Kupi Beungoh

Menjadi Suci di Hari Fitri

Selama bulan Ramadhan, Sepanjang malam menempa diri dengan ibadah, tarawih,  tadarus,  shalat malam, i"tikaf dan ibadah lainnya.

Editor: Amirullah
ist
Ainal Mardhiah, S.Ag. M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh 

Oleh: Dr. Ainal Mardhiah,  S.Ag, M.Ag.

Sebulan penuh,  semua muslim sudah berpuasa disiang hari,  menjaga lisan, menjaga hati, dan pikiran, sebagai tanda, kepatuhan, keta'atan, kecintaan kepada Rabb sang Pencipta.

Juga sebagai tanda penghomarmatan kepada bulan yang sangat mulia,  bulan yang lebih baik dari 1000 bulan lainnya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al Qur'an berikut ini:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam qadar.  Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. (QS. Al-Qadar : 1-3)

Bulan Ramadhan, bulan mendidik rasa simpati dan empati dengan kesusahan juga kesulitan yang dirasakan sesama muslim lainnya yang Allah uji dengan kemiskinan.

Bulan mengasah ukhuwah Islamiyah dengan bersama bersama berpuasa, bersama-sama berbuka puasa, beribadah  wajib bersama-sama,  tarawih bersama-sama, dan ini tidak bisa kita dapatkan kecuali dibulan Ramadhan yang mulia ini.

Baca juga: Pemuda dan Eksistensi Bangsa

Berpuasa bersama tanpa mengenal kasta, tahta, jabatan,  dan kedudukan. Berpuasa bersama tanpa mengenal batas tempat, waktu dan daerah,  semua sama-sama berpuasa.

Selama bulan Ramadhan, Sepanjang malam menempa diri dengan ibadah, tarawih,  tadarus,  shalat malam, i"tikaf dan ibadah lainnya.

Sambil berdiri,  sambil duduk, bahkan ada yang dalam keadaan berbaring karena sakit,  namun tentunya Allah akan memberikan pahala Yang sama

Di bulan yang istimewa ini, Allah berikan banyak kebaikan,  Allah bukakan pintu ampunan untuk segala kesalahan dan Allah hapus segala dosa, sehingga setiap pribadi kembali menjadi fitrah (bersih, suci), menjadi pribadi yang  Bertaqwa kepada Allah SWT.

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.  (QS. Al Baqarah 183).

Baca juga: Kisah Sedih Anak Yatim yang Membuat Nabi Muhammad SAW Terenyuh di Pagi Hari Raya Idul Fitri

Kompetensi yang di harapkan pada orang yang  berpuasa adalah menjadi orang yang  bertaqwa.    Taqwá  adalah istilah dalam Islam yang merujuk kepada kepercayaan akan adanya Allah, membenarkannya, dan takut akan Allah

Ciri-ciri orang bertakwa yang di maksudkan dalam Al Qur'an adalah

A. Orang Bertakwa Itu Beriman kepada Allah SWT.

Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.

Sementara itu ciri-ciri orang beriman itu adalah:

Pertama, sangat sangat cintanya  kepada Allah SWT,  melebihi kecintaan Kepada apapun yang selainnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Al-Anfal ayat 2).

Yang Kedua, mereka itu kusyuk dalam shalatnya.

Karena shalat adalah momen istimewa berjumpa langsung dengan Allah SWT,  sebagai penciptanya, yang melindungi,  yang mencukupi segala kebutuhan,  untuk itu seorang yang beriman berusaha untuk fokus dan kusyu' dalam shalatnya, keimanannya mengajarkan rasa malu dan takut jika hati, pikiran dan perilakunya,  ada untuk selain Allah SWT ketika shalat.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang  kusyu' dalam shalatnya.” (Q.S Al-Mu'minuun: 1-2)

Ketiga,  Senang  Bersedekah.

"Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (Q.S Al-Baqarah : 3).

Keempat,  Malu kepada Allah,  Jika Bermaksiat Segera Bertaubat, dan Tidak Mengulang Lagi.

"Malu Sebagian Dari Imam." (HR.Muslim)

Baca juga: Bagaimana Hukum Hubungan Suami Istri di Hari Raya Lebaran Idul Fitri? Simak Penjelasan Buya Yahya

B. Kepada Orang Bertakwa Allah Mudahkan Rezeki dan Urusannya.

"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. At Thalaq: 2-3).

C. Kepada Orang Bertaqwa Allah Cukupkan Kubutuhannya. 

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At Thalaq: 2-3).

D. Bagi Orang Yang Bertaqwa Tidak Ada Keraguan Terhadap Al Qur'an.

Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah : 1-2).

Oleh karena itu baginya,  Al Qur'an itu adalah pedoman hidup,  artinya Al Qur'an itu, dibacanya dengan baik dan benar sesuai dengan aturan tajwidnya, lalu di dipelajari isi kandungannya, dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,  tau satu ayat dikerjakan satu ayat dan seterusnya.

Mengikuti perintah atau meninggalkan  larangan dalam Al Qur'an baginya, adalah yang utama, dan segalanya, nomor satu, setiap perintah yang  Allah sampaikan dalam Al Qur'an  "kami dengar dan kami ta'at", bukan " kami dengar kami pikir pikir, dan tidak dikerjakan".

Setiap ayat yang dibaca, dipahami sebagai media komunikasi antara Rabb dengan dirinya sebagai makhluk ciptaan,  tidak ada pilihan bagi seorang hamba,   kecuali mendengar,  dan patuh melaksanakannya perintah atau meninggalkan jika itu larangan,  karena keimanannya membuat ia yakin betul, Sang Pencipta tentu tau betul yang terbaik untuk hamba atau ciptaannya.

Dalam pengamalan dengan keterbatasan kita sebagai manusia biasa, ada lelah, ada malas, ada banyak kendala, dan godaan  untuk sami'na wa atha'na kepada Allah SWT. 

Dalam hal ini kita minta pertolongan Allah agar dipermudahkan seperti dalam do'a berikut ini:

Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik

Artinya: Ya Allah, tolonglah aku dalam berzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik pada-Mu

E. Berkesinambungan Dalam Kebaikan

Dalam beramal shaleh, seorang yang bertaqwa, tidak mengenal waktu, tempat dan momen.  Artinya amal shaleh, kebaikan kebaikan yang sudah dikerjakan, dibiasakan, di jaga dibulan Ramadhan, tetap ia jaga, tetap ia laksanakan sepanjang waktu, tidak hanya dibulan Ramadhan saja.

Dengan demikian, pelatihan sebulan penuh selama Ramadhan , dengan menahan hati, menahan diri, menahan semua anggota tubuh dari segala bentuk maksiat kepada Allah SWT, menahan lapar dan dahaga, menghidupkan Ibadah di waktu siang dan malam. Ini tentunya menjadi pencuci jiwa dan raga dari salah dan dosa, sehingga menjadi Fitri, menjadi fitrah atau  suci kembali.

 

*) PENULIS Dr. Ainal Mardhiah, S.Ag, M.Ag adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Ar Raniry Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca juga: Jawaban Taqabbalallahu Minna Waminkum saat Hari Raya Idul Fitri, Apakah Selama Ini Anda Sudah Benar?

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved