Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Puasa dan Kewenangan Memilih Takdir

Seperti sudah dijelaskan, di antara hikmah ibadah puasa adalah sarana untuk berlatih mengendalikan emosi dan menahan diri dari berbuat salah

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof Dr Al Yasa’ Abubakar MA, Guru Besar UIN Ar-Raniry 

Diskusi tentang hal di atas, sering mengarah kepada “nasib.

” Apa makna Allah menciptakan dan menentukan nasib atau peruntungan manusia.

Untuk itu, ada dua ujung yang ekstrim.

Sebagian ulama yang disebut jabariah (fatalis) berpendapat bahwa hubungan antara usaha dan kehendak manusia tidaklah efektif, sehingga antara berusaha dan tidak berusaha boleh jadi akan mempunyai ujung yang sama, karena yang menentukan hasilnya adalah Allah SWT.

Allah mengatur semuanya kasus per kasus satu persatu, bukan melalui hukum alam yang ajeg (teori atom).

Sebagian yang lain, yang disebut qadariah (free will) berpendapat bahwa kehendak dan usaha manusia tetap efektif.

Nasib mereka ditentukan oleh usaha dia sendiri.

Allah yang Maha Kaya dan Maha Pemurah akan memberikan takdir sesuai dengan sunnatullah.

Maksudnya, nasib seseorang ditentukan oleh usaha yang sungguh-sungguh, meliputi perencanaan yang baik, dilanjutkan dengan pelaksanaan yang sesuai dengan sifat dan tuntutan perbuatan tersebut.

Bagi kelompok qadariah, pengaturan dan pengetahuan Allah dilakukan melalui dan sunnatullah yang relatif sangat ajeg (teori hukum alam).

Yang sering luput dari perbincangan, takdir baru akan diketahui setelah terjadi.

Manusia tidak akan mengetahui takdirnya sebelum terjadi.

Seseorang tidak pernah tahu kapan dia mati, dimana akan mati, dan dengan cara apa dia akan mati.

Pengetahuan tentang takdir sebelum terjadi adalah hak mutlak Allah yang tidak dapat dicampuri oleh siapapun.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved