Internasional

Sudan Selatan Diguncang Pembantaian Warga Sipil, Puluhan Orang Tewas

Sudan Selatan diguncang pembantaian warga sipil oleh kelompok militan di sebuah desa. Pria bersenjata melakukan kekerasan mengerikan, mencakup pemeng

Editor: M Nur Pakar
BBC
Lebih dari 50 ribu orang di Sudan Selatan mengungsi akibat konflik 

SERAMBINEWS.COM, JUBA - Sudan Selatan diguncang pembantaian warga sipil oleh kelompok militan di sebuah desa.

Pria bersenjata melakukan kekerasan mengerikan, mencakup pemenggalan kepala dan serangan seksual di sebuah daerah yang bergejolak, kata Misi PBB di Sudan Selatan, Senin (25/4/2022).

PBB telah mendokumentasikan 72 kematian warga sipil dari 17 Februari sampai 7 April 2022 di daerah Leer, Unity State.

Di antara korban, seorang staf lokal dari kelompok kemanusiaan Doctors Without Borders, katanya.

Disebutkan, sebanyak 44 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan berkelompok, tercatat di Leer pada periode yang sama.

Serangan dilakukan oleh pemuda bersenjata dari kabupaten tetangga Koch dan Mayendit.

Baca juga: Warga Sudan Marah, Mantan Diktator Omar al-Bashir Dipindahkan dari Penjara ke Rumah Sakit

"Saya sangat terkejut dengan serangan mengerikan terhadap warga sipil di Leer ini," kata Nicholas Haysom, perwakilan khusus Sekjen PBB untuk Sudan Selatan, dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan keadilan layak mereka terima dan menerima perawatan serta dukungan yang mereka butuhkan.

Pasar, rumah, fasilitas kemanusiaan dan gudang dijarah dan dibakar.

Diperkirakan 40.000 orang telah melarikan diri dari kekerasan di Leer, dengan ribuan dilaporkan menyeberangi Sungai Nil untuk berlindung di negara bagian lain, kata pernyataan itu.

PBB mengatakan telah mengerahkan lebih banyak penjaga perdamaian untuk melakukan patroli rutin di kota Leer.

Sudan Selatan dilanda kekerasan sporadis sejak memperoleh kemerdekaan dari Sudan pada 2011.

Baca juga: Militer Sudan Tangkap Mantan Pejabat untuk Kedua Kali, Kasus Tewasnya Dua Demonstran

Sementara beberapa kekerasan bersifat komunal, dengan kelompok etnis yang bersaing saling membalas di daerah terpencil.

Ketegangan di ibu kota Juba telah meningkat baru-baru ini setelah wakil presiden menuduh presiden melanggar gencatan senjata yang rapuh.

Setelah bertahun-tahun berperang melawan Sudan, Sudan Selatan meraih kemerdekaan pada 2011.

Namun hanya dua tahun kemudian negara baru itu jatuh ke dalam perang saudara yang menewaskan puluhan ribu orang.

Perang saudara berakhir pada 2018 dengan perjanjian damai yang menyatukan Presiden Salva Kiir dan Wakil Presiden Riek Machar dalam pemerintahan persatuan nasional.

Meskipun hubungan keduanya tetap tegang selama menjalankan pemerintahan.(*)

Baca juga: Pemimpin Transisi Sudan Minta Bantuan AS, Eropa Peringatkan Junta Militer Tak Tunjuk PM Sendiri

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved